Kamis, 18 April 2013

Permasalahan Stres



Hai semua... Saya pernah membantu seorang teman dalam menyelesaikan kasus seorang ibu  muda yang memiliki seorang anak berusia 6 tahun, ia datang dengan keluhan akan diceraikan oleh suaminya dengan berbagai alasan. Dengan wajah yang penuh dengan penyesalan ia memohon kepada saya untuk membantu dia agar suami tidak menceraikan. Hal ini membuat ibu muda tersebut mengalami stres. 
    Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi catatan tentang stres yang mungkin sudah menimpa seluruh bangsa kita. Mengapa saya memberi judul mengatasi dan menikmati stres, bukannya bagaimana mengatasi dan menghindari stres adalah karena  di abad 20 ini stres tidak akan berkurang , kita tidak dapat menghindari stres, karena  situasi stres ini terjadi secara lamban, tidak jelas kapan mulainya dan sering kali kita tidak menyadari keadaan ini.  Masalahnya  adalah bagaimana kita dapat hidup dengan stres tanpa harus merasa distres. 
   Setiap permasalahan yang menimpa diri seseorang, disebut STRESOR PSIKOSOSIAL dapat mengakibatkan gangguan fungsi organ tubuh.  Reaksi tubuh ini dinamakan stres dan bila fungsi organ tubuh ini sampai terganggu  maka ini dinamakan distres. Sedangkan DEPRESI  adalah reaksi kejiwaan seseorang  terhadap stresor  yang dialaminya. Menurut seorang pakar stres yang terkenal  Hans Selye , stres adalah “tanggapan reaksi tubuh terhadap berbagai tuntutan atau beban atasnya yang bersifat non spesifik..   Manakala tuntutan pada diri seseorang itu melampaui  kemampuannya, maka keadaan demikian disebut DISTRES. Tubuh akan berusaha menyelaraskan rangsangan atau stres itu dalam bentuk penyesuaian diri.   Dalam banyak hal  individu cepat pulih kembali dari pengaruh pengalaman stres.  Manusia mempunyai suplai yang baik dari energi penyesauain diri untuk dipakai dan diiisi kembali..

Lalu  permasalahan apa saja yang menyebabkan seseorang itu merasa stres dapat digolongkan sebagai berikut :
STRESOR PSIKOSOSIAL
1. PERKAWINAN                   2. PROB ORG TUA     3.HUB. INTPS’NAL(ANT.PRIB)
4. PEKERJAAN                                   5. LINGK. HIDUP                   6.KEUANGAN
7. HUKUM                                          8.PERKEMBANGAN  9.PENY. FISIK A/ CIDERA
10.FAKTOR KELUARGA  misalnya
            a. Hub. kedua orgtua yg dingin , atau penuh ketegangan, acuh tak acuh.
            b. Kedua orgtua jarang dirumah & tdk ada waktu u/ bersama dg anak2
            c. Komunikasi ant. orgtua & anak yg tidak baik
            d. Kedua orgtua berpisah atau bercerai.
            e. Salah satu orgtua menderita gangguan kepribadian
            f. Orgtua dlm pendidikan anak kurang sabar, keras dan otoriter,dll.
11. lain-lain misalnya bencana alam, kebakaran, perkosaan, kehamilan diluar nikah.

PERKAWINAN
Berbagai masalah perkawinan merupakan sumber stres bagi seseorang; misal pertengkaran, perceraian, kematian pasangan hidup,  tidak setia/berselingkuh.

Masalah orang tua
Tidak punya anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit, hub yg tidak baik dg mertua, besan ipar,.

Hub. Interpersonal (antarpribadi)
Sahabat yang bermasalah, konflik dg sahabat, hub’ atasan bawahan, konflik dg pacar.

Pekerjaan.
Masalah pekerjaan merupakan sumber stres kedua setelah perkawinan, banyak org menderita depresi dan kecemasan karena masalah pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, mutasi jabatan, PHK,

Lingkungan Hidup
Pindah tempat tinggal, soal perumahan, penggusuran,  letak rumah yang terlalu berdekatan,  hidup dalam lingkungan yg rawan, merasa tegang dan tidak tenang ini amat menganggu ketentraman hidup shg tidak jarang orang jatuh dalam depresi dan kecemasan.

Keuangan.
Kondisi sosial ekonomi yang tidak sehat, misalnya pendapatan jauh lebih rendah dari pengeluaran, terlibat hutang, kebangkrutan usaha, soal warisan dsb.


Hukum
Keterlibatan seseorang dalam masalah hukum dpt mrpkn sumber stres pula, misalnya tuntutan hukum, pengadilan, penjara

Perkembangan
Yg dimaksud disini adalah perkembangan baik fisik maupun mental seseorang, misalnya masa remaja, masa dewasa, masa menopause, masa remaja kedua bagi pria,  lansia.
Perubahan2 yg terjadi pada fase ini dapat menjadi sumber kecemasan  yg  menyebabkan seseorang merasa depresi,

Penyakit fisik /Cidera
Sakit  parah, kecelakaan, operasi/pembedahan, aborsi,  sakit jantung, kanker

Faktor Keluarga
Dengan mengetahui sumber stres ini tidak berarti kita berusaha  menghindarkan diri dari keadaan ini namun dengan mengetahui keadaan ini kita mencoba mengelola respon terhadap stres.   Bahkan seperti saya ceritakan diawal cerita saya tadi ternyata keadaan stres yang dialami ibu muda tersebut menyebabkan ia menjadi kreatif.

Lalu bagaimana caranya  agar kita dapat mengelola respon terhadap stres ini?.

   Yang dapat kita lakukan antara lain adalah mengenali pribadi kita sendiri.
Berdasarkan penelitian terhadap 3000  individu maka ternyata terdapat 2  tipe perilaku yang berhubungan dengan stres.
1 TIPE PERILAKU  A
2.TIPE PERILAKU B
      Dari hasil penelitian tersebut ternyata mereka yang memiliki tipe perilaku A memiliki  kemungkinan 2 kali lebih besar untuk mendapat serangan jantung atau penyakit jantung koroner. Pada kesempatan ini saya akan membagikan lembar pertanyaan yang sebaiknya ibu isi dirumah dan menilai sendiri termasuk kelompok perilaku yang mana saya ini ?.

Bila ibu termasuk dalam kelompok perilaku Tipe A , yang berarti anda orangnya tidak suka diam, selalu bergerak, bicara dengan cepat, berbicara secara eksplisit, tidak sabar, memotong kalimat orang yang sedang berbicara, cenderung beruaha untuk menyelesaikan 2/3 pekerjaan dalam satu waktu.; sambil makan membaca, sambil bawa mobil menyelesaikan maslaah keuangan, selalu  menginginkan agar orang lain menuruti keingiannya, tidak bisa santai  meskipun pada waktu libur, tidak pernah puas dan tidak pernah menghargai hal-hal disekitarnya., mencoba menyusun jadawal yg lebih padat dg waktu yg lebih singkat., sangat kompetitif  dan  menilai diri berdasarkan jumlah kesuksesan yg diraihnya dan bukan dari kualitas  kesuksesannya.

Singkatnya orang tipe A adalah seorang pekerja keras, pesaing, tidak sabaran dan agresif.  Meraka cenderung berusaha mewujudkan prestasi. Slogannya”Kita mencoba lebih keras”.

Penelitian terhadap 225 dokter dengan melihat korelasi antara persaingan dan sakit jantung .  Mereka di tes sewaktu mereka masuk ke Fak. Kedokteran  dan dilihat 25 thn kemudian, ternyata mereka yang memiliki hasil test persaingan diatas 5 memiliki 5 kali lebih besar kemungkinannya untuk mendapt sakit jantung koroner, sedangkan untuk angka kematian 6,4 kali lebih besar bagi mereka yang memperoleh angka diatas titik tengah dibandingkan dengan mereka yang memperoleh angka dibawah titik tengah.

Sedangkan orang dengan perilaku Tipe B terbebas dari kebiasaan diatas tadi.
Mereka bisa sabar, jarang kehilangan kesabaran, atau terburu waktu., jarang marah, cenderung menikmati rekreasinya dan santai. Setelah  ibu menyadari tipe mana yang sesuai dengan diri saya maka ibu lalu dapat mengelola respon dengan  berusaha menahan diri dan mengenali kelemahan diri.

Dengan mengenali kecenderungan perilaku ibu maka diharapkan pada saat ibu berada dalam situasi yang dapat menyebabkan ibu menjadi stres, maka ibu dapat mengelola respon apa yang sebaiknya kita tampilkan.

Demikian sedikit catatan saya sehubungan dengan stres semoga dapat memberi manfaat, mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda