Hai...
kali ini aku mau ngebahas mengenai teori yang berhubungan dengan pSystematic De-Sensitization, semoga bermanfaat.
Teknik
desensitisasi sistematis
termasuk teknik spesifik dengan pendekatan behavioristik yang dikembangkan oleh Wolpe bahwa semua
perilaku neurotic adalah bentuk ekspresi dari kecemasan.[1]
Dalam mengatasi kecemasan
yang dialami seseorang
dengan memberikan rangsangan yang membuat rasa cemas sedikit
demi sedikit diberikan
secara berangsur-angsur hingga tidak merasa cemas lagi. Hal ini dapat dipahami
bahwa teknik desensitisasi sistematis mengatasi sesuatu yang menimbulkan kecemasan
dengan menghapus respons-respon tidak baik melalui
counter conditioning. Sedangkan
Asmani mengungkapkan bahwa teknik desensitisasi sistematis merupakan teknik yang dapat memberikan
ketenangan dan kenyamanan dari ketegangan yang dialami siswa dengan mengajarkan siswa untuk rileks.
Esensi (intisari) teknik desensitisasi sistematis menghilangakan perilaku
yang diperkuat secara negatif menyertakan respon berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkodisian klasik,
respon-respon tidak baik dapat dihilangkan secara bertahap.[2]
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa teknik desensitisasi sistematis ialah teknik spesifik dalam pendekatan behavioristik yang mana siswa diberikan pelatihan
untuk tetap tenang
meskipun muncul situasi
yang menimbulkan kecemasan. Hal tersebut dilakukan
secara bertahap yang mana siswa membayangkan suatu hal menegangkan dan kemudian diminta
untuk tetap rileks sampai pada kondisi yang paling mencemaskan.
Desensitisasi sistematis dipakai untuk
menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negative dalam menghadapi
situasi pembelajaran, dan menyertai tingkah laku yang berlawanan dengan kondisi
kecemasan yang dialami oleh seseorang. Gerakan relaksasi diharapkan mampu
membuat peserta didik merasa nyaman dan rileks.[3]
2.1 Proses Systematic De-Sensitization
Adapun proses
pelaksanaan teknik desensitisasi sistematis yaitu:
a.
Analisis perilaku yang menimbulkan
kecemasan.
b.
Menyusun jenjang-jenjang situasi
yang menimbulkan kecemasan dari mulai yang kurang hingga yang paling
mencemaskan konseli.
c.
Memberi latihan relaksasi
otot-otot tubuh seperti otot lengan, kepala, bahu, leher, dada, perut dan
anggota tubuh bagian bawah.
d.
Konseli diminta membayangkan atau
mengimajinasi suatu kondisi yang menyenangkan seperti berkumpul bersama
keluarga, bermain di pantai atau di tengah taman yang hijau ataupun hal-hal
yang dianggap menyenangkan bagi konseli.
e.
Konseli kemudian memejamkan mata, dan
mengimajinasi atau membayangkan situasi yang kurang mencemaskan, apabila
konseli sanggup tanpa cemas berarti situasi tersebut dapat diatasi oleh
konseli. Demikian seterusnya hingga ke situasi yang paling mencemaskan.
f.
Bila dalam suatu situasi konseli
merasa cemas dan dan gelisah, maka konselor memerintahkan konseling supaya
membayangkan situasi yang menyenangkan tadi untuk menghilangkan kecemasan yang
baru terjadi pada diri konseli.
g.
Dilakukan terus secara bertahap
sampai tingkat kecemasan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
h.
Terapi selesai apabila konseli
mampu tetap santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling
mencemaskan.
2.2 . Kelebihan dan Kekurangan Systematic De-Sensitization
a.
Kelebihan teknik desensitisasi
sistematis
Teknik
desensitisasi sistematis memiliki kelebihan yaitu diantaranya:
1)
Mengurangi maladaptasi kecemasan
seperti fobia namun juga dapat diterapkan pada masalah lain.
2)
Dapat melemahkan atau mengurangi
perilaku negatifnya atau menghilangkannya.
3)
Konseli mampu mengaplikasikan
teknik ini dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus adanya konselor yang
memandu.
4)
Menghilangkan tingkah laku yang
diperkuat secara negatif kemudian menyertakan perilaku baru yang berlawanan
dengan tingkah laku yang ingin dihilangkan.
b.
Kekurangan teknik desensitisasi
sistematis
Wolpe
mengatakan teknik desensitisasi sistematis dapat menyebabkan kegagalan dalam
pelaksanaannya, yaitu: [4]
1)
Kesulitan-kesulitan dalam
relaksasi yang bisa menjadi kesulitan dalam berkomunikasi antara konselor
dengan konseli.
2)
Ketidak memadai dalam
membayangkankan atau imajinasinya.
2.3
Tujuan Teknik Systematic De-Sensitization
Tujuan desensitisasi sistematis adalah
untuk menghapus perilaku yang
diperkuat secara negatif, berupa kecemasan dengan mengkondisikan respon berlawanan agar tetap merasa
nyaman.[5] Sebagaimana yang dikutip Latipun,
bahwa tujuan teknik desensitisasi respon-respon perilaku yang berlawanan atas stimulus berupa bayanganbayangan mengenai
pengalaman yang mencemaskan. Hal ini dipahami
bahwa teknik desensitisasi sistematis bertujuan agar siswa tetap nyaman meski dihadapkannya dalam kecemasan.[6] Tujuan dari implementasi teknik desensitisasi sistematis, Willis menegaskan bahwa teknik tersebut
mengajarkan siswa untuk memberikan respon yang tidak konsisten terkait dengan
kecemasan yang dialaminya.
Prinsip utama teknik desensitisasi sistematik yaitu relaksasi dan mengubah
respon negative menjadi respon positive secara bertahap setelah berhasil
mengubah gangguan kecemasan konseli menjadi kecemasan wajar.[7]
.
[1] Sofyan Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek, Alfabeta, Bandung, 2010, hlm.
71.
[2] Jamal Ma’mur Asmani, Panduan Efektif
Bimbingan & Konseling
di sekolah, Diva
Press, Yogyakarta, 2010, hlm. 224.
[3] Komang Meida Depiani, Ni Ketut
Suarni, dan Dewi Arum Wmp, “EFEKTIVITAS KONSELING BEHAVIORAL DENGAN TEKNIK
DESENSITISASI SISTEMATIS DAN MODELING UNTUK MEMINIMALISASI KECEMASAN DALAM
MENGHADAPI PRAKERIN SISWA KELAS XI TATA BOGA DI SMK NEGERI 2 SINGARAJA TAHUN
PELAJARAN 2013/2014” 2, no. 1 (2014): 3.
[4] Setiawati, Keefektifan Cognitive
Restructuring dan Desensitisasi Sistematis Untuk Mengatasi Siswa SMP dan SMA.
Jurnal. FIP UNESA. diunduh 20 Agustus 2020. h. 10
[5] Jamal Ma’mur Asmani, Panduan Efektif
Bimbingan & Konseling
di sekolah, Diva Press, Yogyakarta, 2010, hlm. 225.
[6] Latipun. Psikologi Konseling, UMM Press, Malang,
2004, hlm.118.
[7] Budi Sugiantoro, “Teknik
Desensitisasi Sistematis (Systematic Desensitization) dalam Mereduksi Gangguan
Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder) yang dialami Konseli,” Nusantara of
Research : Jurnal Hasil-hasil Penelitian Universitas Nusantara PGRI Kediri 5,
no. 2 (28 Oktober 2018): 72–82, https://doi.org/10.29407/nor.v5i2.13078.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda