Hai semua... Sekarang saya akan membahas mengenai perkembangan remaja. Masa remaja adalah masa transisi
perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang melibatkan perubahan
fisik secara umum, kognitif, dan psikososial (Papalia,
Wendkos-Olds, & Duskin-Feldman, 2009). Rice dan
Dolgin (2008) mendefinisikan masa remaja sebagai suatu periode pertumbuhan
antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Selain itu, masa remaja sebagai usia
saat individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia saat anak tidak lagi
merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua, melainkan berada dalam
tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Masa remaja mencakup:
a. Aspek Perkembangan Fisik
Menurut
Papalia et al. (2009) masa remaja yang dimulai pada usia 11 atau 12 sampai masa remaja
akhir atau awal usia 20 an, ditandai dengan telah terjadinya kematangan fisik
dan perubahan hormon atau pubertas, yaitu proses kematangan organ seks atau
fertilitas, kemampuan untuk bereproduksi. Masa ini membawa perubahan besar yang
saling bertautan dalam semua aspek perkembangan, fisik, kognitif dan sosial.
Perubahan biologis pubertas, yang merupakan tanda akhir masa kanak-kanak,
berakibat peningkatan pertumbuhan berat dan tinggi, perubahan dalam proporsi
dan bentuk tubuh, dan pencapaian kematangan seksual. Ledakan pertumbuhan masa remaja
(adolescent growth spurt) adalah
peningkatan tajam pada tinggi dan berada yang berlanjut, kepada kematangan
seksual. Ledakan pertumbuhan masa remaja dimulai antara 10½ dan 16 tahun
(biasanya pada usia 12 atau 13 tahun) pada anak laki-laki. Ledakan pertumbuhan
biasanya berlangsung sekitar 2 tahun dan segera setelah masa tersebut berakhir
maka anak tersebut mencapai kematangan seksual. Pencapaian tinggi maksimun
remaja umumnya terjadi ketika remaja berusia 18 tahun.
b. Aspek Perkembangan
Kognitif
Piaget mengemukakan bahwa
remaja pada usia sekitar 11 tahun mulai memasuki level tertinggi dalam
perkembangan kognitif, yaitu formal operasional (Santrock, 2009). Pada tahap ini, remaja mulai mampu
mengembangkan kemampuan berpikir secara abstrak. Kemampuan ini memberikan cara
baru yang lebih fleksibel kepada mereka untuk mengolah informasi. Pemahaman dan
kemampuan memproses informasi tidak lagi terbatas oleh di sini dan sekarang.
Remaja dapat menggunakan simbol untuk merepresentasikan sesuatu misalnya menjadikan
huruf X sebagai angka yang tidak diketahui (Papalia et al., 2009).
Dalam perkembangan kognitif
tahap ini, seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik
secara simultan atau bersamaan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif,
yaitu kapasitas menggunakan hipotesis dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip
abstrak (Syah, 2003). Dengan kapasitas menggunakan hipotesis, seorang remaja
akan mampu berpikir hipotetis, yaitu memikirkan pemecahan masalah dengan
menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan atau konteks
tertentu. Selanjutnya, dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak,
remaja tersebut mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang bersifat
abstrak, seperti ilmu agama, ilmu matematika dalam tingkat yang lebih tinggi,
dan ilmu-ilmu abstrak lainnya, serta konsep-konsep abstrak tertentu, seperti
etika ideal, keserasian, keadilan, kemurnian, dan masa depan. Kemampuan
berpikir yang baru ini memungkinkan individu untuk berpikir secara abstrak,
hipotetis dan kontrafaktual, yang pada gilirannya kemudian memberikan peluang
bagi individu untuk mengimajinasikan kemungkinan lain untuk segala hal
(Agustiani, 2006). Imajinasi ini bisa terkait pada kondisi masyarakat, diri
sendiri, aturan-aturan orangtua, atau apa yang akan dia lakukan dalam hidupnya.
Dalam segi bahasa, selain perbendaharaan kata yang terus meningkat jumlah dan
pemahamannya, remaja juga menjadi lebih mampu menyerap dan memahami pembicaraan
dalam kerangka perspektif sosial (Papalia et al., 2009).
c. Perkembangan Psikososial
Menurut teori perkembangan
psikososial dari Erikson, remaja berada dalam tahap perkembangan identity versus identity confusion, di
mana pada tahap ini remaja berusaha mengembangkan perasaan akan eksistensi diri
yang koheren, termasuk peran yang dimainkannya dalam masyarakat (Papalia et
al., 2009). Remaja yang berhasil menjalani tahap ini dengan baik akan membentuk
identitas diri yang positif dan adekuat. Sedangkan remaja yang tidak berhasil
melalui tahap ini dengan baik akan mengalami kebingungan identitas dan perannya
dalam masyarakat (Santrock, 2009). Selama tahap ini, remaja harus berhadapan
dengan keputusan siapa diri mereka, apa diri mereka, dan kemana mereka akan
melangkah dalam hidup.
Masa pencarian identitas
selama masa remaja dikenal pula sebagai psychosocial
moratorium, yakni celah di antara rasa aman dalam masa kanak-kanak dan
kemandirian dalam masa dewasa (Santrock, 2009). Selama periode ini, masyarakat
relatif membiarkan remaja bebas dari rasa tanggung jawab dan bebas untuk mencoba
identitas yang berbeda-beda. Remaja juga berusaha mencari komitmen yang dapat
mereka jadikan pegangan dan panduan dalam menjalani kehidupan dan membuat
keputusan-keputusan untuk dirinya sendiri. Komitmen ini akan turut membentuk
kehidupan seseorang hingga beberapa tahun kemudian (Papalia et al., 2009).
d. Perkembangan Emosi
Masa remaja merupakan masa
penuh peluang sekaligus penuh resiko. Para remaja berada di pertigaan antara
kehidupan cinta, pekerjaan, dan partisipasi dalam masyarakat dewasa. Pencarian
identitas, yang didefinisikan Erikson sebagai konsepsi tentang diri, penentuan
tujuan, nilai, dan keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang, merupakan
fokus pada masa remaja (Papalia et al., 2009). Masa remaja seringkali disebut
juga periode badai dan tekanan karena emosi pada masa ini meninggi akibat
perubahan fisik dan kelenjar (Brooks, 2004). Pada masa ini remaja seringkali
merasa berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru yang kurang
siap dihadapinya, sehingga berakibat banyak remaja kemudian mengalami
ketidakstabilan emosi karena berupaya menyesuaikan diri pada pola perilaku baru
dan harapan sosial yang baru. Contohnya masalah yang berkaitan dengan
percintaan serta menjelang akhir masa sekolah, remaja mulai mengkhawatirkan
masa depannya.
Remaja yang tidak paham
bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi mereka kemudian akan sering merajuk
(Santrock, 2009). Hanya dengan sedikit atau bahkan tanpa provokasi sama sekali,
mereka bisa saja mengekspresikan kemarahan secara keras di depan orangtua atau
saudara-saudara mereka. Hal ini mungkin
disebabkan karena mereka menggunakan defense mechanism dengan
cara melakukan displacement emosi mereka kepada orang lain. Akan tetapi,
mood akan menjadi lebih tidak ekstrim seiring dengan beralihnya remaja menjadi
orang dewasa, dan penurunan ini mungkin saja berhubungan dengan adanya adaptasi
terhadap kadar hormon yang ada dalam tubuh. Meskipun begitu, kebanyakan
peneliti menyimpulkan bahwa hormon hanya memiliki peranan kecil. Biasanya aspek
ini berasosiasi dengan faktor-faktor lain seperti stres, pola makan, aktivitas
seksual, dan hubungan sosial. Mungkin saja pengalaman dengan lingkungan
memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap emosi seorang remaja jika
dibandingkan dengan perubahan hormonal.
Konflik dengan orangtua
timbul pada langkah pertumbuhan para remaja menuju kemandirian (Arnett dalam
Papalia et al., 2009). Mayoritas argumentasi terkait dengan masalah sehari-hari
, seperti sekolah, pakaian, uang, jam malam, teman, dan pacar, daripada nilai-nilai fundamental (Adams & Laursen
dalam Papalia et al., 2009). Konflik ini paling sering terjadi pada awal masa
remaja ketika emosi negatif mencapai puncaknya dan semakin intens saat
pertengahan masa remaja (Laursen & Collins dalam Santrock, 2010). Meningkatnya
konflik pada masa remaja awal dapat disebabkan karena beberapa faktor seperti
perubahan biologis terkait dengan pubertas remaja, perubahan kognitif yang
melibatkan meningkatnya idealisme dan penalaran logis remaja, perubahan sosial
yang berfokus pada upaya untuk menjadi mandiri dan terkait dengan identitas
remaja, perubahan kematangan yang terjadi pada orangtua dibandingkan pada saat
usia anak sebelum remaja, dan adanya ekpektasi-eksptasi yang dilanggar baik
oleh orangtua dan remaja (Collins & Steinberg, 2006 dalam Santrock, 2009).
Penentangan remaja terhadap standar orang dewasa dan otoritas orangtua
menguatkannya untuk merujuk pada masukan dari teman yang berada di posisi yang
sama (Papalia et al., 2009). Para remaja mempertanyakan kecakapan orangtua
mereka sebagai model perilaku, tetapi pada waktu yang sama tidak cukup yakin
untuk berdiri sendiri, sehingga merujuk kepada teman untuk menunjukkan kepada
mereka apa yang “benar” dan yang “salah”. Kelompok teman sebaya merupakan
sumber afeksi, simpati, pemahaman, dan panduan moral; tempat bereksperimen; dan
setting untuk mendapatkan otonomi dan
independensi dari orangtua.
Demikian pembahasaan dari saya mengenai perkembangan remaja, semoga memberi manfaat pada kita semua. Terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Papalia, D.E., Olds, S.W.,
Feldman, R.D. (2009). Human development (11th edition).
USA: McGraw Hill.
Santrock, J. W.
(2007). Child development (11th
ed.). New York: McGraw-Hill.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda