Sabtu, 06 Februari 2016

Sekilas Mengenai seorang Pelaut

       Hai semua.. kali ini saya ingin sedikit bercerita mengenai sebuah pekerjaan yang menurut saya luar biasa. Pekerjaan itu adalah menjadi seorang pelaut. Ada apa dengan seorang pelaut?
        Jika berbicara mengenai psikologis seseorang tidak akan habisnya, banyak hal yang menarik yang bisa kita ketahui dari sisi psikologi. Kali ini saya tertarik membicarakan mengenai sisi lain dari seorang pelaut. Kalian pasti pernah mengenal kartun Popeye kan?, kartun seorang pelaut yang terkenal di era tahun 90an. Mungkin dari kartun itulah, profesi pelaut jadi digemari oleh banyak orang, seperti pengalaman yang akan didapatkannya, baik dari segi teori maupun praktek, penghasilan yang menggiurkan hingga bentuk tubuh yang selalu terjaga dengan baik dan sehat.  Tapi... dari semua hal positif tadi, ternyata ada juga hal negatif pada diri pelaut, misalnya harus meninggalkan keluarga berbulan-bulan bahkan mungkin tahunan, kemudian ada yang bilang bahwa pelaut itu memiliki pasangan di mana-mana, kekhawatiran akan keselamatan di tengah laut dan kebiasaan dalam mengkonsumsi minuman beralkohol untuk menghangatkan badannya. Di tengah terjangan ombak maupun badai laut, bagi pelaut minuman beralkohol itu sangat bermanfaat walaupun kadang-kadang mereka harus mabuk. Meskipun demikian, sebenarnya sebelum menjadi seorang pelaut, pihak pemerintah melalui sekolah calon pelaut sudah memberikan pendidikan yang cukup ketat, baik dari sisi keilmuan maupun norma-norma. Mereka juga dilarang untuk mabuk ataupun melakukan seks bebas. Biasanya hal buruk yang dilakukan oleh seorang pelaut, kemungkinan disebabkan karena pengaruh dari para senior dan lingkungan kerja yang bisa berubah dalam pergaulan.
       Saya pernah mengenal seorang pelaut yang mengatakan bahwa banyak pelaut yang sebenarnya tidak bercita-cita menjadi pelaut, mereka hanya mengikuti teman-temannya yang berkeinginan menjadi pelaut. Kebanyakan dari mereka mendapatkan info bahwa seorang pelaut dapat memperoleh gaji yang besar serta petualangan menarik yang akan didapatkan. Meskipun demikian, banyak ketakutan lain yang juga dirasakan oleh pelaut, seperti jika pelaut masih bujangan maka ia takut ditinggal oleh pacarnya karena pacaran jarak jauh. Kemudian, bagi yang sudah berkeluarga atau masih tinggal dengan keluarga besar, pelaut harus meninggalkan keluarganya dan hidup hanya dengan sekelompok kecil, takut akan cemooh orang-orang yang hanya mengenal sisi negatif pekerjaan pelaut, ketakutan akan badai dan ombak besar. Beberapa pelaut juga akan kebingungan untuk mengisi aktivitas kesehariannya apabila ia sudah mendarat dan tidak bekerja untuk memperoleh pemasukan ekonomi. Oleh karena itu, untuk mensiasati kehidupannya, pelaut harus mempunyai investasi di darat dalam menunjang kehidupannya saat tidak bekerja, seperti usaha toko ataupun usaha sesuai dengan bakat dan keadaan masing-masing. Akan rugi sekali jika sebagai pelaut mempunyai uang hanya ketika bekerja di tengah laut, dan mendarat dengan banyak uang namun ketika sudah lama tidak berlayar, investasi menjadi berkurang sedikit demi sedikit dan pada akhirnya tidak dapat menutupi kebutuhan keluarga lagi. Oleh karena itu, akan lebih baik seorang pelaut dapat mempunyai usaha lain selain pekerjaan melaut.
       Cerita lain lagi mengenai kehidupan seorang pasangan hidup pelaut yaitu istri pelaut. Karena kebanyakan pelaut itu adalah laki-laki, sehingga muncul pertanyaan bagaimana perasaan seorang istri yang jauh dari suaminya dan masalah apa saja yang mungkin akan terjadi. Saya pernah menangani sebuah kasus keluarga dari istri pelaut, sebut saja namanya Nani. Karena ditinggal oleh suaminya melaut, Nani menjadi kesepian, dan cara nya menyibukkan diri adalah bekerja. Ia rela meninggalkan anaknya untuk pergi bekerja. Dalam keluarganya terlihat kurangnya afeksi atau kedekatan antar keluarga dan pada akhirnya yang menjadi korban adalah anaknya. Anaknya kurang mendapatkan perhatian dari ibunya karena ibunya merasa harus sibuk memikirkan perasaannya sendiri. Dalam beberapa kali konseling dan terapi pikiran, saya cukup memberikan pemahaman pada sang istri pelaut bahwa perannya sangat penting dalam keluarga karena perannya akan dua kali lipat yaitu sebagai ayah dan ibu.
       Saya pernah membaca sebuah penelitian yang mengatakan bahwa salah stu resiko besar yang harus dihadapi pelaut adalah terbatasnya waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Keith & Schaefer (dalam Fesbach, 1987) mengemukakan bahwa terdapat konflik peran pada istri-istri yang suaminya memiliki waktu kerja yang panjang karena dengan demikian kesempatan untuk membangun nilai-nilai keluarga seperti kedekatan, kehangatan, dan keintiman menjadi berkurang. Banyak lagi faktor-faktor pendukung terciptanya kepuasan perkawinan yang kurang dapat dipenuhi seutuhnya oleh seorang suami seperti terbatasnya waktu yang dimiliki karena tuntutan pekerjaannya. Kondisi dimana istri harus lebih banyak menanggung beban serta lebih besar bertanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan rumah tangga seperti istri pelaut akan menyebabkan tidak dapat dipenuhinya beberapa faktor tersebut di atas.
       Dari beberapa penelitian juga diketahui bahwa tingkat kepuasan perkawinan istri pelaut naik dan turun silih berganti. Pada umumnya tinggi rendahnya kurva kepuasan perkawinan istri pelaut dipengaruhi oleh keberhasilan penyesuaian diri istri terhadap tugasnya baik sebagai istri maupun sebagai istri pelaut. Keberhasilan pada masa penyesuaian diri berpengaruh pada kuatnya landasan perkawinan selanjutnya. Selain itu, kurva kepuasan perkawinan juga dipengaruhi oleh terpenuhinya faktor-faktor yang mendukung terciptanya kepuasan perkawinan, yaitu afeksi dari suami, keberhasilan anak-anak dalam sekolah dan kelancaran karir suami, kualitas komunikasi yang buruk dengan suami, faktor sosial, faktor hubungan intim, faktor peran dan tingkah laku suami yang kurang sesuai dengan keinginan istri serta faktor kebutuhan istri yang tidak terpenuhi oleh suami, khususnya kebutuhan untuk dimengerti. Faktor-faktor kepuasan perkawinan yang tidak dapat dipenuhi oleh suami dapat menimbulkan ketidakpuasan perkawinan yang dirasakan istri pelaut.

      Nah itu sedikit pembahasan saya mengenai pelaut, maaf jika ada hal yang salah, saya tidak mempunyai niat untuk menyinggung siapapun. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda