Jumat, 05 April 2013

Perilaku Manusia

       Hai semua... kali ini saya ingin membahas mengenai perilaku manusia. Apa sih menariknya jika kita mempelajari perilaku? Ternyata tanpa kita sadari, perilaku itu tidak terbentuk begitu saja, banyak hal yang mendasarinya. Perilaku itu sendiri diartikan sebagai suatu aksi atau reaksi organisme terhadap lingkungannya.

       Tahukan anda, bahwa perilaku terjadi diawali dengan adanya pengalaman-pengalaman seseorang dan adanya faktor-faktor diluar orang tersebut (lingkungan), baik fisik maupun non fisik. Kemudian pengalaman dan lingkungan tersebut diketahui, dipersepsikan, diyakini dan sebagainya, sehingga menimbulkan motivasi, niat untuk bertindak, dan akhirnya terjadilah perwujudan niat tersebut yang berupa perilaku.
     Notoadmodjo (2005), mendefinisikan perilaku sebagai respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Dengan demikian perilaku manusia terjadi melalui proses: Stimulus-organisme-respon, sehingga teori ini disebut dengan teori “S-O-R”.  Selanjutnya teori skinner menjelaskan ada dua jenis respon yaitu :
  1. Respondent respons atau refleksif, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut dengan elicting stimuli, karena menimbulkan reaksi-raksi yang relatif tetap.
  2. Operant respons atau instrumental respons, yakni respons yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau rangsangan yang lain. Perangsang yang terakhir ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer , karena berfungsi untuk memperkuat respons.
Berdasarkan beberapa teori di atas, dapat diuraikan bahwa Perilaku adalah keseluruhan (totalitas) pemahaman dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama antara faktor internal dan eksternal. Perilaku terbentuk di dalam diri seseorang dari dua faktor utama yakni :
  1. Respons (Faktor dari dalam diri /internal) seperti : perhatian, pengamatan, persepsi, inteligensi,motivasi, fantasi, dan sugesti).
  2. Stimulus (Faktor dari luar diri/eksternal) seperti : lingkungan (fisik dan non fisik : sosial, budaya).
Berdasarkan penelitian faktor eksternal yang paling besar peranannya dalam membentuk perilaku manusia adalah faktor  sosial budaya. Sosial meliputi : struktur sosial, pranata sosial dan permasalahan-permasalahan sosial. Budaya meliputi : nilai-nilai, adat istiadat, kepercayaan, kebiasaan masyarakat dan tradisi. Dari kedua faktor utama tersebut, untuk mempelajari perilaku membutuhkan tiga cabang ilmu yaitu sosiologi, antropologi dan psikologi, yang sering disebut dengan behavioral science.
Margono S (1998), mengemukakan bahwa perilaku terdiri dari tiga domain yang meliputi : pertama, domain perilaku pengetahuan (knowing behavior), kedua, domain perilaku sikap (feeling behavior) dan ketiga, domain perilaku keterampilan (doing behavior). Apabila pengertian perilaku ini lebih disederhanakan maka perilaku dapat dibagi menjadi 2 unsur yang saling berhubungan satu sama lain yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.
Menurut Lawrence Green (1980), Perilaku dibentuk oleh 3 faktor antara lain:
  1. Faktor pendukung (predisposing factors), mencakup: pengetahuan, sikap, tradisi, kepercayaan/keyakinan, sistem nilai, pendidikan, sosial ekonomi, dan sebagainya.
  2. Faktor pemungkin(enambling factors), mencakup: fasilitas kesehatan, misal: air bersih, pembuangan sampah, MCK, makanan bergizi, dan sebagainya. Termasuk juga tempat pelayanan kesehatan seperti RS, poliklinik, puskesmas, RS, posyandu, polindes, bides, dokter, perawat dan sebagainya.
  3. Faktor penguat (reinforcing factors), mencakup: sikap dan perilaku: toma, toga, petugas kesehatan, Kebijakan/peraturan/UU, LSM.


Berdasarkan teori SOR, maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi :
-  Perilaku tertutup (Covert behavior) : Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati oleh orang lain (dari luar) secara jelas.
-   Perilaku terbuka (Overt behavior) : Perilaku terbuka terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut sudah berupa tindakan, atau praktik ini dapat diamati oleh orang lain dari luar atau observable behavior.
       Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respons ini berbentuk 2 macam, yakni :
- Bentuk pasif adalah respons internal yaitu yang terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tertentu meskipun ibu tersebut tidak membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi. Contoh lain seorang yang menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana meskipun ia sendiri tidak ikut keluarga berencana. Dari kedua contoh tersebut terlihat bahwa ibu telah tahu gunanya imunisasi dan contoh kedua orang tersebut telah mempunyai sikap yang positif untuk mendukung keluarga berencana meskipun mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behaviour).
- Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada kedua contoh di atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain untuk imunisasi dan orang pada kasus kedua sudah ikut keluarga berencana dalam arti sudah menjadi akseptor KB. Oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut overt behaviour.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap adalah merupakan respons seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih bersifat terselubung dan disebut covert behaviour. Sedangkan tindakan nyata seseorang sebagai respons seseorang terhadap stimulus (practice) adalah merupakan overt behaviour.


MEKANISME PEMBENTUKAN PERILAKU
Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan, yang saling bertolak belakang, yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme:
1.    Menurut Aliran Behaviorisme
Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut :   S > R atau S > O > R
S = stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia).
Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini :
W > S > O > R > W
Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu :
a.   Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).
b. Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya)

Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan.
Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut mengipas-ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.
Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O), secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku.
Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut:   W > S > Ow > R > W
Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung, ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas, sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan.
Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W), ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow), –meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya–. berjalan ke depan, meminta ijin ke dosen, dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R), suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W).
2.     Menurut Aliran Holistik (humanisme)
Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Berdasarkan dua aliran tersebut dapat disimpulkan adanya urutan terjadinya perilaku sebagai berikut :

SKEMA PERILAKU
Dari skema tersebut dapat dijelaskan bahwa perilaku terjadi diawali dengan adanya pengalaman-pengalaman seseorang serta faktor-faktor diluar orang tersebut (lingkungan), baik fisik maupun non fisik. Kemudian pengalaman dan lingkungan tersebut diketahui, dipersepsikan, diyakini dan sebagainya, sehingga menimbulkan motivasi, niat untuk bertindak, dan akhirnya terjadilah perwujudan niat tersebut yang berupa perilaku.
  1. PROSEDUR PEMBENTUKAN PERILAKU
Prosedur pembentukan perilaku dalam operant conditioning ini menurut Skinner adalah sebagai berikut :
Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau reinforcer      berupa hadiah-hadiah atau rewards bagi perilaku yang akan dibentuk.
Melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang     membentuk perilaku yang dikehendaki. Kemudian komponen-komponen     tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya perilaku yang dimaksud.
Dengan menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-    tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer atau hadiah untuk masing-masing     komponen tersebut.
Melakukan pembentukan perilaku dengan menggunakan urutan komponen yang     telah tersusun itu. Apabila komponen pertama telah dilakukan maka hadiahnya     diberikan. Hal ini akan mengakibatkan komponen atau perilaku (tindakan)     tersebut cenderung akan sering dilakukan. Kalau perilaku ini sudah terbentuk kemudian dilakukan komponen (perilaku) yang kedua, diberi hadiah (komponen pertama tidak memerlukan hadiah lagi), demikian berulang-ulang sampai komponen kedua terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga,keempat, dan selanjutnya sampai seluruh perilaku yang diharapkan terbentuk.

Sekian dan Terima kasih


PUSTAKA
Green, Lawrence (1980). Health education planing: A diagnostic approach. The John Hopkins University:Maufield Publishing.co.
Margono,S (1997).  Metodologi Penelitian, Yayasan Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.
Soekidjo Notoadmodjo (2005). Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Rineka Cipta. Jakarta.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda