Hai semua.. kalian pasti sudah mengerti
tentang psikologikan? Dan psikologi itu mempunyai banyak terapi yang dapat
digunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan secara psikis, salah
satunya adalah Cognitive behavior therapy. Sekarang saya akan membahas terapi tersebut.
Cognitive behavior therapy adalah terapi yang menggabungkan terapi perilaku dan
terapi kognitif Albert Ellis dan Aaron T. Beck, yang kemudian dikembangkan oleh
Meichenbaum & Mahoney (Oemarjoedi, 2003). Pendekatan kognitif dalam terapi
perlakuan ini sebenarnya merupakan salah satu pengembangan terbaru bidang ini,
pendekatan ini memanfaatkan hukum-hukum teori belajar untuk membantu mengatasi masalah-masalah
psikologis. Cognitif Behavior
Therapy dapat dijadikan sebagai alternatif terapi yang memiliki metode
pendukung yang konsisten dan fakta terdahulu yang efektif dalam menurunkan
tingkat depresi (Weersing & Weisz,
2002).
Cognitive
Behavior Therapy
menurut Ellis & Beck (Oemarjoedi, 2003) adalah sebagai berikut:
a. Cognitive Behavior Therapy menggunakan pendekatan perilaku yang menekankan pada
pentingnya peran kognitif.
b. Asumsinya adalah bahwa gangguan emosi disebabkan
oleh adanya distorsi kognitif.
c. Terdapat 10 (sepuluh) jenis distorsi kognitif;
yakni pemikiran dikotomik, overgeneralisasi, filter mental, diskualifikasi
positif, loncatan kesimpulan, pembesaran atau pengecilan, penalaran emosional,
pernyataan “harus” memberi cap, label serta personalisasi.
d. Teknik ABC digunakan untuk mengidentifikasi
distorsi kognitif dan mengatasi pikiran yang kacau.
Cognitive
behavior therapy merupakan pendekatan perubahan perilaku yang memokuskan
pada target perilaku itu sendiri, kondisi menghilangkan perilaku, kondisi
memertahankan perilaku dan faktor-faktor yang menguatkan perilaku itu.
Pendekatan ini mengakui pentingnya kognisi individu terhadap perilakunya
(Taylor, 1995).
Cognitive
Behavioral Therapy
(CBT) atau disebut juga dengan istilah Cognitive
Behavioral Modification merupakan salah satu terapi modifikasi perilaku
yang menggunakan kognisi sebagai kunci dari perubahan perilaku. Terapis
membantu klien dengan cara membuang pikiran dan keyakinan buruk klien, kemudian
diganti dengan konstruksi pola pikir yang lebih baik (Martin dkk, 2003).
Menurut Horwin (Sudrajat, 2008) Cognitive behavior therapy adalah salah
satu bentuk konseling yang bertujuan membantu klien agar dapat menjadi lebih
sehat, memeroleh pengalaman memuaskan dan memenuhi gaya hidup tertentu, dengan
cara memodifikasi pola pikir dan perilaku tertentu. Pendekatan CBT memusatkan
perhatian pada proses berpikir klien yang berhubungan dengan kesulitan
emosional dan psikologi klien. Pendekatan ini akan berupaya membantu klien
mengubah pikiran-pikiran atau pernyataan diri negatif dan keyakitan-keyakinan
pasien yang tidak rasional atau mengganti cara-cara berpikir yang tidak logis
menjadi logis (Cormier dalam Lubis, 2009).
Pendekatan kognitif mengutamakan
kognisi atau pikiran, proses berpikir dan bagaimana kognisi memengaruhi emosi
dan perilaku. Perilaku dipandang sebagai media kognisi dan perilaku dapat
dimodifikasi dengan mengubah pikiran-pikirannya. Pendekatan ini lebih
memokuskan pada proses berpikir yang terkontribusi terhadap perilaku dan emosi
maladaptif (Ronen, 1997). Menurut teori ini, psikopatologi terjadi bila
terdapat ketidaksesuaian antara tuntutan lingkungan dengan kapasitas adaptif
individu saat itu.
Pendekatan
behavior
dan cognitive behavior atau yang
dikenal dengan behavior therapy merupakan terapi
perilaku yang didasari dari pandangan aliran behaviorisme. Orang-orang
behavioris menitikberatkan pada pengaruh lingkungan sebagai faktor utama yang
mempengaruhi proses belajar seseorang. Terapi perilaku ini sendiri sulit untuk
didefinisikan karena adanya beberapa pendekatan perilaku sendiri yang berbeda
dalam model terapi ini. Beberapa teknik perilaku yang digunakan oleh pendekatan
behavioral adalah teknik relaksasi, hirarki kecemasan, exposure
therapy, modeling, dan CBT (cognitive
behavior therapy). Teknik CBT sendiri merupakan percampuran dari
teknik perubahan perilaku dengan perubahan peran kognisi dalam diri seseorang.
Hal ini didasari dari perspektif kognitif bahwa kognisi seseorang merupakan
penyebab dan pemelihara berlanjutnya suatu masalah. Oleh karena itu terapi ini
berfokus untuk merubah kognitif subjek terlebih dahulu lalu merubah perilaku
yang bermasalah. CBT dipandang sebagai intervensi klinis yang paling efektif
hingga saat ini
Rancangan Intervensi Cognitive Behavior Therapy (CBT)
Materi
|
Rincian kegiatan dan tujuan
|
a. Menemukan pikiran yang negatif
b. Menyadarkan adanya perangkap negatif
c. Kontuksi pikiran otomatis
d. Relaksasi
e. Ketrampilan memecahkan masalah
f. Menetapkan tujuan
g. Latihan kognitif
h. Latihan untuk mengubah prilaku terhadap objek
|
Memberikan pertanyaan
langsunguntuk menemukan pikiran negatif. Contoh “Apa yang kamu pikirkan saat
terjadi situasi seperti itu?” subjek menjawabnya “batu itu akan melukai kaki saya”
a. Subjek perlu menyadari adanya kaitan antara pikiran,
perasaan, dan perilaku. Tujuannya adalah untuk memperlihatkan kepada subjek
bagaimana suatu kejadian atau peristiwa yang menurut subjek tersebut sangat
sulit atau sukar untuk mengaktifkan kembali keyakinan atau pikiran yang
selama ini dimiliki. Maka dari itu perlu dijelaskan bahwa perangkap negatif
ini seperti jebakan yang terus memelihara atau berperan sebagai lingkaran
pengalaman hidup yang tidak fungsional. Cara berfikir akan mempengaruhi
perasaan, reaksi fisik dari perilaku. Maka itu, perangkap ini harus disadari
dan “diputuskan rantainya” agar pikiran, perasaan, dan perilaku kita kembali
berfungsi dengan tepat.
b. Dilakukan untuk memastikan bahwa subjek tidak tidak
lagi memiliki pikiran-piran negatif dan terjebak dalam perangkap negatif
tersebut. Fungsinya adalah untuk mengecek pikirang yang dimiliki oleh subjek
dan menemukan alternatif berfikir lain yang lebih membantu subjek, serta
subjek diajak untuk menyadari sebanyak mungkin sudut pandang terhadap suatu
masalah. Baik itu sudut pang yang positif maupun degatif serta dapat juga
netral. Subjek juga dapat menemukan cara untuk mengontrol perasaan yang tidak
menyenangkan, belajar mengatasi dan memecahkan masalah yang dihadapi oleh
subjek. Hal ini dapat membantu subjek untuk dapat berfikir dengan positif dan
menghentikan sifat cemas yang terlalu berlebihan yang terdapat dalam diri
subjek.
c. Relaksasi diberikan dan dilatih secara berulang-ulang
supaya subjek tidak hanya merasa rileks saat itu saja, tetapi melainkan juga
selama subjek melaksanakanb aktivitas sehari-hari. Relaksasi diajarkan kepada
subjek agar dapat menurunkan ketegangan psikologis dan merupakan salah satu cara
untuk menghadapi stress ataupun suasana hati yang negati (Weersing, Gonzalez,
Campo, & Lucas, 2008). Jenis relaksasi yang akan dilathkan dan digunakan
dalam intervensi ini adalah relaksasi pernafasan dan set place.
d. Mengidentifikasi masalah yang dihadapi adalah: pada
tahap ini, terapis juga mengidentifikasikan sumber-sumber yang dimiliki oleh
subjek. Misalnya, mekuatan dan pengalaman dalam memecahkan masalah yang mirip
atau yang sekarang dihadapi. Pada saat itu gejala-gejala psikologis yang
pernah dialami saat mengalami masalah, serta tingkat kemampuan subjek dalam
memberikan solusi-solusi yang sangat potensial untuk dirinya sendiri. Selain
itu, terapis juga perlu memperhatikan dukungan-dukungan yang dimiliki oleh
subjek, seperti dari orang terdekatnya maupun lingkungan sekitarnya.
e. Membantu subjek mencari solusi yang potensial untuk
masalah tersebut dengan cara:
1. Brainstorming, yaitu salah satu teknik untuk membantu
subjek membangkitkan ide-ide mengenai solusi yang mungkin dilakukan. Terapis
bersama subjek menuliskan semua
ide-ide yang diungkapkan oleh subjek. Kemudian mengidentifi
kesulitan-kesulitan yang mungkin akan dihadapi oleh subjek, baik ketika
diperaktikkan, maupun secara kognitif, dan cara mengatasinya.
2. Teknik dua kolom (teknik pros dan cons), teknik ini
berguna saat subjek harus membuat pilihan antara dua hal atau dua solusi yang
potensial terhadap satu masalah. Terapi dan subjek bersama-sama menulis
keuntungan dan kerugian dari masing-masing pilihan, dari hasil yang akan
diperoleh, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
f. Latihan menggunakan imajinasi untuk membayangkan secara
detail mengenai tahap-tahap yang akan dilakukan oleh subjek dan konsekuensi
yang mungkin dihadapi oleh subjek. Tujuannya
adalah untuk membantu subjek mengembangkan kepercayaan dirinya dalam
mengidentifikasi kemungkinan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi oleh
subjek tersebut
g. Latihan perilaku dengan mendekati objek yang ditakuti
dari jarak yang rendah sampai yang tertinggi
1. Melihat pantai atau kali dari 1 meter
2. Mendekati pantai atau kali dan melihat batu cadas dan
kerikil dalam jarak 1 meter
3. Melihat dan mendekati batu cadas dan kerikil dalam
jarak 100 meter.
4. Menginjak kaki ke pasir
5. Berjalan dan menyentuhkan kaki ke baru krikil dan batu cadas.
|
Conto Pelaksanaan Intervensi
Konsdisi awal
|
Kegiatan tritmen
|
Hasil
|
Subjek selalu merasa takut, gelisah,
berkeringat dingin, nafas tersengal-sengal
|
1. Mengindentifikasikan dan mengoreksi keyakinan-keyakinan
yang disfungsional dan merekonstruksikan melalui pemaparan agar subjek
menyadari bahwa pikiran yang menghasilkan kecemasan harus dihadapi dan bukan
dihindari.
2. Mengajarkan subjek relaksasi pernafasan dan mengajarkan
subjek secara bertahap berhadapan dengan stimulus pembangkit kecemasannya,
yaitu batu cadas yang ada di pantai.
|
Dengan kegiatan yang telah
dilaksanakan oleh subjek, maka dengan inisiatifnya sendiri, subjek telah
mampu mengatasi kecemasannya dan pergi ke pantai.
|
DAFTAR PUSTAKA
Oemarjoedi,
A. K. (2003). Pendekatan cognitive
behavior dalam psikoterapi. Jakarta: Penerbit Creatif Media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda