Hai semua... kali ini saya ingin
membahas mengenai perilaku manusia. Apa sih menariknya jika kita mempelajari
perilaku? Ternyata tanpa kita sadari, perilaku itu tidak terbentuk begitu saja,
banyak hal yang mendasarinya. Perilaku itu sendiri diartikan sebagai suatu aksi
atau reaksi organisme terhadap lingkungannya.
Tahukan anda, bahwa perilaku terjadi diawali dengan adanya
pengalaman-pengalaman seseorang dan adanya faktor-faktor diluar orang tersebut
(lingkungan), baik fisik maupun non fisik. Kemudian pengalaman dan lingkungan
tersebut diketahui, dipersepsikan, diyakini dan sebagainya, sehingga
menimbulkan motivasi, niat untuk bertindak, dan akhirnya terjadilah perwujudan
niat tersebut yang berupa perilaku.
Notoadmodjo (2005),
mendefinisikan perilaku sebagai respons atau reaksi seseorang
terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Dengan demikian perilaku
manusia terjadi melalui proses: Stimulus-organisme-respon, sehingga
teori ini disebut dengan teori “S-O-R”. Selanjutnya teori
skinner menjelaskan ada dua jenis respon yaitu :
- Respondent respons atau refleksif, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut dengan elicting stimuli, karena menimbulkan reaksi-raksi yang relatif tetap.
- Operant respons atau instrumental respons, yakni respons yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau rangsangan yang lain. Perangsang yang terakhir ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer , karena berfungsi untuk memperkuat respons.
Berdasarkan beberapa teori di
atas, dapat diuraikan bahwa Perilaku adalah keseluruhan (totalitas)
pemahaman dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama antara
faktor internal dan eksternal. Perilaku terbentuk di dalam diri
seseorang dari dua faktor utama yakni :
- Respons (Faktor dari dalam diri /internal) seperti : perhatian, pengamatan, persepsi, inteligensi,motivasi, fantasi, dan sugesti).
- Stimulus (Faktor dari luar diri/eksternal) seperti : lingkungan (fisik dan non fisik : sosial, budaya).
Berdasarkan penelitian faktor
eksternal yang paling besar peranannya dalam membentuk perilaku
manusia adalah faktor sosial budaya. Sosial meliputi : struktur
sosial, pranata sosial dan permasalahan-permasalahan sosial. Budaya
meliputi : nilai-nilai, adat istiadat, kepercayaan, kebiasaan
masyarakat dan tradisi. Dari kedua faktor utama tersebut, untuk
mempelajari perilaku membutuhkan tiga cabang ilmu yaitu sosiologi,
antropologi dan psikologi, yang sering disebut dengan behavioral
science.
Margono S (1998), mengemukakan
bahwa perilaku terdiri dari tiga domain yang meliputi : pertama,
domain perilaku pengetahuan (knowing behavior), kedua, domain
perilaku sikap (feeling behavior) dan ketiga, domain perilaku
keterampilan (doing behavior). Apabila pengertian perilaku ini lebih
disederhanakan maka perilaku dapat dibagi menjadi 2 unsur yang saling
berhubungan satu sama lain yaitu kecerdasan intelektual dan
kecerdasan emosional.
Menurut Lawrence Green (1980),
Perilaku dibentuk oleh 3 faktor antara lain:
- Faktor pendukung (predisposing factors), mencakup: pengetahuan, sikap, tradisi, kepercayaan/keyakinan, sistem nilai, pendidikan, sosial ekonomi, dan sebagainya.
- Faktor pemungkin(enambling factors), mencakup: fasilitas kesehatan, misal: air bersih, pembuangan sampah, MCK, makanan bergizi, dan sebagainya. Termasuk juga tempat pelayanan kesehatan seperti RS, poliklinik, puskesmas, RS, posyandu, polindes, bides, dokter, perawat dan sebagainya.
- Faktor penguat (reinforcing factors), mencakup: sikap dan perilaku: toma, toga, petugas kesehatan, Kebijakan/peraturan/UU, LSM.
Berdasarkan teori SOR, maka
perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi :
- Perilaku tertutup (Covert behavior) :
Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut
masih belum dapat diamati oleh orang lain (dari luar) secara jelas.
- Perilaku terbuka (Overt behavior) :
Perilaku terbuka terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut
sudah berupa tindakan, atau praktik ini dapat diamati oleh orang lain
dari luar atau observable behavior.
Secara lebih operasional
perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang
terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respons ini
berbentuk 2 macam, yakni :
- Bentuk pasif adalah respons internal yaitu yang terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tertentu meskipun ibu tersebut tidak membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi. Contoh lain seorang yang menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana meskipun ia sendiri tidak ikut keluarga berencana. Dari kedua contoh tersebut terlihat bahwa ibu telah tahu gunanya imunisasi dan contoh kedua orang tersebut telah mempunyai sikap yang positif untuk mendukung keluarga berencana meskipun mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behaviour).
- Bentuk pasif adalah respons internal yaitu yang terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tertentu meskipun ibu tersebut tidak membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi. Contoh lain seorang yang menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana meskipun ia sendiri tidak ikut keluarga berencana. Dari kedua contoh tersebut terlihat bahwa ibu telah tahu gunanya imunisasi dan contoh kedua orang tersebut telah mempunyai sikap yang positif untuk mendukung keluarga berencana meskipun mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behaviour).
- Bentuk aktif yaitu apabila
perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada
kedua contoh di atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas atau
fasilitas kesehatan lain untuk imunisasi dan orang pada kasus kedua
sudah ikut keluarga berencana dalam arti sudah menjadi akseptor KB.
Oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan
nyata maka disebut overt behaviour.
Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap adalah merupakan respons
seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih bersifat
terselubung dan disebut covert behaviour. Sedangkan tindakan nyata
seseorang sebagai respons seseorang terhadap stimulus (practice)
adalah merupakan overt behaviour.
MEKANISME PEMBENTUKAN PERILAKU
Untuk memahami perilaku
individu dapat dilihat dari dua pendekatan, yang saling bertolak
belakang, yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme:
1. Menurut Aliran
Behaviorisme
Behaviorisme memandang bahwa pola-pola
perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan
(reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan
stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan.
Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya
perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut :
S > R atau S > O > R
S = stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia).
Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini :
S = stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia).
Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini :
W > S > O > R > W
Yang dimaksud dengan lingkungan (W =
world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu :
a. Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).
b. Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya)
a. Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).
b. Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya)
Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan.
Contoh : seorang mahasiswa sedang
mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang
terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut mengipas-ngipaskan
buku untuk meredam kegerahannya.
Ruangan kelas yang panas merupakan
lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O),
secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang
dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah
mengipas-ngipaskan buku.
Sedangkan perilaku sadar dapat
digambarkan sebagai berikut: W > S > Ow > R >
W
Contoh : ketika sedang mengikuti
perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak
gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung, ada
seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan
meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di
ruangan kelas, sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih
nyaman dalam mengikuti perkuliahan.
Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W), ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow), –meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya–. berjalan ke depan, meminta ijin ke dosen, dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R), suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W).
Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W), ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow), –meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya–. berjalan ke depan, meminta ijin ke dosen, dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R), suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W).
2. Menurut Aliran
Holistik (humanisme)
Holistik atau humanisme memandang
bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik
(niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor
penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus
yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan
mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how
(bagaimana), dan why (mengapa). What (apa) menunjukkan kepada tujuan
(goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku
itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara
mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu
sendiri. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang
menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how), baik
bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun
yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Berdasarkan dua aliran tersebut dapat
disimpulkan adanya urutan terjadinya perilaku sebagai berikut :
SKEMA PERILAKU
Dari skema tersebut dapat dijelaskan
bahwa perilaku terjadi diawali dengan adanya pengalaman-pengalaman
seseorang serta faktor-faktor diluar orang tersebut (lingkungan),
baik fisik maupun non fisik. Kemudian pengalaman dan lingkungan
tersebut diketahui, dipersepsikan, diyakini dan sebagainya, sehingga
menimbulkan motivasi, niat untuk bertindak, dan akhirnya terjadilah
perwujudan niat tersebut yang berupa perilaku.
- PROSEDUR PEMBENTUKAN PERILAKU
Prosedur pembentukan perilaku
dalam operant conditioning ini menurut Skinner adalah sebagai berikut
:
Melakukan identifikasi tentang hal-hal
yang merupakan penguat atau reinforcer
berupa hadiah-hadiah atau rewards bagi perilaku yang akan dibentuk.
Melakukan analisis untuk
mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang
membentuk perilaku yang dikehendaki. Kemudian komponen-komponen
tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada
terbentuknya perilaku yang dimaksud.
Dengan menggunakan secara urut
komponen-komponen itu sebagai tujuan- tujuan
sementara, mengidentifikasi reinforcer atau hadiah untuk
masing-masing komponen tersebut.
Melakukan pembentukan perilaku dengan
menggunakan urutan komponen yang telah
tersusun itu. Apabila komponen pertama telah dilakukan maka
hadiahnya diberikan. Hal ini akan
mengakibatkan komponen atau perilaku (tindakan)
tersebut cenderung akan sering dilakukan. Kalau perilaku ini sudah
terbentuk kemudian dilakukan komponen (perilaku) yang kedua, diberi
hadiah (komponen pertama tidak memerlukan hadiah lagi), demikian
berulang-ulang sampai komponen kedua terbentuk. Setelah itu
dilanjutkan dengan komponen ketiga,keempat, dan selanjutnya sampai
seluruh perilaku yang diharapkan terbentuk.
Sekian dan Terima kasih
PUSTAKA
Green, Lawrence (1980). Health
education planing: A diagnostic approach. The John Hopkins
University:Maufield Publishing.co.
Margono,S
(1997). Metodologi Penelitian, Yayasan Fakultas
Psikologi UGM, Yogyakarta.
Soekidjo Notoadmodjo (2005). Promosi
Kesehatan Teori dan Aplikasi. Rineka Cipta. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda