Hai semua... Saya pernah membantu seorang teman
dalam menyelesaikan kasus seorang ibu muda yang memiliki
seorang anak berusia 6 tahun, ia datang dengan keluhan akan diceraikan oleh
suaminya dengan berbagai alasan. Dengan
wajah yang penuh dengan penyesalan ia memohon kepada saya
untuk membantu dia agar suami tidak menceraikan. Hal ini membuat ibu muda
tersebut mengalami stres.
Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi catatan
tentang stres yang mungkin sudah menimpa
seluruh bangsa kita. Mengapa saya memberi judul mengatasi dan menikmati stres, bukannya
bagaimana mengatasi dan menghindari stres adalah karena di abad 20 ini stres tidak akan berkurang ,
kita tidak dapat menghindari stres, karena
situasi stres ini terjadi secara lamban, tidak jelas kapan mulainya dan
sering kali kita tidak menyadari keadaan ini.
Masalahnya adalah bagaimana kita dapat hidup dengan
stres tanpa harus merasa distres.
Setiap permasalahan yang menimpa diri seseorang,
disebut STRESOR PSIKOSOSIAL dapat mengakibatkan gangguan fungsi organ
tubuh. Reaksi tubuh ini dinamakan stres
dan bila fungsi organ tubuh ini sampai terganggu maka ini dinamakan distres. Sedangkan DEPRESI adalah reaksi
kejiwaan seseorang terhadap stresor yang dialaminya. Menurut seorang pakar stres yang terkenal Hans Selye , stres adalah “tanggapan reaksi
tubuh terhadap berbagai tuntutan atau beban atasnya yang bersifat non
spesifik.. Manakala tuntutan pada diri
seseorang itu melampaui kemampuannya,
maka keadaan demikian disebut DISTRES. Tubuh akan
berusaha menyelaraskan rangsangan atau stres itu dalam bentuk penyesuaian
diri. Dalam banyak hal individu cepat pulih kembali dari pengaruh
pengalaman stres. Manusia mempunyai
suplai yang baik dari energi penyesauain diri untuk dipakai dan diiisi
kembali..
Lalu permasalahan apa saja yang menyebabkan
seseorang itu merasa stres dapat digolongkan sebagai berikut :
STRESOR
PSIKOSOSIAL
1.
PERKAWINAN 2. PROB ORG
TUA 3.HUB. INTPS’NAL(ANT.PRIB)
4.
PEKERJAAN 5.
LINGK. HIDUP 6.KEUANGAN
7.
HUKUM 8.PERKEMBANGAN 9.PENY. FISIK A/ CIDERA
10.FAKTOR
KELUARGA misalnya
a. Hub. kedua orgtua yg dingin ,
atau penuh ketegangan, acuh tak acuh.
b. Kedua orgtua jarang dirumah &
tdk ada waktu u/ bersama dg anak2
c. Komunikasi ant. orgtua & anak
yg tidak baik
d. Kedua orgtua berpisah atau
bercerai.
e. Salah satu orgtua menderita
gangguan kepribadian
f. Orgtua dlm pendidikan anak kurang
sabar, keras dan otoriter,dll.
11.
lain-lain misalnya bencana alam, kebakaran, perkosaan, kehamilan diluar nikah.
PERKAWINAN
Berbagai
masalah perkawinan merupakan sumber stres bagi seseorang; misal pertengkaran,
perceraian, kematian pasangan hidup,
tidak setia/berselingkuh.
Masalah
orang tua
Tidak
punya anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit, hub yg tidak baik dg
mertua, besan ipar,.
Hub. Interpersonal (antarpribadi)
Sahabat
yang bermasalah, konflik dg sahabat, hub’ atasan bawahan, konflik dg pacar.
Pekerjaan.
Masalah
pekerjaan merupakan sumber stres kedua setelah perkawinan, banyak org menderita
depresi dan kecemasan karena masalah pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan tidak
cocok, mutasi jabatan, PHK,
Lingkungan Hidup
Pindah
tempat tinggal, soal perumahan, penggusuran,
letak rumah yang terlalu berdekatan,
hidup dalam lingkungan yg rawan, merasa tegang dan tidak tenang ini amat
menganggu ketentraman hidup shg tidak jarang orang jatuh dalam depresi dan
kecemasan.
Keuangan.
Kondisi
sosial ekonomi yang tidak sehat, misalnya pendapatan jauh lebih rendah dari
pengeluaran, terlibat hutang, kebangkrutan usaha, soal warisan dsb.
Hukum
Keterlibatan
seseorang dalam masalah hukum dpt mrpkn sumber stres pula, misalnya tuntutan
hukum, pengadilan, penjara
Perkembangan
Yg
dimaksud disini adalah perkembangan baik fisik maupun mental seseorang,
misalnya masa remaja, masa dewasa, masa menopause, masa remaja kedua bagi
pria, lansia.
Perubahan2
yg terjadi pada fase ini dapat menjadi sumber kecemasan yg
menyebabkan seseorang merasa depresi,
Penyakit fisik /Cidera
Sakit parah, kecelakaan, operasi/pembedahan,
aborsi, sakit jantung, kanker
Faktor Keluarga
Dengan
mengetahui sumber stres ini tidak berarti kita berusaha menghindarkan diri dari keadaan ini namun
dengan mengetahui keadaan ini kita mencoba mengelola respon terhadap
stres. Bahkan seperti saya ceritakan
diawal cerita saya tadi ternyata keadaan stres yang dialami ibu muda tersebut
menyebabkan ia menjadi kreatif.
Lalu
bagaimana caranya agar kita dapat mengelola
respon terhadap stres ini?.
Yang dapat kita lakukan antara lain adalah mengenali
pribadi kita sendiri.
Berdasarkan
penelitian terhadap 3000 individu maka
ternyata terdapat 2 tipe perilaku yang
berhubungan dengan stres.
1
TIPE PERILAKU A
2.TIPE
PERILAKU B
Dari hasil penelitian tersebut ternyata mereka yang
memiliki tipe perilaku A memiliki
kemungkinan 2 kali lebih besar untuk mendapat serangan jantung atau
penyakit jantung koroner. Pada kesempatan ini saya akan
membagikan lembar pertanyaan yang sebaiknya ibu isi dirumah dan menilai sendiri
termasuk kelompok perilaku yang mana saya ini ?.
Bila
ibu termasuk dalam kelompok perilaku Tipe A , yang
berarti anda orangnya tidak suka diam, selalu bergerak, bicara dengan cepat,
berbicara secara eksplisit, tidak sabar, memotong kalimat orang yang sedang
berbicara, cenderung beruaha untuk menyelesaikan 2/3 pekerjaan dalam satu
waktu.; sambil makan membaca, sambil bawa mobil menyelesaikan maslaah keuangan,
selalu menginginkan agar orang lain
menuruti keingiannya, tidak bisa santai
meskipun pada waktu libur, tidak pernah puas dan tidak pernah menghargai
hal-hal disekitarnya., mencoba menyusun jadawal yg lebih padat dg waktu yg
lebih singkat., sangat kompetitif
dan menilai diri berdasarkan
jumlah kesuksesan yg diraihnya dan bukan dari kualitas kesuksesannya.
Singkatnya
orang tipe A adalah seorang pekerja keras, pesaing, tidak sabaran dan
agresif. Meraka cenderung berusaha
mewujudkan prestasi. Slogannya”Kita mencoba lebih keras”.
Penelitian
terhadap 225 dokter dengan melihat korelasi antara persaingan dan sakit jantung
. Mereka di tes sewaktu mereka masuk ke Fak. Kedokteran
dan dilihat 25 thn kemudian, ternyata mereka yang memiliki hasil test
persaingan diatas 5 memiliki 5 kali lebih besar kemungkinannya untuk mendapt
sakit jantung koroner, sedangkan untuk angka kematian 6,4 kali lebih besar bagi
mereka yang memperoleh angka diatas titik tengah dibandingkan dengan mereka
yang memperoleh angka dibawah titik tengah.
Sedangkan
orang dengan perilaku Tipe B terbebas dari kebiasaan diatas tadi.
Mereka
bisa sabar, jarang kehilangan kesabaran, atau terburu waktu., jarang marah,
cenderung menikmati rekreasinya dan santai. Setelah ibu menyadari tipe mana yang sesuai dengan
diri saya maka ibu lalu dapat mengelola respon dengan berusaha menahan diri dan mengenali kelemahan
diri.
Dengan
mengenali kecenderungan perilaku ibu maka diharapkan pada saat ibu berada dalam
situasi yang dapat menyebabkan ibu menjadi stres, maka ibu dapat mengelola
respon apa yang sebaiknya kita tampilkan.
Demikian
sedikit catatan saya sehubungan dengan stres semoga
dapat memberi manfaat, mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan. Terima
kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda