Hai semua... Apa kabar? kali ini saya akan membahas mengenai pola asuh orng tua yang mempunyai pengaruh pada perkembangan setiap anak. Menurut Baumrind (dalam Brooks, 2004) pola asuh yang
diterapkan orangtua terhadap anak akan berhubungan dengan kompetensi anak,
yakni kapasitas anak untuk berperilaku bertanggung jawab secara sosial,
berperilaku mandiri yang meliputi hubungan yang positif dan kooperatif dengan
orangtua dan teman, serta berperilaku yang bertujuan dan berorientasi pada
prestasi. Terdapat empat tipe pola asuh yang diterapkan oleh orangtua kepada
anak, yakni authoritative, authoritarian,
permissive, dan neglectful. Keempat
pola asuh ini mengkombinasikan penerimaan, sikap responsif orang tua, tuntutan,
serta kontrol dari orang tua (Santrock, 2006).
Orangtua dengan pola asuh authoritative mendorong anak untuk menjadi mandiri, namun tetap
menetapkan batasan pada perilaku anak. Orangtua selain menetapkan kontrol atau
aturan yang tegas dan jelas, juga menekankan pada kebebasan dan individualitas
anak (Santrock, 2006). Orangtua membuat aturan yang jelas dan konsisten dalam
penerapan aturan-aturan tersebut, serta
mendorong dan mengawasi anak dengan baik (Berk, 2003). Komunikasi
orangtua dengan anak terbina dengan baik, di mana orangtua selalu bersedia
untuk mendengarkan pendapat anak. Keterlibatan orangtua dalam kehidupan anak,
ditunjukkan dengan bersikap hangat kepada anak, memberikan dukungan terhadap
tingkah laku anak yang positif dan perencanaan aktivitas bersama dengan anak.
Walaupun orangtua memiliki standar perilaku dan harapan pada masa kini dan masa
depan terhadap anak, namun hal tersebut bersifat rasional, fleksibel dan
disesuaikan dengan kebutuhan dan pilihan anak (Brooks, 2004). Anak-anak dari
orangtua dengan pola asuh authoritative cenderung
akan menjadi anak yang ceria, memiliki kepercayaan diri, mengeksplorasi dunia
dengan semangat dan ketertarikan, menjaga hubungan yang akrab dengan teman,
bersikap kooperatif dengan orang dewasa, dan dapat melakukan coping yang baik saat berhadapan dengan
stres (Brooks, 2004).
Orangtua dengan
pola asuh authoritarian menerapkan
pola disiplin dan aturan yang sama dengan orangtua yang menerapkan pola asuh authoritative, namun dilakukan dengan
cara memaksa tanpa mempertimbangkan individualitas anak (Brooks, 2004).
Orangtua menerapkan kontrol dan aturan-aturannya tanpa menyediakan dukungan
bagi anak untuk mencapainya. Orangtua menjalankan peraturan secara keras namun
tidak memberikan penjelasan mengenai manfaat positif dari peraturan tersebut
kepada anak. Orangtua tidak mendorong otonomi pada anak karena sebagian besar
keputusan dibuat oleh orangtua, serta tidak mempertimbangkan keinginan atau
pendapat anak, serta memberikan banyak tuntutan yang harus dilakukan anak
(Santrock, 2006). Orangtua seringkali memarahi anak dengan menggunakan
kata-kasar dan penghinaan, serta menghadapi tingkah laku anak yang tidak baik
dengan menggunakan kekerasan dan mendisiplinkan anak dengan cara menghukum.
Anak-anak dari orangtua dengan pola asuh authoritarian
cenderung menjadi anak yang tidak
bahagia, takut, menarik dan membatasi diri, cemas jika membandingkan dirinya
dengan orang lain, kurang memiliki inisiatif, dan lemah dalam kemampuan
komunikasi (Santrock, 2006).
Pola asuh permissive
merupakan pola asuh dimana orangtua sangat terlibat dalam kehidupan anak, namun
cenderung kurang menerapkan batasan-batasan kepada anak dan kurang menuntut
anak mengikuti aturan tersebut (Brooks, 2004). Mereka bersikap menerima
kehendak dan keinginan anak, memberikan sebanyak mungkin kebebasan kepada anak
sejauh masih dalam batas aman atau tidak membahayakan diri anak. Orangtua
cenderung membiarkan anak berbuat sekehendak hati anak. Anak tidak pernah
belajar untuk mengontrol perilaku mereka dan selalu berharap mendapatkan apa
yang mereka inginkan. Anak-anak dari orangtua dengan pola asuh permissive cenderung menjadi anak yang kurang mandiri, kurang dapat mengontrol diri,
kurang menghormati orang lain, cenderung
mendominasi orang lain, egocentric, dan
memiliki kesulitan berhubungan dengan orang lain.
Pola asuh neglectful merupakan pola asuh dimana
orangtua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak, di mana orangtua cenderung
tidak menunjukkan kehangatan maupun kontrol yang cukup terhadap anak-anaknya
(Santrock, 2006). Pola asuh ini dikarakteristikkan dengan orangtua yang secara
terang-terangan mengabaikan anak, dan berusaha untuk meminimalkan jumlah waktu
dan usaha dalam berinteraksi dengan anak, serta lebih memerhatikan kebutuhannya
sendiri dibandingkan dengan kebutuhan anak. Anak dengan orangtua yang
menerapkan pola asuh neglectful mengembangkan perasaan bahwa aspek-aspek
kehidupan orangtua lebih penting dari kehidupan diri anak (Santrock, 2006).
Akibatnya anak-anak dari orangtua dengan pola asuh neglectful akan menjadi anak secara sosial tidak kompeten, memiliki
kontrol diri yang rendah, kurang mandiri dan tidak bertanggungjawab, memiliki self-esteem yang rendah, serta
seringkali diasingkan dari keluarga.
Demikian penjelasan saya mengenai pola asuh, semoga memberikan manfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Berk, L. E. (2003). Child
development (6th ed.). Boston: Pearson Education.
Brooks, J. B. (2004). The
process of parenting (6th ed.). New York: McGraw-Hill.
Santrock, J.W. (2006). Human Adjustment. New York :
McGraw-Hill.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda