Selasa, 12 Februari 2013

Pola Asuh


Hai semua... Apa kabar? kali ini saya akan membahas mengenai pola asuh orng tua yang mempunyai pengaruh pada perkembangan setiap anak. Menurut Baumrind (dalam Brooks, 2004) pola asuh yang diterapkan orangtua terhadap anak akan berhubungan dengan kompetensi anak, yakni kapasitas anak untuk berperilaku bertanggung jawab secara sosial, berperilaku mandiri yang meliputi hubungan yang positif dan kooperatif dengan orangtua dan teman, serta berperilaku yang bertujuan dan berorientasi pada prestasi. Terdapat empat tipe pola asuh yang diterapkan oleh orangtua kepada anak, yakni authoritative, authoritarian, permissive, dan neglectful. Keempat pola asuh ini mengkombinasikan penerimaan, sikap responsif orang tua, tuntutan, serta kontrol dari orang tua (Santrock, 2006).
Orangtua dengan pola asuh authoritative mendorong anak untuk menjadi mandiri, namun tetap menetapkan batasan pada perilaku anak. Orangtua selain menetapkan kontrol atau aturan yang tegas dan jelas, juga menekankan pada kebebasan dan individualitas anak (Santrock, 2006). Orangtua membuat aturan yang jelas dan konsisten dalam penerapan aturan-aturan tersebut, serta  mendorong dan mengawasi anak dengan baik (Berk, 2003). Komunikasi orangtua dengan anak terbina dengan baik, di mana orangtua selalu bersedia untuk mendengarkan pendapat anak. Keterlibatan orangtua dalam kehidupan anak, ditunjukkan dengan bersikap hangat kepada anak, memberikan dukungan terhadap tingkah laku anak yang positif dan perencanaan aktivitas bersama dengan anak. Walaupun orangtua memiliki standar perilaku dan harapan pada masa kini dan masa depan terhadap anak, namun hal tersebut bersifat rasional, fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan dan pilihan anak (Brooks, 2004). Anak-anak dari orangtua dengan pola asuh authoritative cenderung akan menjadi anak yang ceria, memiliki kepercayaan diri, mengeksplorasi dunia dengan semangat dan ketertarikan, menjaga hubungan yang akrab dengan teman, bersikap kooperatif dengan orang dewasa, dan dapat melakukan coping yang baik saat berhadapan dengan stres (Brooks, 2004).
     Orangtua dengan pola asuh authoritarian menerapkan pola disiplin dan aturan yang sama dengan orangtua yang menerapkan pola asuh authoritative, namun dilakukan dengan cara memaksa tanpa mempertimbangkan individualitas anak (Brooks, 2004). Orangtua menerapkan kontrol dan aturan-aturannya tanpa menyediakan dukungan bagi anak untuk mencapainya. Orangtua menjalankan peraturan secara keras namun tidak memberikan penjelasan mengenai manfaat positif dari peraturan tersebut kepada anak. Orangtua tidak mendorong otonomi pada anak karena sebagian besar keputusan dibuat oleh orangtua, serta tidak mempertimbangkan keinginan atau pendapat anak, serta memberikan banyak tuntutan yang harus dilakukan anak (Santrock, 2006). Orangtua seringkali memarahi anak dengan menggunakan kata-kasar dan penghinaan, serta menghadapi tingkah laku anak yang tidak baik dengan menggunakan kekerasan dan mendisiplinkan anak dengan cara menghukum. Anak-anak dari orangtua dengan pola asuh authoritarian cenderung menjadi anak yang tidak bahagia, takut, menarik dan membatasi diri, cemas jika membandingkan dirinya dengan orang lain, kurang memiliki inisiatif, dan lemah dalam kemampuan komunikasi (Santrock, 2006).
 Pola asuh permissive merupakan pola asuh dimana orangtua sangat terlibat dalam kehidupan anak, namun cenderung kurang menerapkan batasan-batasan kepada anak dan kurang menuntut anak mengikuti aturan tersebut (Brooks, 2004). Mereka bersikap menerima kehendak dan keinginan anak, memberikan sebanyak mungkin kebebasan kepada anak sejauh masih dalam batas aman atau tidak membahayakan diri anak. Orangtua cenderung membiarkan anak berbuat sekehendak hati anak. Anak tidak pernah belajar untuk mengontrol perilaku mereka dan selalu berharap mendapatkan apa yang mereka inginkan. Anak-anak dari orangtua dengan pola asuh permissive cenderung menjadi anak yang kurang mandiri, kurang dapat mengontrol diri, kurang menghormati orang lain,  cenderung mendominasi orang lain, egocentric, dan memiliki kesulitan berhubungan dengan orang lain.
Pola asuh neglectful merupakan pola asuh dimana orangtua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak, di mana orangtua cenderung tidak menunjukkan kehangatan maupun kontrol yang cukup terhadap anak-anaknya (Santrock, 2006). Pola asuh ini dikarakteristikkan dengan orangtua yang secara terang-terangan mengabaikan anak, dan berusaha untuk meminimalkan jumlah waktu dan usaha dalam berinteraksi dengan anak, serta lebih memerhatikan kebutuhannya sendiri dibandingkan dengan kebutuhan anak. Anak dengan orangtua yang menerapkan pola asuh neglectful mengembangkan perasaan bahwa aspek-aspek kehidupan orangtua lebih penting dari kehidupan diri anak (Santrock, 2006). Akibatnya anak-anak dari orangtua dengan pola asuh neglectful akan menjadi anak secara sosial tidak kompeten, memiliki kontrol diri yang rendah, kurang mandiri dan tidak bertanggungjawab, memiliki self-esteem yang rendah, serta seringkali diasingkan dari keluarga. 
Demikian penjelasan saya mengenai pola asuh, semoga memberikan manfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Berk, L. E. (2003). Child development (6th ed.). Boston: Pearson Education.

Brooks, J. B. (2004). The process of parenting (6th ed.). New York: McGraw-Hill.


Santrock, J.W. (2006). Human Adjustment. New York : McGraw-Hill.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda