Hai semua.. kali ini saya akan membahas tentang depresi. Semakin berkembanganya jaman, semakin besar pula tekanan yang diterima oleh setiap orang. Jika individu tidak dapat menghadapi tekanan hidup yang dialaminya maka individu tersebut memiliki kecenderungan untuk mengalami depresi. Depresi sebagai keadaan
abnormal organisme yang dimanifestasikan dengan tanda simptom- symptom seperti:
menurunya mood subjektif, rasa pesimis dan sikap nihilistic, kehilangan
kespontanan dan gejala vegetatif (seperti kehilangan berat badan dan gangguan
tidur). Depresi juga merupakan kompleks gangguan yang meliputi gangguan afeksi,
kognisi, motivasi dan komponen perilaku (Beck dalam McDowell & Newel, 1996).
Depresi sebagai sindrom
adalah keadaan dari simtom yang terjadi, termasuk perasaan sedih dan kesepian,
dan juga khawatir dan kecemasan. Depresi sebagai gangguan (kadang-kadang mengacu
sebagai “depresi klinis” atau depresi unipolar) mengacu pada tingkat mendalam
dari simtom ini dan memiliki etiologi spesifik, tujuan, dan hasil. Seperti
halnya dengan semua gangguan didefinisikan oleh DSM, kuncinya adalah kombinasi
dari simtom yang cukup signifikan untuk menyebabkan kesulitan dan/atau
mengganggu fungsi.
Teori–Teori Depresi
Ada beberapa teori yang
dapat digunakan untuk menjelaskan munculnya gangguan depresi, yaitu:
a.Teori Biologi
Teori biologi ini
mempunyai asumsi bahwa penyebab depresi terletak pada gen atau malfungsi
beberapa faktor fisiologik yang memungkinkan faktor tersebut (dalam Sarason dan
Sarason,1989).
b.Pandangan psikodinamika
Studi psikologik tentang
depresi dimulai oleh sighmund freud dan karl Abraham. Keduanya menggambarkan
bahwa depresi merupakan reaksi kompleks terhadap kehilangan atau (loss). Freud
dalam bukunya “Mourning and Melancholia” menggambarkan bahwa rasa sedih yang
normal dan depresi sebagai respon dari kehilangan seseorang atau sesuatu yang
dicintainya (Davidson dan Neale, 1997). Pada orang yang mengalami depresi
terjadi pengurangan harga diri secara luar biasa dan mengalami kemiskinan ego pada
skala yang besar (dalam Sarason dan Sarason,1989).
c.Pandangan Behavioral.
c.Pandangan Behavioral.
Teori belajar berasumsi
bahwa antara depresi dan penguat yang kurang (Lack of Reinforcment) saling
berhubungan satu sama lain. Pandangan Behavioral menjelaskan bahwa orang yang
mengalami depresi kurang menerima penghargaan (rewards) atau dengan kata lain
lebih mengalami hukuman (punishment) daripada orang yang tidak mengalami
depresi (dalam Sarason dan Sarason,1989).
d.Pandangan humaistik –
eksistansial.
Teori eksistensial
memfokuskan kehilangan harga diri sebagai penyebab depresi utama. Kehilangan
harga diri dapat nyata atau simbolik, misal kehilangan kekuasaan, status sosial
atau uang. Teori humanistic menekankan perbedaan self seseorang dengan keadaan
yang nyata sebagai sumber depresi dan kecemasan. Menurut pandangan ini depresi
terjadi jika perbedaan antara ideal self dan kenyataan terlalu besar (dalam
Sarason dan Sarason, 1989).
e.Pandangan Kognitif.
Teori depresi berdasarkan
kognitif ini merupakan teori yang paling sering digunakan dalam penelitian
tentang depresi (dalam susanty, 1997) Hal ini disebabkan karena teori kognitif
selama ini sangat efektif digunakan untuk terapi terhadap deopresi. Teori ini
menyatakan bahwa seseorang yang berpikiran negatif tentang dirinya akan
menelusuri lebih lanjut bahwa mereka melakukan interpretasi yang salah dan
menyimpang dari realita. Salah satu teori kognitif adalah teori depresi beck
(Atkinson 1991). Teori tersebut menyatakan bahwa seseorang yang yang mudah
terkena depresi telah mengembangkan sikap umum untuk menilai peristiwa dari
segi negative dan kritik diri.
The Developmental Dimension
Developmental Differences in Depressive Symptoms
Berdasarkan penggabungan Hammen dan Rudolph (2003),
Shafii dan Shafii (1992), dan studi individual ditinjau oleh Weiss dan Garber
(2003), kita dapat merumuskan penemuan selama ini mengenai perbedaan
perkembangan dalam symptom dari depresi.
Infancy and Toddlerhood
Tanda-tanda depresi pada anak-anak yang sangat muda
dapat termasuk penundaan atau kehilangan pencapaian, seperti toilet training, kebiasaan tidur yang
baik, dan pertumbuhan intelektual. Ekspresi wajah sedih dan tatapan yang tidak
disukai dapat terlihat. Anak-anak mungkin menggunakan perilaku melukai diri
seperti membenturkan kepala, dan menggigit diri, juga perilaku menenangkan diri
seperti bergerak atau menghisap ibu jari. Perilaku melekat dan menuntut dapat
diganti dengan kelesuan dan tanpa gairah.
Preschool
Anak preschool yang depresi tidak memungkinkan untuk memverbalisasikan
perasaan dari dysphoria dan ketiadaan
harapan, tetapi malahan cenderung dikarakteristikkan melalui penampilan sedih.
Anak preschool yang depresi dapat
mengalami hilangnya minat dalam kegiatan menyenangkan atau prestasi.
Keterhambatan perkembangan mungkin jelas, seperti hilangnya kemampuan kognitif
dan bahasa, penarikan sosial, dan cemas berlebih mengenai keterpisahan dengan
pengasuh. Somatik yang tidak jelas mengeluh, lekas marah, dan masalah tidur dan
mimpi buruk juga terlihat.
School Age
Sebagai pendekatan anak-anak
usia sekolah, gambaran simptom-simptom mereka lebih mirip dengan orang dewasa.
Mood depresi menjadi jelas, seperti ekspresi dari harga diri yang rendah,
mengkritik diri, dan rasa bersalah. Kehilangan motivasi mungkin memengaruhi
ketertarikan anak dalam berpartisipasi dalam aktivitas sosial atau yang
berhubungan dengan sekolah. Sebagai tambahan, anak usia sekolah yang depresi
dapat terlibat dalam perilaku menganggu dan agresif yang secara negatif
memengaruhi hubungan teman sebaya mereka dan hasil akademis. Gangguan makan dan
tidur mungkin terlihat, seperti penundaan perkembangan. Ketika usia anak
bertambah, simptom menjadi lebih berat, dan ada kehilangan lebih besar terhadap
minat atau kesenangan dalam aktivitas menyenangkan sebelumnya, dan bunuh diri
dimungkinkan.
Adolescence
Remaja paling mungkin untuk
secara langsung memverbalisasikan perasaan sedih dan keadaan sukar mereka.
Simptom lainnya dari depresi dalam remaja termasuk mood berayun yang tajam dan
negatif, secara sering disertai oleh pembolosan, kelakuan yang buruk, dan
menurunnya pencapaian akademis, Hipersomnia (tidur terlalu banyak) adalah
simptom lain yang terlihat lebih sering dalam remaja daripada anak-anak yang
lebih muda. Perubahan pada perilaku makan juga meningkat pada remaja. Untuk
merangkum, ketika gaya perkembangan dalam simptom depresi muncul, perbedaan
yang berhubungan dengan usia tidak mutlak
Age and Gender Differences in Depression
Adolescence and Depression
Walaupun depresi mungkin
terlihat dalam anak-anak pada usia berapapun, paling banyak dicirikan,
permulaan untuk depresi mayor adalah di tengah sampai akhir remaja. Ada juga
perbedaan berhubungan dengan jenis depresi yang terlihat. Konteks perkembangan
remaja berbeda dari masa anak-anak. Anak-anak memiliki keamanan dasar dari
mengetahui mereka adalah sebuah bagian yang melengkapi dari unit keluarga.
Sebaliknya, remaja dihadapkan dengan tugas meninggalkan tempat mereka dengan
keluarga dan mengembangkan status baru sebagai orang yang mandiri. Depresi
mungkin adalah sebuah pernyataan yang dilebih-lebihkan dari proses normal
terpisahnya individu pada remaja.
Gender and Adolescent Depression
Sementara sebelum perbedaan seks remaja dalam depresi
kecil dan tidak dipercaya ditemukan, sekitar usia 13 sampai 15 ada peningkatan
dalam prevalensi, beratnya, dan kekambuhan dari anak perempuan yang depresi,
khususnya di antara mereka yang dimaksud klinik kesehatan mental. Pada saat
mereka mencapai usia 16 tahun, anak perempuam dua kali kemungkinan besar dari
anak laki-laki untuk didiagnosa dengan depresi. Anak perempuan lebih mudah
depresi. Perubahan hormonal yang menyertai pubertas adalah salah satu
penjelasan memungkinkan yang baru-baru ini diungkapkan beberapa bukti.
FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA DEPRESI
Menurut Hadi (2004), untuk
menemukan penyebab depresi kadang menemui kesulitan karena ada sejumlah
penyebab dan mungkin beberapa diantaranya bekerja pada saat yang sama. Namun
dari sekian banyak penyebab dapat dirangkum sebagai berikut:
a.Karena kehilangan. Kehilangan merupakan faktor utama yang mendasari depresi. Ada empat macam kehilangan, yaitu: 1) kehilangan abstrak, misalnya: kehilangan harga diri, kasih sayang, harapan, atau ambis. 2) Kehilangan sesuatu yang konkrit, misalnya: rumah, mobil, potret, orang atau bahkan binatang kesayangan. Kehilangan hal yang bersifat khayal, misalnya: tanpa fakta mungkin tapi ia merasa tidak disukai atau dipergunjingkan orang. 4) Kehilangan sesuatu yang belum tentu hilang, misalnya: menunggu hasil tes kesehatan, menunggu hasil ujian,dll.
a.Karena kehilangan. Kehilangan merupakan faktor utama yang mendasari depresi. Ada empat macam kehilangan, yaitu: 1) kehilangan abstrak, misalnya: kehilangan harga diri, kasih sayang, harapan, atau ambis. 2) Kehilangan sesuatu yang konkrit, misalnya: rumah, mobil, potret, orang atau bahkan binatang kesayangan. Kehilangan hal yang bersifat khayal, misalnya: tanpa fakta mungkin tapi ia merasa tidak disukai atau dipergunjingkan orang. 4) Kehilangan sesuatu yang belum tentu hilang, misalnya: menunggu hasil tes kesehatan, menunggu hasil ujian,dll.
b.Reaksi terhadap stress .
85% depresi ditimbulkan oleh stress dalam hidup.
c.Terlalu lelah atau capek, karena terjadi pengurangan tenaga baik secara fisik maupun emosional.
c.Terlalu lelah atau capek, karena terjadi pengurangan tenaga baik secara fisik maupun emosional.
d.Reaksi terhadap obat.
Gejala Depresi
Beck (1988) mengungkapkan
gejala – gejala depresi, antara lain:
a.Manifestasi emosi.
Seperti suasana hati yang pedih dan pilu, tidak menyukai diri sendiri (perasaan
negatif pada diri sendiri) hilangnya atau kurangnya respon gembira pada situasi
yang menimbulkan kesenangan, hilangnya rasa senang dan menangis.
b.Manifestasi kognitif.
Berupa rendahnya penilaian terhadap diri sendiri, pikiran – pikiran negatif
terhadap masa depan, menyalahkan, mengkritik atau mencela diri sendiri, tidak
dapat membuat keputusan dan gambran yang salah tentang diri sendiri.
c.Manifestasi motivasional. Hilangnya motivasi untuk melakukan segala aktivitas, keinginan untuk menghindar dan menarik diri, meningkatnya ketergantungan dan yaitu menginginkan bantuan, pegarahan dan bimbingan.
c.Manifestasi motivasional. Hilangnya motivasi untuk melakukan segala aktivitas, keinginan untuk menghindar dan menarik diri, meningkatnya ketergantungan dan yaitu menginginkan bantuan, pegarahan dan bimbingan.
d.Manifestasi fisik dan
vegetatif. Seperti hilangnya nafsu makan, mengalami gangguan tidur, hilangnya
nafsu sexual, perasaan lelah yang sangat berat, gangguan berat badan dan
kemampuan fisik.
Jenis Depresi
Adapun jenis – jenis
depresi menurut PPDGJ III, yaitu:
1.Depresi ringan, ciri –
cirinya: a. sekurang – kurangnya harus ada 2 atau 3 gejala utama depresi
seperti tersebut diatas, b) ditambah sekurang – kurangnya 2 dari gejala lainya
: a – g, c) tidak boleh ada gejala berat diantaranya, d) lamanya seluruh
episode berlangsung sekurang – kurangnya sekitar 2 minggu, e) hanya sedikit
kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan social yang biasa dilakukan.
2.Depresi sedang, ciri –
cirinya : a) sekurang – kurangnya harus ada 2 atau 3 gejala utama depresi
seperti pada depresi ringan, b) ditambah sekurang – kurangnya 3 (dan sebaiknya
4) dari gejala lainya, c) lamanya seluruh episode berlangsung minimal sekitar 2
minggu, d) menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial
pekerjaan dan urusan rumah tangga.
3.Depresi berat dibagi
menjadi 2 jenis, yaitu:
a.Depresi berat tanpa
gejala psikotik, ciri – cirinya : a) semua 3 gejala depresi harus ada, b) ditambah
sekurang – kurangnya 4 dari gejala lainya dan beberapa diantaranya harus
berintensitas berat, c) bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau
retardasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien nubgkin tidak mau atau mampu
untuk melaporkan banyak gejala secara rinci, d) episode depresif biasanya harus
berlangsung sekurang – kurangnya 2 minggu,akan tetapi jika gejala amat berat
dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakan diagnosis
dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu, e) sangat tidak mungkin pasien akan
mampu meneruskan kegiatan social, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali
pada taraf yang sangat terbatas.
b.Depresi berat dengan
gejala psikotik, cirri – cirinya: a) episode depresi berat yang memenuhi
kriteria menurut depresi berat tanpa gejala psikotic, b) disertai waham,
halusinasi atau stupor depresif, waham biasanya melibatkan ide tentang dosa,
kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab
atas hal itu. Halusinasi audiotorik atau aolfatoric biasanya berupa suara yang
menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi
psikomotorik yang berat dapat menuju pada stupor. Jika diperlukan, waham atau
halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan efek (mood congruent).
4.Dampak depresi
Menurut
Wibisono (lestari, 2003) sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa depresi
biasanya akan disertai dengan penyakit fisik, seperti asma, jantung koroner,
sakit kepala dan maag. Sedangkan
menurut seorang ahli yang juga penulis buku, yaitu Philip Rice (Lestari, 2003)
depresi akan meningkatkan resiko seseorang terserang penyakit karena kondisi
depresi yang cenderung meningkatkan sirkulasi adrenalin dan kortisol, sehingga
menurunkan tingkat kekebalan tubuhnya, selain itu penyakit menjadi mudah
menghidap karena orang yang terkena depresi sering kehilangan nafsu makan,
kebiasaan makanannya juga berubah (terlalu banyak makan atau sulit makan),
kurang berolahraga, mudah lelah dan sulit tidur.
Context Depression:
The Individual Context
Attachment
Cicchetti dan Toth (1998)
mencatat, bukti-bukti telah dikumpulkan mengenai hubungan antara internal working models of attachment
dan depresi pada anak bayi, anak-anak, dan remaja. Anak-anak yang
menginternalisasi gambaran diri mereka sebagai tidak berharga dan yang lain
tidak dicintai adalah lebih mudah diserang pada perkembangan proses kognitif,
emosional, dan biologis yang dihubungkan dengan depresi.
Cognitive Perspectives
Teori kognitif mengenai
depresi masa anak-anak diikuti secara terarah dari model orang dewasa klasik
dari Beck. Model kognitif berpusat pada tritunggal kognitif, yang termasuk
atribusi dari ketidakberartian (“Saya tidak baik”), kehilangan pertolongan
(“Tidak ada apapun yang dapat saya lakukan mengenainya”), keputusasaan (“Itu
akan selalu seperti ini”). Metode penelitian untuk mengukur tritunggal kognitif
membutuhkan anak-anak untuk memahami bahasa yang kompleks dalam wawancara atau
kuesioner, yang membuatnya sulit untuk memeriksa atribusi sebelum periode akhir
masa prasekolah dan masa anak pertengahan. Pengertian dari perkembangan
kognitif membuatnya sulit untuk membayangkan kognisi yang kompleks melibatkan
ketidakberartian, keputusasaan, dan tidak ada harapan dalam masa bayi, walaupun
penanda depresi dapat dilihat pada awal usia.
Rose dan Abramson (1991)
mengatakan ketika permulaan dari gaya atribusi depresi bisa benar-benar
berkembang pada masa anak awal, komponen kongnitif dari depresi bisa tidak
menjadi jelas sampai beberapa tahun kemudian. Penulis berteori bahwa pengalaman
negative hanya memiliki hasil pada tritunggal kognitif dari depresi jika pemicu
stress tersebut bertahan dalam periode konkret operasional ketika anak mampu
membuat kesimpulan yang bersifat sebab akibat yang stabil dan global dalam
lingkungan. Dengan akta lain, ketika atribusi negative benar-benar bisa
mendasari perkembangan depresi sejak usia awal, peneliti mungkin hanya mampu
untuk menemukannya nanti di masa anak.
Emotional Development
Salah satu dari proses-proses
perkembangan yang mendasari yang memperbesar depresei anak adalah kesulitan
dengan regulasi emosi. Tidak hanya terjadi pada anak-anak depresi yang memiliki
kemampuan umum yang buruk untuk mengatasi tantangan hidup, termasuk masalah
interpersonal, tetapi mereka lebih sulit untuk mengatasi emosi mereka dalam
menghadapi stress.
The Family Context
Families of Depressed Children
Secara emosi lingkungan keluarga yang menolak
meramalkan perkembangan dari depresi pada anak-anak dan remaja. Anak-anak yang
depresi menggambarkan keluarga mereka lebih berkonflik, negatif, dan
dikendalikan dan kurang bersatu dan mendukung. Keluarga dari anak-anak yang
depresi melaporkan mengalami pemicu stress yang lebih akut dan kronis daripada
yang dialami orang lain, dan mereka memilih hubungan sosial yang lebih kurang
mendukung untuk menyangga mereka. Konflik interparental juga meningkatkan
depresi orang tua dan anak.
Parental Loss
Pengasuhan yang adekuat pada
bayi bukan kemewahan yang sentimental tetapi kebutuhan yang mutlak untuk
perkembangan yang optimal. Walaupun secara relatif jarang, kehilangan kedua
orang tua adalah pengalaman dengan akibat dramatis pada fungsi anak dan
memiliki hubungan yang jelas pada depresi.
Children of Depressed Mothers
Kira-kira 40 persen anak-anak
dari ibu yang depresi adalah diri mereka sendiri didiagnosa dengan depresi.
Depresi yang berhubungan dengan ibu memiliki dua kali lebih beresiko terhadap
anak untuk berkembangnya depresi melalui perjalanan hdiup, dengan episode yang
terutama sekali berat dan berlangsung lama.
Children of Depressed Fathers
Ketika pria dewasa didiagnosa
dengan depresi pada angka dua kali lebih kurang daripada dari wanita dewasa,
dari 3,8 persen sampai 12,7 persen dari pria akan mengalami depresi mayor pada
kehidupan dewasa mereka, dan lebih banyak yang akan mengalami mood depresi,
terutama sekali selama tahun membesarkan anak.
The Social Context
Orang tua bukan hanya sumber dari penilaian negative
yang dapat menghasilkan mood depresi. Teman sebaya dapat menjadi keras hati
dalam mengejek anak yang berbeda atau secara sosial aneh. Jadi, hal tersebut
tidak mengejutkan bahwa dukungan sosial yang rendah dari teman sebaya,
jurangnya perasaan kemampuan bersosial, dan kesepian adalah predictor
signifikan dari anak dan remaja yang depresi, terutama sekali untuk wanita.
Anak-anak yang adalah korban dari ejekan dan agresi memiliki hasil lebih tinggi
dalam mengukur depresi dan harga diri yang rendah, walaupun hubungan positif
dengan teman dekat dapat menolong untuk menyangga mereka dari resiko.
Interactions and Transactions
Anak-anak yang depresi
membuktikan sejumlah penurunan kemampuan interpersonal. Kesulitan sosial
memiliki peranan penting untuk meningkatkan depresi melewati waktu, dan masalah
interpersonal dari anak-anak yang depresi masih tetap jelas bahkan ketika
depresi telah diangkat. Di lain pihak, depresi sebaliknya menentukan
peningkatan dalam kesulitan sosial.
The Culturan Context
Poverty
Melebarkan jangkauan kami
untuk memasuki konteks yang lebih besar dari perkembangan anak, kami menemukan
bahwa depresi telah dihubungkan pada sejumlah variabel dalam konteks
sosiokultural, termasuk keadaan ekonomi yang merugikan. Karaktersitik komunitas
lainnya dihubungan dengan kemiskinan, seperti kekerasan lingungan dan korban
criminal, meninggalkan perasaan cemas dan depresi pada orang tua dan anak.
Life Stress
Sebagai tambahan untuk
kemiskinan sebagai pemicu stress khusus, ada bukti yang banyak bahwa stress hidup
yang umum memiliki peran penting pada depresi. Data longitudinal menunjukkan
bahwa pendapatan stress mendahului perkembangan dari depresi pada anak-anak dan
membuat lebih buruk keparahan dari simptom depresi. Walaupun datanya bercampur,
beberapa studi mengatakan bahwa anak perempuan lebih mudah terserang dalam
berkembangnya depresi dalam reaksi terhadap stress, terutama sekali stress
interpersonal.
Ethnicity
Kecenderungan bahwa status
ekonomi sosial yang rendah pada pemuda dari etnis minoritas bersifat tidak
sepadan ditempatkan pada jenis yang diuraikan di atas dari pemicu stress,
adalah sesuatu yang mengejutkan bahwa prevalensi data dihadirkan lebih awal
menampakkan sedikit perbedaan yang konsisten di antara kelompok rasial.
Developmental Course
Walaupun dipercaya bahwa
depresi adalah fenomena sementara, tentu berbeda pada stabilitas masalah
tingkah laku yang dilihat dari luar, bukti yang terkumpul mengenai kontinuitas
depresi. Usia awal dari permulaan juga adalah tanda negative yang dapat diramalkan.
Permulaan dari depresi sebelum pubertas dihubungan dengan gangguan lebih berat
secara umum dan bahkan kemungkinan lebih besar dari kontinuitas pada depresi
orang dewasa. Kemungkinan ini adalah hasil dari akibat yang bertumpuk dari
episode kekambuhan depresi, yang lebih akan dialami oleh anak-anak yang memulai
lebih awal pada pembangunan jalur pada depresi.
Baru-baru ini, Lewinsohn dan
kolega (2003) menemukan bahwa penderitaan dari gangguan depresi mayor pada
remaja dihubungkan dengan penurunan pervasive pada fungsi psikososial orang
dewasa, termasuk prestasi kerja, fungsi menjalin hubungan, kesejahteraan fisik,
dan kepuasan hidup. Sesungguhnya, akibat negatif ini menyinggung bahkan ketika
depresi tidak dikembangkan ke masa dewasa. Penulis menyamakan pengalaman dari
depresi awal mula dengan “bekas” yang memiliki akibat buruk pada perkembangan
kemudian.
Specificity
Harrington dan kolega
mengemukakan, ada beberapa keterbatasan pada pembuktian mengenai kontinuitas
depresi. Melihat ke belakang kita menemukan bahwa, ketika depresi masa anak
meramalkan depresi orang dewasa, tidak semua orang dewasa yang depresi
mengalami depresi ketika anak-anak; kenyataannya, banyak dari mereka
menampilkan gangguan dari keadaan luar. Melihat ke depan kita menemukan bahwa
depresi masa anak dihubungkan dengan sejumlah hasil orang dewasa yang buruk,
termasuk masalah interpersonal, penyalahgunaan obat-obatan, kecemasan, gangguan
kepribadian, dan percobaan bunuh diri, tetapi tidak seharusnya depresi.
Bagaimanapun, beberapa investigasi menunjukkan bahwa,
setidaknya pada remaja, depresi adalah faktor resiko yang spesifik pada
perkembangan depresi orang dewasa. Perbedaan jenis kelamin menyulitkan
gambaran. Depresi pada masa anak dapat memiliki akibat berbeda untuk pria dan
wanita. Misalnya, ditemukan bahwa derpesi pada anak prempuan usia sekolah
diperkirakan depresi 6 tahun kemudian, apakah depresi pada anak laki-laki
diperkirakan simptom berbeda, termasuk depresi seperti pengabaian, masalah
anak, dan kurangnya perhatian. Hasil ini membalas penemuan yang dilaporkan
lebih awal pada perbedaan jenis kelamin pada faktor yang memperkirakan depresi
pada pria dan wanita.
Intervention
Pharmacotherapy
Seperti yang telah ditetapkan
lebih awal, ketika beberapa studi mengindikasikan bahwa obat antidepresan yang
baru (SSRIs) mengurangi simptom depresi pada anak-anak, hasilnya bercampur.
Yang lain memerhatikan mengenai penggunaan SSRIs dengan anak-anak termasuk
kejadian dari efek samping yang tidak diinginkan, termasuk kegelisahan dan
sifat lekas marah, susah tidur, ketidaknyamanan perut dan usus, mania, dan
bahkan reaksi psikotik. Ada juga laporan mengenai meningkatnya pikiran bunuh
diri, yang diperkirakan terjadi pada 2 sampai 3 persen dari anak-anak yang
menggunakan obat antidepresan. Dalam menanggapiu ini, U.S. Food dan Drug Administration
(2004) baru-baru ini memutuskan bahwa produsen obat-obatan menempatkan pada
botol resep obat peringatan “kotak hitam” mengenai resiko bunuh diri pada
anak-anak yang menggunakan antidepresan.
Ketika dengan depresi orang
dewasa, rekomendasi ahli (jika bukan praktek biasa) adalah untuk menggunakan pengobatan antidepresi
sebagai tambahan untuk psikoterapi daripada sebagai metode satu-satunya untuk
merawat depresi anak dan remaja. Banyak faktor yang memperbesar depresi –
keadaan hidup yang penuh stress, hubungan yang buruk antara orang tua-anak,
konflik keluarga dan dissolusi, harga diri yang rendah, bias kognitif negative,
misalnya – tidak bisa diubah melalui psikofarmakologi dan anak menjadi lebih
baik dialamatkan melalui psikoterapi dengan anak atau keluarga.
Pschodynamic Psychotherapy
Perawatan psikodinamis untuk
depresi secara luas fokus pada masalah-masalah dalam organisasi kepribadian
pokok, menemukan ini kembali pada pengalaman masa anak yang negative di mana
depresi muncul. Tujuan dari terapi adalah untuk menurunkan kritisme diri dan
gambaran diri negatif dan untuk menolong anak mengembangkan pertahanan diri
yang lebih adaptif dengan tujuan menjadi mampu untuk melanjutkan hidup yang
sehat pada perkembangan emosional. Dengan anak-anak yang lebih muda, terapis
bisa menggunakan permainan sebagai cara membawa persoalan-persoalan ini ke
ruang terapi, dengan fokus pemindahan untuk diskusi agar anak-anak menjadi
dewasa secara kognitf.
Cognitive-Behavioral Therapy
Terapi kognitif-behavioral
untuk depresi anak adalah penemuan yang paling ekstensif, dan, keseluruhan
menemukan mengenai efektivitas mereka adalah positif. Satu contoh dari
pendekatan kognitif-behavioral adalah Mengatasi Rangkaian Depresi untuk Remaja,
perpanjangan yang menurun dari program perawatan awalnya dibuat untuk orang
dewasa. Intervensi ini termasuk permainan peran untuk mengajar teknik
interpersonal dan pemecahan masalah, restrukturisasi kognitif positif untuk
membentuk kognisi maladatif dan teknik penguatan diri. Studi dari keefektifan
pendekatan ini menunjukkan bahwa, untuk 80 persen remaja yang membaik,
meningkatkan perawatan berlangsung.
Interpersonal Therapy
Pendekatan interpersonal
diramalkan pada anggapan bahwa gangguan fugsi hubungan adalah pada akar dari
depresi, yang banyak dari penelitian psikopatologi perkembangan akan
ditegaskan. Interpersonal therapy
(IPT) bertujuan membantu individu depresi untuk mengembangkan kemampuan yang
lebih baik untuk menafsirkan dan mengatasi masalah interpersonal secara singkat,
fokus intervensi.
Family Therapy
Dujovne, Barnard, dan Rapoff
(1995) menyimpulkan bahwa family-focused
treatments menjamin pertimbangan utama, memberikan peran dari situasi
keluarga, hubungan orang tua-anak, dan depresi orang tua dalam perkembangan
dari gangguan spectrum depresi. Konsisten dengan hal ini, kelompok Lewinsohn
(1996) menemukan bahwa keefektifan dari intervensi kognitif-behavioral untuk
anak-anak depresi ditingkatkan melalui penambahan intervensi dengan orang tua.
Sesi kelompok diadakan di mana orang tua diberikan kesempatan untuk
mendiskusikan persoalan yang berhubungan dengan derpesi dan belajar komunikasi
interpersonal yang sama dan kemampuan resolusi konflik diajarkan pada anak-anak
mereka. Selanjutnya , konsultasi dengan guru-guru disediakan untuk mendukung
dan memperkuat penggunaan anak-anak terhadap strategi coping yang adaptif selama sekolah.
Prevention
Usaha untuk mencegah
perkembangan depresi masa anak telah difokuskan pada hal yang paling beresiko –
yaitu, anak-anak dari ibu yang depresi. Ibu yang berpartisipasi pada program
intervensi dilaporkan menurunkan depresi dan perasaan stress, dan meningkatkan
hasil penyesuaian keseluruhan diri mereka sendiri dan bayi mereka;
bagaimanapun, mereka juga lebih bertahan. Usaha skala besar yang mengagumkan
pada remaja diluncurkan di Australia oleh Shochet, Dadds, dan kolega mereka
(2001). Peneliti mengembangkan intervensi 11 sesi disebut RAP (Resourceful
Adolescent Program) yang menggabungkan banyak elemen dari bukti terapis
kognitif-behavioral (misalnya, restrukturisasi kognitif positif, penguatan dari
kekuatan yang ada) sebaik penargetan faktor interpersonal dan resiko kelaurga
dan pencegahan. Kondisi perawatan yang kedua menggabungkan RAP dengan tiga sesi
keluarga dimaksudkan untuk mengurangi konflik keluarga dan meningkatkan
kehangatan dan mau mendengarkan dengan orang tua.
DAFTAR
PUSTAKA
Kerig, P. K., & Wenar,
C. (2006). DEVELOPMENTAL PSYCHOPATHOLOGY. From Infancy through Adolescence.
New York: McGraw-Hill.
Mash, E. J., & Wolfe,
D. A. (2010). Abnormal Child Psychology. Canada: Wadsworth.
WILMSHURST, L. (2009). ABNORMALCHILD
PSYCHOLOGY. A Developmental Perspective. New York: Taylor & Francis
Group, LLC.
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian (ed rev.). Malang: UMM Press.
American
Psychiatric Association. (2000). Diagnostic
and statistical manual of mental disorder (DSM)-IV-TR (text revision).
Washington, DC: APA.
Corey ,Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi.
Bandung : PT Refika Aditama.
Davidson, G dan Neale, J. M. 1997. Abnormal Psychology. 7th
Ed. New York: John Wiley dan Sons.
Hadi, P. 2004. Depresi dan Solusinya. Yogyakarta: Penerbit
Tugu.
Kerig, P. K., & Wenar,
C. (2006). DEVELOPMENTAL PSYCHOPATHOLOGY. From Infancy through Adolescence.
New York: McGraw-Hill.
Kring,
A. M., Davidson, G. C., Neale, J. M., & Johnson, S. L. (2007). Abnormal
psychology (10th ed.). USA: Wiley.
Lestari, E. W. 2003. Depresi Akibat Trauma Masa Kanak-Kanak.
Skripsi. (Tidak Diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Lely ,Mariyati., & Habibah,Nur. (2011). Terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom
Technique) untuk mengurangi kecenderungan merokok pada remaja awal. Psikologi
Jurnal Ilmiah Psikologi, Fak. Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Mash,
E. J., & Wolfe, D. A. (2005). Abnormal
child psychology (3rd ed.). Southbank, Victoria: Wadsworth.
Mash, E. J., & Wolfe,
D. A. (2010). Abnormal Child Psychology. Canada: Wadsworth.
Mash, E. J., & Wolfe, D. A. (2005). Abnormal child psychology (3rd ed.). Southbank,
Victoria: Wadsworth.
Mc. Dowel, I & Newell, C. (1996). Measuring Health: A
Guide To Rating Scales and Questionnaire (2nd ed). New York; Oxford University
Press.
Meier,
Paul et.al. (1988). Introduction to Psychology & Counseling (Grand
Rapids-Michigan: Baker Book House.
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D.
(2009). Human Development (11th
edition). USA : McGraw Hill.
Semium, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius.
Semium, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.
Santrock,
J. W. (2007). Child development (11th
ed.). New York: McGraw-Hill.
Sarason, I. G. 1989. Abnormal Psychology. 6th Ed. New Jersey:
Pentice Hall.
Stuart. G.W and Laraia. (2001). Principle and practice of
psychiatric nursing.7thed. St Louis: Mosby Year Book.
Zainuddin, Faiz. (2009).
Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT ). Jakarta: AFZAN Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda