Kamis, 18 November 2021

Systematic De-Sensitization

 

 Hai... kali ini aku mau ngebahas mengenai teori yang berhubungan dengan pSystematic De-Sensitization, semoga bermanfaat. 

Teknik desensitisasi sistematis termasuk teknik spesifik dengan pendekatan behavioristik yang dikembangkan oleh Wolpe bahwa semua perilaku neurotic adalah bentuk ekspresi dari kecemasan.[1] Dalam mengatasi kecemasan yang dialami seseorang dengan memberikan rangsangan yang membuat rasa cemas sedikit demi sedikit diberikan secara berangsur-angsur hingga tidak merasa cemas lagi. Hal ini dapat dipahami bahwa teknik desensitisasi sistematis mengatasi sesuatu yang menimbulkan kecemasan dengan menghapus respons-respon tidak baik melalui counter conditioning. Sedangkan Asmani mengungkapkan bahwa teknik desensitisasi sistematis merupakan teknik yang dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan dari ketegangan yang dialami siswa dengan mengajarkan siswa untuk rileks. Esensi (intisari) teknik desensitisasi sistematis menghilangakan perilaku yang diperkuat secara negatif menyertakan respon berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkodisian klasik, respon-respon tidak baik dapat dihilangkan secara bertahap.[2]

       Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa teknik desensitisasi sistematis ialah teknik spesifik dalam pendekatan behavioristik yang mana siswa diberikan pelatihan untuk tetap tenang meskipun muncul situasi yang menimbulkan kecemasan. Hal tersebut dilakukan secara bertahap yang mana siswa membayangkan suatu hal menegangkan dan kemudian diminta untuk tetap rileks sampai pada kondisi yang paling mencemaskan.

       Desensitisasi sistematis dipakai untuk menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negative dalam menghadapi situasi pembelajaran, dan menyertai tingkah laku yang berlawanan dengan kondisi kecemasan yang dialami oleh seseorang. Gerakan relaksasi diharapkan mampu membuat peserta didik merasa nyaman dan rileks.[3]

 

2.1 Proses Systematic De-Sensitization

Adapun proses pelaksanaan teknik desensitisasi sistematis yaitu:

a.       Analisis perilaku yang menimbulkan kecemasan.

b.      Menyusun jenjang-jenjang situasi yang menimbulkan kecemasan dari mulai yang kurang hingga yang paling mencemaskan konseli.

c.       Memberi latihan relaksasi otot-otot tubuh seperti otot lengan, kepala, bahu, leher, dada, perut dan anggota tubuh bagian bawah.

d.      Konseli diminta membayangkan atau mengimajinasi suatu kondisi yang menyenangkan seperti berkumpul bersama keluarga, bermain di pantai atau di tengah taman yang hijau ataupun hal-hal yang dianggap menyenangkan bagi konseli.

e.        Konseli kemudian memejamkan mata, dan mengimajinasi atau membayangkan situasi yang kurang mencemaskan, apabila konseli sanggup tanpa cemas berarti situasi tersebut dapat diatasi oleh konseli. Demikian seterusnya hingga ke situasi yang paling mencemaskan.

f.       Bila dalam suatu situasi konseli merasa cemas dan dan gelisah, maka konselor memerintahkan konseling supaya membayangkan situasi yang menyenangkan tadi untuk menghilangkan kecemasan yang baru terjadi pada diri konseli.

g.      Dilakukan terus secara bertahap sampai tingkat kecemasan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

h.      Terapi selesai apabila konseli mampu tetap santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling mencemaskan.

 

2.2 . Kelebihan dan Kekurangan Systematic De-Sensitization

a.       Kelebihan teknik desensitisasi sistematis

Teknik desensitisasi sistematis memiliki kelebihan yaitu diantaranya:

1)      Mengurangi maladaptasi kecemasan seperti fobia namun juga dapat diterapkan pada masalah lain.

2)      Dapat melemahkan atau mengurangi perilaku negatifnya atau menghilangkannya.

3)      Konseli mampu mengaplikasikan teknik ini dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus adanya konselor yang memandu.

4)       Menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif kemudian menyertakan perilaku baru yang berlawanan dengan tingkah laku yang ingin dihilangkan.

 

b.      Kekurangan teknik desensitisasi sistematis

Wolpe mengatakan teknik desensitisasi sistematis dapat menyebabkan kegagalan dalam pelaksanaannya, yaitu: [4]

1)      Kesulitan-kesulitan dalam relaksasi yang bisa menjadi kesulitan dalam berkomunikasi antara konselor dengan konseli.

2)       Ketidak memadai dalam membayangkankan atau imajinasinya.

 

2.3 Tujuan Teknik Systematic De-Sensitization

Tujuan desensitisasi sistematis adalah untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif, berupa kecemasan dengan mengkondisikan respon berlawanan agar tetap merasa nyaman.[5] Sebagaimana yang dikutip Latipun, bahwa tujuan teknik desensitisasi respon-respon perilaku yang berlawanan atas stimulus berupa bayanganbayangan mengenai pengalaman yang mencemaskan. Hal ini dipahami bahwa teknik desensitisasi sistematis bertujuan agar siswa tetap nyaman meski dihadapkannya dalam kecemasan.[6] Tujuan dari implementasi teknik desensitisasi sistematis, Willis menegaskan bahwa teknik tersebut mengajarkan siswa untuk memberikan respon yang tidak konsisten terkait dengan kecemasan yang dialaminya. Prinsip utama teknik desensitisasi sistematik yaitu relaksasi dan mengubah respon negative menjadi respon positive secara bertahap setelah berhasil mengubah gangguan kecemasan konseli menjadi kecemasan wajar.[7]

 

.

 

 

 

 

 

 



[1] Sofyan Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek, Alfabeta, Bandung, 2010, hlm. 71.

 

[2] Jamal Ma’mur Asmani, Panduan Efektif Bimbingan & Konseling di sekolah, Diva

Press, Yogyakarta, 2010, hlm. 224.

 

[3] Komang Meida Depiani, Ni Ketut Suarni, dan Dewi Arum Wmp, “EFEKTIVITAS KONSELING BEHAVIORAL DENGAN TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIS DAN MODELING UNTUK MEMINIMALISASI KECEMASAN DALAM MENGHADAPI PRAKERIN SISWA KELAS XI TATA BOGA DI SMK NEGERI 2 SINGARAJA TAHUN PELAJARAN 2013/2014” 2, no. 1 (2014): 3.

[4] Setiawati, Keefektifan Cognitive Restructuring dan Desensitisasi Sistematis Untuk Mengatasi Siswa SMP dan SMA. Jurnal. FIP UNESA. diunduh 20 Agustus 2020. h. 10

 

[5] Jamal Ma’mur Asmani, Panduan Efektif Bimbingan & Konseling di sekolah, Diva Press, Yogyakarta, 2010, hlm. 225.

 

[6] Latipun. Psikologi Konseling, UMM Press, Malang, 2004, hlm.118.

 

[7] Budi Sugiantoro, “Teknik Desensitisasi Sistematis (Systematic Desensitization) dalam Mereduksi Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder) yang dialami Konseli,” Nusantara of Research : Jurnal Hasil-hasil Penelitian Universitas Nusantara PGRI Kediri 5, no. 2 (28 Oktober 2018): 72–82, https://doi.org/10.29407/nor.v5i2.13078.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda