Hai
semua.. Kali ini saya akan membahas mengenai terapi wicara. Terapi wicara
merupakan gabungan dari kata terapi yang berarti cara mengobati suatu penyakit
atau kondisi patologis, dan kata wicara yang berarti media komunikasi secara
oral yang menggunakan simbol-simbol linguistik, dimana dengan media ini
seseorang dapat mengekspresikan ide, pikiran dan perasaan. Dengan demikian
istilah terapi wicara memiliki pengertian yaitu cara atau teknik pengobatan
terhadap suatu kondisi patologis di dalam memformulasikan ide, pikiran dan
perasaan ke bentuk ekspresi verbal atau media komunikasi secara oral.
Secara terminologis bahwa terapi wicara diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang gangguan bahasa, wicara dan suara yang bertujuan untuk digunakan sebagai landasan membuat diagnosis dan penanganan.
Dalam perkembangannya terapi wicara memiliki cakupan pengertian yang lebih luas dengan mempelajari hal-hal yang terkait dengan proses berbicara, termasuk di dalamnya adalah proses menelan, gangguan irama / kelancaran dan gangguan neuromotor organ artikulasi (articulation) lainnya.
Secara terminologis bahwa terapi wicara diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang gangguan bahasa, wicara dan suara yang bertujuan untuk digunakan sebagai landasan membuat diagnosis dan penanganan.
Dalam perkembangannya terapi wicara memiliki cakupan pengertian yang lebih luas dengan mempelajari hal-hal yang terkait dengan proses berbicara, termasuk di dalamnya adalah proses menelan, gangguan irama / kelancaran dan gangguan neuromotor organ artikulasi (articulation) lainnya.
I. Latihan Pernapasan
1. Meniup.
2. Menghisap.
3.
Menyedot.
II. Latihan Motorik Mulut
1.
Membuka
mulut.
2.
Menutup
mulut.
3.
Memonyongkan
bibir.
4.
Menggembungkan
pipi.
5.
Latihan
mingkem (merapatkan kedua bibir).
III. Latihan Motorik Lidah
1.
Menjulurkan
lidah.
2.
Menaruh
lidah ke langit atas.
3.
Menaruh
lidah ke atas bibir.
4.
Menggerakkan
lidah ke kiri dan ke kanan.
IV. 1. Latihan Vokal
A, I, U, O, E
2.
Latihan
Vokal Agak Rumit
AI IA IO UA EA OA
AU UA IU UI EU OI
AE EA IE UE EI OE
AO OA IA UO EO OU
3.
Latihan
Konsonan
a.
Konsonan Getar b.
Konsonan Tidak Bergetar
b
/ d /
g / p /
t / k /
v
/ z / f
/ h /
s / c
/ sh /
m
/ n /
ny / ng /
r
/ l /
j
/ y /
w /
4. Latihan Awalan, Sisipan, Akhiran
a.
Awalan
- Bau
b.
Sisipan
- Iba
c.
Akhiran
-
Air
5. a. Latihan Kata sederhana (2 suku
kata).
b. Latihan Kata agak rumit (3 suku kata).
6.Latihan
2 Kata
7.
Pembentukan
artikulasi
·
Metode
Pembentukan Artikulasi
a.
Phonetic Placement Approach
Adalah
latihan bicara untuk melakukan dan menempatkan articulator yang spesifik guna
memproduksi macam-macam bunyi bicara.
Untuk
memproduksi bunyi wicara tersebut seorang anak harus dapat menggerakkan
alat-alat wicara secara benar, merasakan gerakannya, dan mendengarkan bunyinya
selagi memproduksinya. Seseorang yang mempunyai gannguan atau penyimpangan
artikulasi harus mengembangkan kemampuan menempatkan artikulator-artikulator
tersebut pada posisi apa saja yang diperlukan untuk tujuan bicara.
b. Motokinesthetic Approach
Pada
latihan ini individu yang mempunyai misartikulasi perlu mempelajari “merasakan”
gerakan-gerakan artikulasi melalui manipulasi dari Terapis. Artinya Klinisian
memproduksi suatu bunyi yang diikuti klien dengan demikian klien dapat
menghubungkan gerakan artikulasi dengan tambahan masukan pendengaran. Kemudian
anak memproduksi kembali gerakan artikulasi melalui rasa gerak dengan dibantu
masukan pendengaran tadi.
c. Sensor Motor Approach
Suatu
usaha pendekatan/metode yang menekankan terlibatnya sensasi sensoris, sensasi
motoris, sensasi propioseptif, sensasi taktil untuk memproduksi bicara sehingga
menghasilkan gerakan atikulasi. Metode ini juga bisa digunakan untuk gangguan
bicara dispraksi verbal dan disatria.
d. Nonsense Material
Approach
Adalah anak belajar
mengucapkan kata/suku kata tanpa arti dengan tujuan memperkuat kemampuan anak
mengucapkan fonem dan gabungan vokal dan konsonan.
Metode yang sering digunakan adalah
metode Phonetic Placement, gunanya agar anak menyadari dan mampu
memproduksi satu bunyi bahasa, kemudian digabung dengan Motokinesthetic
Approach. Setelah terlihat stabilisasi dalam pengucapan bunyi bahasa,
dilanjutkan dengan penggunaan metode Sensory Motor Approach. Tujuan
Sensori Motor Approach adalah menstabilisasikan pengucapan setiap fonem dan
konsonan.
Langkah berikut adalah menggunakan Nonsense
Material Approach, dengan syarat bahwa anak telah mampu mengucapkan bunyi
konsonan. Dan yang penting dicatat bahwa dalam melatih dan memproduksi satu
bunyi bahasa tidak hanya memakai satu cara atau metode tetapi dapat
mengkombinasi dari metode-metode itu.
Semoga bermanfaat dan terima Kasih..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda