Selasa, 05 Februari 2013

Perkembangan Remaja


     Hai semua... Sekarang saya akan membahas mengenai perkembangan remaja. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang melibatkan perubahan fisik secara umum, kognitif, dan psikososial (Papalia, Wendkos-Olds, & Duskin-Feldman, 2009).  Rice dan Dolgin (2008) mendefinisikan masa remaja sebagai suatu periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Selain itu, masa remaja sebagai usia saat individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia saat anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Masa remaja mencakup:
    
a. Aspek Perkembangan Fisik
Menurut Papalia et al. (2009) masa remaja yang dimulai pada usia 11 atau 12 sampai masa remaja akhir atau awal usia 20 an, ditandai dengan telah terjadinya kematangan fisik dan perubahan hormon atau pubertas, yaitu proses kematangan organ seks atau fertilitas, kemampuan untuk bereproduksi. Masa ini membawa perubahan besar yang saling bertautan dalam semua aspek perkembangan, fisik, kognitif dan sosial. Perubahan biologis pubertas, yang merupakan tanda akhir masa kanak-kanak, berakibat peningkatan pertumbuhan berat dan tinggi, perubahan dalam proporsi dan bentuk tubuh, dan pencapaian kematangan seksual. Ledakan pertumbuhan masa remaja (adolescent growth spurt) adalah peningkatan tajam pada tinggi dan berada yang berlanjut, kepada kematangan seksual. Ledakan pertumbuhan masa remaja dimulai antara 10½ dan 16 tahun (biasanya pada usia 12 atau 13 tahun) pada anak laki-laki. Ledakan pertumbuhan biasanya berlangsung sekitar 2 tahun dan segera setelah masa tersebut berakhir maka anak tersebut mencapai kematangan seksual. Pencapaian tinggi maksimun remaja umumnya terjadi ketika remaja berusia 18 tahun.
    
b. Aspek Perkembangan Kognitif
Piaget mengemukakan bahwa remaja pada usia sekitar 11 tahun mulai memasuki level tertinggi dalam perkembangan kognitif, yaitu formal operasional (Santrock, 2009).  Pada tahap ini, remaja mulai mampu mengembangkan kemampuan berpikir secara abstrak. Kemampuan ini memberikan cara baru yang lebih fleksibel kepada mereka untuk mengolah informasi. Pemahaman dan kemampuan memproses informasi tidak lagi terbatas oleh di sini dan sekarang. Remaja dapat menggunakan simbol untuk merepresentasikan sesuatu misalnya menjadikan huruf X sebagai angka yang tidak diketahui (Papalia et al., 2009).
Dalam perkembangan kognitif tahap ini, seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan atau bersamaan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yaitu kapasitas menggunakan hipotesis dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak (Syah, 2003). Dengan kapasitas menggunakan hipotesis, seorang remaja akan mampu berpikir hipotetis, yaitu memikirkan pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan atau konteks tertentu. Selanjutnya, dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, remaja tersebut mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang bersifat abstrak, seperti ilmu agama, ilmu matematika dalam tingkat yang lebih tinggi, dan ilmu-ilmu abstrak lainnya, serta konsep-konsep abstrak tertentu, seperti etika ideal, keserasian, keadilan, kemurnian, dan masa depan. Kemampuan berpikir yang baru ini memungkinkan individu untuk berpikir secara abstrak, hipotetis dan kontrafaktual, yang pada gilirannya kemudian memberikan peluang bagi individu untuk mengimajinasikan kemungkinan lain untuk segala hal (Agustiani, 2006). Imajinasi ini bisa terkait pada kondisi masyarakat, diri sendiri, aturan-aturan orangtua, atau apa yang akan dia lakukan dalam hidupnya. Dalam segi bahasa, selain perbendaharaan kata yang terus meningkat jumlah dan pemahamannya, remaja juga menjadi lebih mampu menyerap dan memahami pembicaraan dalam kerangka perspektif sosial (Papalia et al., 2009).

c. Perkembangan Psikososial
Menurut teori perkembangan psikososial dari Erikson, remaja berada dalam tahap perkembangan identity versus identity confusion, di mana pada tahap ini remaja berusaha mengembangkan perasaan akan eksistensi diri yang koheren, termasuk peran yang dimainkannya dalam masyarakat (Papalia et al., 2009). Remaja yang berhasil menjalani tahap ini dengan baik akan membentuk identitas diri yang positif dan adekuat. Sedangkan remaja yang tidak berhasil melalui tahap ini dengan baik akan mengalami kebingungan identitas dan perannya dalam masyarakat (Santrock, 2009). Selama tahap ini, remaja harus berhadapan dengan keputusan siapa diri mereka, apa diri mereka, dan kemana mereka akan melangkah dalam hidup.
Masa pencarian identitas selama masa remaja dikenal pula sebagai psychosocial moratorium, yakni celah di antara rasa aman dalam masa kanak-kanak dan kemandirian dalam masa dewasa (Santrock, 2009). Selama periode ini, masyarakat relatif membiarkan remaja bebas dari rasa tanggung jawab dan bebas untuk mencoba identitas yang berbeda-beda. Remaja juga berusaha mencari komitmen yang dapat mereka jadikan pegangan dan panduan dalam menjalani kehidupan dan membuat keputusan-keputusan untuk dirinya sendiri. Komitmen ini akan turut membentuk kehidupan seseorang hingga beberapa tahun kemudian (Papalia et al., 2009).

d. Perkembangan Emosi
Masa remaja merupakan masa penuh peluang sekaligus penuh resiko. Para remaja berada di pertigaan antara kehidupan cinta, pekerjaan, dan partisipasi dalam masyarakat dewasa. Pencarian identitas, yang didefinisikan Erikson sebagai konsepsi tentang diri, penentuan tujuan, nilai, dan keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang, merupakan fokus pada masa remaja (Papalia et al., 2009). Masa remaja seringkali disebut juga periode badai dan tekanan karena emosi pada masa ini meninggi akibat perubahan fisik dan kelenjar (Brooks, 2004). Pada masa ini remaja seringkali merasa berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru yang kurang siap dihadapinya, sehingga berakibat banyak remaja kemudian mengalami ketidakstabilan emosi karena berupaya menyesuaikan diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Contohnya masalah yang berkaitan dengan percintaan serta menjelang akhir masa sekolah, remaja mulai mengkhawatirkan masa depannya.
Remaja yang tidak paham bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi mereka kemudian akan sering merajuk (Santrock, 2009). Hanya dengan sedikit atau bahkan tanpa provokasi sama sekali, mereka bisa saja mengekspresikan kemarahan secara keras di depan orangtua atau saudara-saudara mereka. Hal ini mungkin  disebabkan karena mereka menggunakan defense mechanism dengan cara melakukan displacement emosi mereka kepada orang lain. Akan tetapi, mood akan menjadi lebih tidak ekstrim seiring dengan beralihnya remaja menjadi orang dewasa, dan penurunan ini mungkin saja berhubungan dengan adanya adaptasi terhadap kadar hormon yang ada dalam tubuh. Meskipun begitu, kebanyakan peneliti menyimpulkan bahwa hormon hanya memiliki peranan kecil. Biasanya aspek ini berasosiasi dengan faktor-faktor lain seperti stres, pola makan, aktivitas seksual, dan hubungan sosial. Mungkin saja pengalaman dengan lingkungan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap emosi seorang remaja jika dibandingkan dengan perubahan hormonal.
Konflik dengan orangtua timbul pada langkah pertumbuhan para remaja menuju kemandirian (Arnett dalam Papalia et al., 2009). Mayoritas argumentasi terkait dengan masalah sehari-hari , seperti sekolah, pakaian, uang, jam malam, teman, dan pacar, daripada  nilai-nilai fundamental (Adams & Laursen dalam Papalia et al., 2009). Konflik ini paling sering terjadi pada awal masa remaja ketika emosi negatif mencapai puncaknya dan semakin intens saat pertengahan masa remaja (Laursen & Collins dalam Santrock, 2010). Meningkatnya konflik pada masa remaja awal dapat disebabkan karena beberapa faktor seperti perubahan biologis terkait dengan pubertas remaja, perubahan kognitif yang melibatkan meningkatnya idealisme dan penalaran logis remaja, perubahan sosial yang berfokus pada upaya untuk menjadi mandiri dan terkait dengan identitas remaja, perubahan kematangan yang terjadi pada orangtua dibandingkan pada saat usia anak sebelum remaja, dan adanya ekpektasi-eksptasi yang dilanggar baik oleh orangtua dan remaja (Collins & Steinberg, 2006 dalam Santrock, 2009). Penentangan remaja terhadap standar orang dewasa dan otoritas orangtua menguatkannya untuk merujuk pada masukan dari teman yang berada di posisi yang sama (Papalia et al., 2009). Para remaja mempertanyakan kecakapan orangtua mereka sebagai model perilaku, tetapi pada waktu yang sama tidak cukup yakin untuk berdiri sendiri, sehingga merujuk kepada teman untuk menunjukkan kepada mereka apa yang “benar” dan yang “salah”. Kelompok teman sebaya merupakan sumber afeksi, simpati, pemahaman, dan panduan moral; tempat bereksperimen; dan setting untuk mendapatkan otonomi dan independensi dari orangtua. 
Demikian pembahasaan dari saya mengenai perkembangan remaja, semoga memberi manfaat pada kita semua. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA


Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. (2009).  Human development (11th edition). USA: McGraw Hill.

Santrock, J. W. (2007). Child development (11th ed.). New York: McGraw-Hill.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda