Hai semua.. kali ini saya ingin sedikit
bercerita mengenai sebuah pekerjaan yang menurut saya luar biasa. Pekerjaan itu
adalah menjadi seorang pelaut. Ada apa dengan seorang pelaut?
Jika berbicara mengenai psikologis
seseorang tidak akan habisnya, banyak hal yang menarik yang bisa kita ketahui dari
sisi psikologi. Kali ini saya tertarik membicarakan mengenai sisi lain dari seorang
pelaut. Kalian pasti pernah mengenal kartun Popeye kan?, kartun seorang pelaut
yang terkenal di era tahun 90an. Mungkin dari kartun itulah, profesi pelaut jadi
digemari oleh banyak orang, seperti pengalaman yang akan didapatkannya, baik
dari segi teori maupun praktek, penghasilan yang menggiurkan hingga bentuk
tubuh yang selalu terjaga dengan baik dan sehat. Tapi... dari semua hal positif tadi, ternyata ada
juga hal negatif pada diri pelaut, misalnya harus meninggalkan keluarga
berbulan-bulan bahkan mungkin tahunan, kemudian ada yang bilang bahwa pelaut
itu memiliki pasangan di mana-mana, kekhawatiran akan keselamatan di tengah
laut dan kebiasaan dalam mengkonsumsi minuman beralkohol untuk menghangatkan
badannya. Di tengah terjangan ombak maupun badai
laut, bagi pelaut minuman beralkohol itu sangat bermanfaat walaupun
kadang-kadang mereka harus mabuk. Meskipun demikian, sebenarnya sebelum menjadi
seorang pelaut, pihak pemerintah melalui sekolah calon pelaut sudah memberikan
pendidikan yang cukup ketat, baik dari sisi keilmuan maupun norma-norma. Mereka
juga dilarang untuk mabuk ataupun melakukan seks bebas. Biasanya hal buruk yang
dilakukan oleh seorang pelaut, kemungkinan disebabkan karena pengaruh dari para
senior dan lingkungan kerja yang bisa berubah dalam pergaulan.
Saya pernah mengenal
seorang pelaut yang mengatakan bahwa banyak pelaut yang sebenarnya tidak
bercita-cita menjadi pelaut, mereka hanya mengikuti teman-temannya yang
berkeinginan menjadi pelaut. Kebanyakan dari mereka mendapatkan info bahwa
seorang pelaut dapat memperoleh gaji yang besar serta petualangan menarik yang
akan didapatkan. Meskipun demikian, banyak ketakutan lain yang juga dirasakan
oleh pelaut, seperti jika pelaut masih bujangan maka ia takut ditinggal oleh
pacarnya karena pacaran jarak jauh. Kemudian, bagi yang sudah berkeluarga atau
masih tinggal dengan keluarga besar, pelaut harus meninggalkan keluarganya dan hidup
hanya dengan sekelompok kecil, takut akan cemooh orang-orang yang hanya
mengenal sisi negatif pekerjaan pelaut, ketakutan akan badai dan ombak besar. Beberapa
pelaut juga akan kebingungan untuk mengisi aktivitas kesehariannya apabila ia
sudah mendarat dan tidak bekerja untuk memperoleh pemasukan ekonomi. Oleh
karena itu, untuk mensiasati kehidupannya, pelaut harus mempunyai investasi
di darat dalam menunjang kehidupannya saat tidak bekerja, seperti usaha toko
ataupun usaha sesuai dengan bakat dan keadaan masing-masing. Akan rugi sekali
jika sebagai pelaut mempunyai uang hanya ketika bekerja di tengah laut, dan
mendarat dengan banyak uang namun ketika sudah lama tidak berlayar, investasi menjadi
berkurang sedikit demi sedikit dan pada akhirnya tidak dapat menutupi kebutuhan
keluarga lagi. Oleh karena itu, akan lebih baik seorang pelaut dapat mempunyai
usaha lain selain pekerjaan melaut.
Cerita lain lagi
mengenai kehidupan seorang pasangan hidup pelaut yaitu istri pelaut. Karena
kebanyakan pelaut itu adalah laki-laki, sehingga muncul pertanyaan bagaimana
perasaan seorang istri yang jauh dari suaminya dan masalah apa saja yang
mungkin akan terjadi. Saya pernah menangani sebuah kasus keluarga dari istri
pelaut, sebut saja namanya Nani. Karena ditinggal oleh suaminya melaut, Nani
menjadi kesepian, dan cara nya menyibukkan diri adalah bekerja. Ia rela
meninggalkan anaknya untuk pergi bekerja. Dalam keluarganya terlihat kurangnya
afeksi atau kedekatan antar keluarga dan pada akhirnya yang menjadi korban
adalah anaknya. Anaknya kurang mendapatkan perhatian dari ibunya karena ibunya
merasa harus sibuk memikirkan perasaannya sendiri. Dalam beberapa kali
konseling dan terapi pikiran, saya cukup memberikan pemahaman pada sang istri pelaut
bahwa perannya sangat penting dalam keluarga karena perannya akan dua kali
lipat yaitu sebagai ayah dan ibu.
Saya pernah
membaca sebuah penelitian yang mengatakan bahwa salah stu resiko besar yang
harus dihadapi pelaut adalah terbatasnya waktu untuk berkumpul dengan keluarga.
Keith & Schaefer (dalam Fesbach, 1987) mengemukakan bahwa terdapat konflik
peran pada istri-istri yang suaminya memiliki waktu kerja yang panjang karena
dengan demikian kesempatan untuk membangun nilai-nilai keluarga seperti
kedekatan, kehangatan, dan keintiman menjadi berkurang. Banyak lagi
faktor-faktor pendukung terciptanya kepuasan perkawinan yang kurang dapat
dipenuhi seutuhnya oleh seorang suami seperti terbatasnya waktu yang dimiliki
karena tuntutan pekerjaannya. Kondisi dimana istri harus lebih banyak
menanggung beban serta lebih besar bertanggung jawab terhadap kelangsungan
kehidupan rumah tangga seperti istri pelaut akan menyebabkan tidak dapat
dipenuhinya beberapa faktor tersebut di atas.
Dari beberapa
penelitian juga diketahui bahwa tingkat kepuasan perkawinan istri pelaut naik
dan turun silih berganti. Pada umumnya tinggi rendahnya kurva kepuasan
perkawinan istri pelaut dipengaruhi oleh keberhasilan penyesuaian diri istri
terhadap tugasnya baik sebagai istri maupun sebagai istri pelaut. Keberhasilan
pada masa penyesuaian diri berpengaruh pada kuatnya landasan perkawinan
selanjutnya. Selain itu, kurva kepuasan perkawinan juga dipengaruhi oleh
terpenuhinya faktor-faktor yang mendukung terciptanya kepuasan perkawinan,
yaitu afeksi dari suami, keberhasilan anak-anak dalam sekolah dan kelancaran
karir suami, kualitas komunikasi yang buruk dengan suami, faktor sosial, faktor
hubungan intim, faktor peran dan tingkah laku suami yang kurang sesuai dengan
keinginan istri serta faktor kebutuhan istri yang tidak terpenuhi oleh suami,
khususnya kebutuhan untuk dimengerti. Faktor-faktor kepuasan perkawinan yang
tidak dapat dipenuhi oleh suami dapat menimbulkan ketidakpuasan perkawinan yang
dirasakan istri pelaut.
Nah itu sedikit pembahasan saya mengenai
pelaut, maaf jika ada hal yang salah, saya tidak mempunyai niat untuk menyinggung
siapapun. Semoga bermanfaat dan terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda