Kamis, 08 Mei 2014

Depresi

        Hai semua.. kali ini saya akan membahas tentang depresi. Semakin berkembanganya jaman, semakin besar pula tekanan yang diterima oleh setiap orang. Jika individu tidak dapat menghadapi tekanan hidup yang dialaminya maka individu tersebut memiliki kecenderungan untuk mengalami depresi. Depresi sebagai keadaan abnormal organisme yang dimanifestasikan dengan tanda simptom- symptom seperti: menurunya mood subjektif, rasa pesimis dan sikap nihilistic, kehilangan kespontanan dan gejala vegetatif (seperti kehilangan berat badan dan gangguan tidur). Depresi juga merupakan kompleks gangguan yang meliputi gangguan afeksi, kognisi, motivasi dan komponen perilaku  (Beck dalam McDowell & Newel, 1996).
       Depresi sebagai sindrom adalah keadaan dari simtom yang terjadi, termasuk perasaan sedih dan kesepian, dan juga khawatir dan kecemasan. Depresi sebagai gangguan (kadang-kadang mengacu sebagai “depresi klinis” atau depresi unipolar) mengacu pada tingkat mendalam dari simtom ini dan memiliki etiologi spesifik, tujuan, dan hasil. Seperti halnya dengan semua gangguan didefinisikan oleh DSM, kuncinya adalah kombinasi dari simtom yang cukup signifikan untuk menyebabkan kesulitan dan/atau mengganggu fungsi.

Teori–Teori Depresi
Ada beberapa teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan munculnya gangguan depresi, yaitu:
a.Teori Biologi
     Teori biologi ini mempunyai asumsi bahwa penyebab depresi terletak pada gen atau malfungsi beberapa faktor fisiologik yang memungkinkan faktor tersebut (dalam Sarason dan Sarason,1989).
b.Pandangan psikodinamika 
     Studi psikologik tentang depresi dimulai oleh sighmund freud dan karl Abraham. Keduanya menggambarkan bahwa depresi merupakan reaksi kompleks terhadap kehilangan atau (loss). Freud dalam bukunya “Mourning and Melancholia” menggambarkan bahwa rasa sedih yang normal dan depresi sebagai respon dari kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintainya (Davidson dan Neale, 1997). Pada orang yang mengalami depresi terjadi pengurangan harga diri secara luar biasa dan mengalami kemiskinan ego pada skala yang besar (dalam Sarason dan Sarason,1989). 
c.Pandangan Behavioral.
     Teori belajar berasumsi bahwa antara depresi dan penguat yang kurang (Lack of Reinforcment) saling berhubungan satu sama lain. Pandangan Behavioral menjelaskan bahwa orang yang mengalami depresi kurang menerima penghargaan (rewards) atau dengan kata lain lebih mengalami hukuman (punishment) daripada orang yang tidak mengalami depresi (dalam Sarason dan Sarason,1989).
d.Pandangan humaistik – eksistansial.
     Teori eksistensial memfokuskan kehilangan harga diri sebagai penyebab depresi utama. Kehilangan harga diri dapat nyata atau simbolik, misal kehilangan kekuasaan, status sosial atau uang. Teori humanistic menekankan perbedaan self seseorang dengan keadaan yang nyata sebagai sumber depresi dan kecemasan. Menurut pandangan ini depresi terjadi jika perbedaan antara ideal self dan kenyataan terlalu besar (dalam Sarason dan Sarason, 1989). 
e.Pandangan Kognitif.
     Teori depresi berdasarkan kognitif ini merupakan teori yang paling sering digunakan dalam penelitian tentang depresi (dalam susanty, 1997) Hal ini disebabkan karena teori kognitif selama ini sangat efektif digunakan untuk terapi terhadap deopresi. Teori ini menyatakan bahwa seseorang yang berpikiran negatif tentang dirinya akan menelusuri lebih lanjut bahwa mereka melakukan interpretasi yang salah dan menyimpang dari realita. Salah satu teori kognitif adalah teori depresi beck (Atkinson 1991). Teori tersebut menyatakan bahwa seseorang yang yang mudah terkena depresi telah mengembangkan sikap umum untuk menilai peristiwa dari segi negative dan kritik diri.

The Developmental Dimension
Developmental Differences in Depressive Symptoms
     Berdasarkan penggabungan Hammen dan Rudolph (2003), Shafii dan Shafii (1992), dan studi individual ditinjau oleh Weiss dan Garber (2003), kita dapat merumuskan penemuan selama ini mengenai perbedaan perkembangan dalam symptom dari depresi.

Infancy and Toddlerhood
     Tanda-tanda depresi pada anak-anak yang sangat muda dapat termasuk penundaan atau kehilangan pencapaian, seperti toilet training, kebiasaan tidur yang baik, dan pertumbuhan intelektual. Ekspresi wajah sedih dan tatapan yang tidak disukai dapat terlihat. Anak-anak mungkin menggunakan perilaku melukai diri seperti membenturkan kepala, dan menggigit diri, juga perilaku menenangkan diri seperti bergerak atau menghisap ibu jari. Perilaku melekat dan menuntut dapat diganti dengan kelesuan dan tanpa gairah.

Preschool
     Anak preschool yang depresi tidak memungkinkan untuk memverbalisasikan perasaan dari dysphoria dan ketiadaan harapan, tetapi malahan cenderung dikarakteristikkan melalui penampilan sedih. Anak preschool yang depresi dapat mengalami hilangnya minat dalam kegiatan menyenangkan atau prestasi. Keterhambatan perkembangan mungkin jelas, seperti hilangnya kemampuan kognitif dan bahasa, penarikan sosial, dan cemas berlebih mengenai keterpisahan dengan pengasuh. Somatik yang tidak jelas mengeluh, lekas marah, dan masalah tidur dan mimpi buruk juga terlihat.

School Age
     Sebagai pendekatan anak-anak usia sekolah, gambaran simptom-simptom mereka lebih mirip dengan orang dewasa. Mood depresi menjadi jelas, seperti ekspresi dari harga diri yang rendah, mengkritik diri, dan rasa bersalah. Kehilangan motivasi mungkin memengaruhi ketertarikan anak dalam berpartisipasi dalam aktivitas sosial atau yang berhubungan dengan sekolah. Sebagai tambahan, anak usia sekolah yang depresi dapat terlibat dalam perilaku menganggu dan agresif yang secara negatif memengaruhi hubungan teman sebaya mereka dan hasil akademis. Gangguan makan dan tidur mungkin terlihat, seperti penundaan perkembangan. Ketika usia anak bertambah, simptom menjadi lebih berat, dan ada kehilangan lebih besar terhadap minat atau kesenangan dalam aktivitas menyenangkan sebelumnya, dan bunuh diri dimungkinkan.

Adolescence
     Remaja paling mungkin untuk secara langsung memverbalisasikan perasaan sedih dan keadaan sukar mereka. Simptom lainnya dari depresi dalam remaja termasuk mood berayun yang tajam dan negatif, secara sering disertai oleh pembolosan, kelakuan yang buruk, dan menurunnya pencapaian akademis, Hipersomnia (tidur terlalu banyak) adalah simptom lain yang terlihat lebih sering dalam remaja daripada anak-anak yang lebih muda. Perubahan pada perilaku makan juga meningkat pada remaja. Untuk merangkum, ketika gaya perkembangan dalam simptom depresi muncul, perbedaan yang berhubungan dengan usia tidak mutlak

Age and Gender Differences in Depression
Adolescence and Depression
     Walaupun depresi mungkin terlihat dalam anak-anak pada usia berapapun, paling banyak dicirikan, permulaan untuk depresi mayor adalah di tengah sampai akhir remaja. Ada juga perbedaan berhubungan dengan jenis depresi yang terlihat. Konteks perkembangan remaja berbeda dari masa anak-anak. Anak-anak memiliki keamanan dasar dari mengetahui mereka adalah sebuah bagian yang melengkapi dari unit keluarga. Sebaliknya, remaja dihadapkan dengan tugas meninggalkan tempat mereka dengan keluarga dan mengembangkan status baru sebagai orang yang mandiri. Depresi mungkin adalah sebuah pernyataan yang dilebih-lebihkan dari proses normal terpisahnya individu pada remaja.

Gender and Adolescent Depression
     Sementara sebelum perbedaan seks remaja dalam depresi kecil dan tidak dipercaya ditemukan, sekitar usia 13 sampai 15 ada peningkatan dalam prevalensi, beratnya, dan kekambuhan dari anak perempuan yang depresi, khususnya di antara mereka yang dimaksud klinik kesehatan mental. Pada saat mereka mencapai usia 16 tahun, anak perempuam dua kali kemungkinan besar dari anak laki-laki untuk didiagnosa dengan depresi. Anak perempuan lebih mudah depresi. Perubahan hormonal yang menyertai pubertas adalah salah satu penjelasan memungkinkan yang baru-baru ini diungkapkan beberapa bukti.

FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA DEPRESI
     Menurut Hadi (2004), untuk menemukan penyebab depresi kadang menemui kesulitan karena ada sejumlah penyebab dan mungkin beberapa diantaranya bekerja pada saat yang sama. Namun dari sekian banyak penyebab dapat dirangkum sebagai berikut:
a.Karena kehilangan. Kehilangan merupakan faktor utama yang mendasari depresi. Ada empat macam kehilangan, yaitu: 1) kehilangan abstrak, misalnya: kehilangan harga diri, kasih sayang, harapan, atau ambis. 2) Kehilangan sesuatu yang konkrit, misalnya: rumah, mobil, potret, orang atau bahkan binatang kesayangan. Kehilangan hal yang bersifat khayal, misalnya: tanpa fakta mungkin tapi ia merasa tidak disukai atau dipergunjingkan orang. 4) Kehilangan sesuatu yang belum tentu hilang, misalnya: menunggu hasil tes kesehatan, menunggu hasil ujian,dll.
b.Reaksi terhadap stress . 85% depresi ditimbulkan oleh stress dalam hidup.
c.Terlalu lelah atau capek, karena terjadi pengurangan tenaga baik secara fisik maupun emosional.
d.Reaksi terhadap obat.

Gejala Depresi 
Beck (1988) mengungkapkan gejala – gejala depresi, antara lain: 
a.Manifestasi emosi. Seperti suasana hati yang pedih dan pilu, tidak menyukai diri sendiri (perasaan negatif pada diri sendiri) hilangnya atau kurangnya respon gembira pada situasi yang menimbulkan kesenangan, hilangnya rasa senang dan menangis.
b.Manifestasi kognitif. Berupa rendahnya penilaian terhadap diri sendiri, pikiran – pikiran negatif terhadap masa depan, menyalahkan, mengkritik atau mencela diri sendiri, tidak dapat membuat keputusan dan gambran yang salah tentang diri sendiri.
c.Manifestasi motivasional. Hilangnya motivasi untuk melakukan segala aktivitas, keinginan untuk menghindar dan menarik diri, meningkatnya ketergantungan dan yaitu menginginkan bantuan, pegarahan dan bimbingan.
d.Manifestasi fisik dan vegetatif. Seperti hilangnya nafsu makan, mengalami gangguan tidur, hilangnya nafsu sexual, perasaan lelah yang sangat berat, gangguan berat badan dan kemampuan fisik.

Jenis Depresi
Adapun jenis – jenis depresi menurut PPDGJ III, yaitu: 
1.Depresi ringan, ciri – cirinya: a. sekurang – kurangnya harus ada 2 atau 3 gejala utama depresi seperti tersebut diatas, b) ditambah sekurang – kurangnya 2 dari gejala lainya : a – g, c) tidak boleh ada gejala berat diantaranya, d) lamanya seluruh episode berlangsung sekurang – kurangnya sekitar 2 minggu, e) hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan social yang biasa dilakukan.
2.Depresi sedang, ciri – cirinya : a) sekurang – kurangnya harus ada 2 atau 3 gejala utama depresi seperti pada depresi ringan, b) ditambah sekurang – kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainya, c) lamanya seluruh episode berlangsung minimal sekitar 2 minggu, d) menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial pekerjaan dan urusan rumah tangga.
3.Depresi berat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: 
a.Depresi berat tanpa gejala psikotik, ciri – cirinya : a) semua 3 gejala depresi harus ada, b) ditambah sekurang – kurangnya 4 dari gejala lainya dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat, c) bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien nubgkin tidak mau atau mampu untuk melaporkan banyak gejala secara rinci, d) episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang – kurangnya 2 minggu,akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu, e) sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan social, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
b.Depresi berat dengan gejala psikotik, cirri – cirinya: a) episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut depresi berat tanpa gejala psikotic, b) disertai waham, halusinasi atau stupor depresif, waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi audiotorik atau aolfatoric biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotorik yang berat dapat menuju pada stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan efek (mood congruent).

4.Dampak depresi 
      Menurut Wibisono (lestari, 2003) sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa depresi biasanya akan disertai dengan penyakit fisik, seperti asma, jantung koroner, sakit kepala dan maag. Sedangkan menurut seorang ahli yang juga penulis buku, yaitu Philip Rice (Lestari, 2003) depresi akan meningkatkan resiko seseorang terserang penyakit karena kondisi depresi yang cenderung meningkatkan sirkulasi adrenalin dan kortisol, sehingga menurunkan tingkat kekebalan tubuhnya, selain itu penyakit menjadi mudah menghidap karena orang yang terkena depresi sering kehilangan nafsu makan, kebiasaan makanannya juga berubah (terlalu banyak makan atau sulit makan), kurang berolahraga, mudah lelah dan sulit tidur.

Context Depression: 
The Individual Context
Attachment
     Cicchetti dan Toth (1998) mencatat, bukti-bukti telah dikumpulkan mengenai hubungan antara internal working models of attachment dan depresi pada anak bayi, anak-anak, dan remaja. Anak-anak yang menginternalisasi gambaran diri mereka sebagai tidak berharga dan yang lain tidak dicintai adalah lebih mudah diserang pada perkembangan proses kognitif, emosional, dan biologis yang dihubungkan dengan depresi.

Cognitive Perspectives
     Teori kognitif mengenai depresi masa anak-anak diikuti secara terarah dari model orang dewasa klasik dari Beck. Model kognitif berpusat pada tritunggal kognitif, yang termasuk atribusi dari ketidakberartian (“Saya tidak baik”), kehilangan pertolongan (“Tidak ada apapun yang dapat saya lakukan mengenainya”), keputusasaan (“Itu akan selalu seperti ini”). Metode penelitian untuk mengukur tritunggal kognitif membutuhkan anak-anak untuk memahami bahasa yang kompleks dalam wawancara atau kuesioner, yang membuatnya sulit untuk memeriksa atribusi sebelum periode akhir masa prasekolah dan masa anak pertengahan. Pengertian dari perkembangan kognitif membuatnya sulit untuk membayangkan kognisi yang kompleks melibatkan ketidakberartian, keputusasaan, dan tidak ada harapan dalam masa bayi, walaupun penanda depresi dapat dilihat pada awal usia.
     Rose dan Abramson (1991) mengatakan ketika permulaan dari gaya atribusi depresi bisa benar-benar berkembang pada masa anak awal, komponen kongnitif dari depresi bisa tidak menjadi jelas sampai beberapa tahun kemudian. Penulis berteori bahwa pengalaman negative hanya memiliki hasil pada tritunggal kognitif dari depresi jika pemicu stress tersebut bertahan dalam periode konkret operasional ketika anak mampu membuat kesimpulan yang bersifat sebab akibat yang stabil dan global dalam lingkungan. Dengan akta lain, ketika atribusi negative benar-benar bisa mendasari perkembangan depresi sejak usia awal, peneliti mungkin hanya mampu untuk menemukannya nanti di masa anak.

Emotional Development
     Salah satu dari proses-proses perkembangan yang mendasari yang memperbesar depresei anak adalah kesulitan dengan regulasi emosi. Tidak hanya terjadi pada anak-anak depresi yang memiliki kemampuan umum yang buruk untuk mengatasi tantangan hidup, termasuk masalah interpersonal, tetapi mereka lebih sulit untuk mengatasi emosi mereka dalam menghadapi stress.

The Family Context
Families of Depressed Children
     Secara emosi lingkungan keluarga yang menolak meramalkan perkembangan dari depresi pada anak-anak dan remaja. Anak-anak yang depresi menggambarkan keluarga mereka lebih berkonflik, negatif, dan dikendalikan dan kurang bersatu dan mendukung. Keluarga dari anak-anak yang depresi melaporkan mengalami pemicu stress yang lebih akut dan kronis daripada yang dialami orang lain, dan mereka memilih hubungan sosial yang lebih kurang mendukung untuk menyangga mereka. Konflik interparental juga meningkatkan depresi orang tua dan anak.

Parental Loss
     Pengasuhan yang adekuat pada bayi bukan kemewahan yang sentimental tetapi kebutuhan yang mutlak untuk perkembangan yang optimal. Walaupun secara relatif jarang, kehilangan kedua orang tua adalah pengalaman dengan akibat dramatis pada fungsi anak dan memiliki hubungan yang jelas pada depresi.

Children of Depressed Mothers
     Kira-kira 40 persen anak-anak dari ibu yang depresi adalah diri mereka sendiri didiagnosa dengan depresi. Depresi yang berhubungan dengan ibu memiliki dua kali lebih beresiko terhadap anak untuk berkembangnya depresi melalui perjalanan hdiup, dengan episode yang terutama sekali berat dan berlangsung lama.

Children of Depressed Fathers
     Ketika pria dewasa didiagnosa dengan depresi pada angka dua kali lebih kurang daripada dari wanita dewasa, dari 3,8 persen sampai 12,7 persen dari pria akan mengalami depresi mayor pada kehidupan dewasa mereka, dan lebih banyak yang akan mengalami mood depresi, terutama sekali selama tahun membesarkan anak.

The Social Context
     Orang tua bukan hanya sumber dari penilaian negative yang dapat menghasilkan mood depresi. Teman sebaya dapat menjadi keras hati dalam mengejek anak yang berbeda atau secara sosial aneh. Jadi, hal tersebut tidak mengejutkan bahwa dukungan sosial yang rendah dari teman sebaya, jurangnya perasaan kemampuan bersosial, dan kesepian adalah predictor signifikan dari anak dan remaja yang depresi, terutama sekali untuk wanita. Anak-anak yang adalah korban dari ejekan dan agresi memiliki hasil lebih tinggi dalam mengukur depresi dan harga diri yang rendah, walaupun hubungan positif dengan teman dekat dapat menolong untuk menyangga mereka dari resiko.
    
Interactions and Transactions
     Anak-anak yang depresi membuktikan sejumlah penurunan kemampuan interpersonal. Kesulitan sosial memiliki peranan penting untuk meningkatkan depresi melewati waktu, dan masalah interpersonal dari anak-anak yang depresi masih tetap jelas bahkan ketika depresi telah diangkat. Di lain pihak, depresi sebaliknya menentukan peningkatan dalam kesulitan sosial.

The Culturan Context
Poverty
     Melebarkan jangkauan kami untuk memasuki konteks yang lebih besar dari perkembangan anak, kami menemukan bahwa depresi telah dihubungkan pada sejumlah variabel dalam konteks sosiokultural, termasuk keadaan ekonomi yang merugikan. Karaktersitik komunitas lainnya dihubungan dengan kemiskinan, seperti kekerasan lingungan dan korban criminal, meninggalkan perasaan cemas dan depresi pada orang tua dan anak.

Life Stress
     Sebagai tambahan untuk kemiskinan sebagai pemicu stress khusus, ada bukti yang banyak bahwa stress hidup yang umum memiliki peran penting pada depresi. Data longitudinal menunjukkan bahwa pendapatan stress mendahului perkembangan dari depresi pada anak-anak dan membuat lebih buruk keparahan dari simptom depresi. Walaupun datanya bercampur, beberapa studi mengatakan bahwa anak perempuan lebih mudah terserang dalam berkembangnya depresi dalam reaksi terhadap stress, terutama sekali stress interpersonal.

Ethnicity
     Kecenderungan bahwa status ekonomi sosial yang rendah pada pemuda dari etnis minoritas bersifat tidak sepadan ditempatkan pada jenis yang diuraikan di atas dari pemicu stress, adalah sesuatu yang mengejutkan bahwa prevalensi data dihadirkan lebih awal menampakkan sedikit perbedaan yang konsisten di antara kelompok rasial.

Developmental Course
     Walaupun dipercaya bahwa depresi adalah fenomena sementara, tentu berbeda pada stabilitas masalah tingkah laku yang dilihat dari luar, bukti yang terkumpul mengenai kontinuitas depresi. Usia awal dari permulaan juga adalah tanda negative yang dapat diramalkan. Permulaan dari depresi sebelum pubertas dihubungan dengan gangguan lebih berat secara umum dan bahkan kemungkinan lebih besar dari kontinuitas pada depresi orang dewasa. Kemungkinan ini adalah hasil dari akibat yang bertumpuk dari episode kekambuhan depresi, yang lebih akan dialami oleh anak-anak yang memulai lebih awal pada pembangunan jalur pada depresi.
     Baru-baru ini, Lewinsohn dan kolega (2003) menemukan bahwa penderitaan dari gangguan depresi mayor pada remaja dihubungkan dengan penurunan pervasive pada fungsi psikososial orang dewasa, termasuk prestasi kerja, fungsi menjalin hubungan, kesejahteraan fisik, dan kepuasan hidup. Sesungguhnya, akibat negatif ini menyinggung bahkan ketika depresi tidak dikembangkan ke masa dewasa. Penulis menyamakan pengalaman dari depresi awal mula dengan “bekas” yang memiliki akibat buruk pada perkembangan kemudian.

Specificity
     Harrington dan kolega mengemukakan, ada beberapa keterbatasan pada pembuktian mengenai kontinuitas depresi. Melihat ke belakang kita menemukan bahwa, ketika depresi masa anak meramalkan depresi orang dewasa, tidak semua orang dewasa yang depresi mengalami depresi ketika anak-anak; kenyataannya, banyak dari mereka menampilkan gangguan dari keadaan luar. Melihat ke depan kita menemukan bahwa depresi masa anak dihubungkan dengan sejumlah hasil orang dewasa yang buruk, termasuk masalah interpersonal, penyalahgunaan obat-obatan, kecemasan, gangguan kepribadian, dan percobaan bunuh diri, tetapi tidak seharusnya depresi.
     Bagaimanapun, beberapa investigasi menunjukkan bahwa, setidaknya pada remaja, depresi adalah faktor resiko yang spesifik pada perkembangan depresi orang dewasa. Perbedaan jenis kelamin menyulitkan gambaran. Depresi pada masa anak dapat memiliki akibat berbeda untuk pria dan wanita. Misalnya, ditemukan bahwa derpesi pada anak prempuan usia sekolah diperkirakan depresi 6 tahun kemudian, apakah depresi pada anak laki-laki diperkirakan simptom berbeda, termasuk depresi seperti pengabaian, masalah anak, dan kurangnya perhatian. Hasil ini membalas penemuan yang dilaporkan lebih awal pada perbedaan jenis kelamin pada faktor yang memperkirakan depresi pada pria dan wanita.

Intervention
Pharmacotherapy
     Seperti yang telah ditetapkan lebih awal, ketika beberapa studi mengindikasikan bahwa obat antidepresan yang baru (SSRIs) mengurangi simptom depresi pada anak-anak, hasilnya bercampur. Yang lain memerhatikan mengenai penggunaan SSRIs dengan anak-anak termasuk kejadian dari efek samping yang tidak diinginkan, termasuk kegelisahan dan sifat lekas marah, susah tidur, ketidaknyamanan perut dan usus, mania, dan bahkan reaksi psikotik. Ada juga laporan mengenai meningkatnya pikiran bunuh diri, yang diperkirakan terjadi pada 2 sampai 3 persen dari anak-anak yang menggunakan obat antidepresan. Dalam menanggapiu ini, U.S. Food dan Drug Administration (2004) baru-baru ini memutuskan bahwa produsen obat-obatan menempatkan pada botol resep obat peringatan “kotak hitam” mengenai resiko bunuh diri pada anak-anak yang menggunakan antidepresan.
     Ketika dengan depresi orang dewasa, rekomendasi ahli (jika bukan praktek biasa) adalah  untuk menggunakan pengobatan antidepresi sebagai tambahan untuk psikoterapi daripada sebagai metode satu-satunya untuk merawat depresi anak dan remaja. Banyak faktor yang memperbesar depresi – keadaan hidup yang penuh stress, hubungan yang buruk antara orang tua-anak, konflik keluarga dan dissolusi, harga diri yang rendah, bias kognitif negative, misalnya – tidak bisa diubah melalui psikofarmakologi dan anak menjadi lebih baik dialamatkan melalui psikoterapi dengan anak atau keluarga.

Pschodynamic Psychotherapy
     Perawatan psikodinamis untuk depresi secara luas fokus pada masalah-masalah dalam organisasi kepribadian pokok, menemukan ini kembali pada pengalaman masa anak yang negative di mana depresi muncul. Tujuan dari terapi adalah untuk menurunkan kritisme diri dan gambaran diri negatif dan untuk menolong anak mengembangkan pertahanan diri yang lebih adaptif dengan tujuan menjadi mampu untuk melanjutkan hidup yang sehat pada perkembangan emosional. Dengan anak-anak yang lebih muda, terapis bisa menggunakan permainan sebagai cara membawa persoalan-persoalan ini ke ruang terapi, dengan fokus pemindahan untuk diskusi agar anak-anak menjadi dewasa secara kognitf.

Cognitive-Behavioral Therapy
     Terapi kognitif-behavioral untuk depresi anak adalah penemuan yang paling ekstensif, dan, keseluruhan menemukan mengenai efektivitas mereka adalah positif. Satu contoh dari pendekatan kognitif-behavioral adalah Mengatasi Rangkaian Depresi untuk Remaja, perpanjangan yang menurun dari program perawatan awalnya dibuat untuk orang dewasa. Intervensi ini termasuk permainan peran untuk mengajar teknik interpersonal dan pemecahan masalah, restrukturisasi kognitif positif untuk membentuk kognisi maladatif dan teknik penguatan diri. Studi dari keefektifan pendekatan ini menunjukkan bahwa, untuk 80 persen remaja yang membaik, meningkatkan perawatan berlangsung.

Interpersonal Therapy
     Pendekatan interpersonal diramalkan pada anggapan bahwa gangguan fugsi hubungan adalah pada akar dari depresi, yang banyak dari penelitian psikopatologi perkembangan akan ditegaskan. Interpersonal therapy (IPT) bertujuan membantu individu depresi untuk mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk menafsirkan dan mengatasi masalah interpersonal secara singkat, fokus intervensi.

Family Therapy
     Dujovne, Barnard, dan Rapoff (1995) menyimpulkan bahwa family-focused treatments menjamin pertimbangan utama, memberikan peran dari situasi keluarga, hubungan orang tua-anak, dan depresi orang tua dalam perkembangan dari gangguan spectrum depresi. Konsisten dengan hal ini, kelompok Lewinsohn (1996) menemukan bahwa keefektifan dari intervensi kognitif-behavioral untuk anak-anak depresi ditingkatkan melalui penambahan intervensi dengan orang tua. Sesi kelompok diadakan di mana orang tua diberikan kesempatan untuk mendiskusikan persoalan yang berhubungan dengan derpesi dan belajar komunikasi interpersonal yang sama dan kemampuan resolusi konflik diajarkan pada anak-anak mereka. Selanjutnya , konsultasi dengan guru-guru disediakan untuk mendukung dan memperkuat penggunaan anak-anak terhadap strategi coping yang adaptif selama sekolah.

Prevention
     Usaha untuk mencegah perkembangan depresi masa anak telah difokuskan pada hal yang paling beresiko – yaitu, anak-anak dari ibu yang depresi. Ibu yang berpartisipasi pada program intervensi dilaporkan menurunkan depresi dan perasaan stress, dan meningkatkan hasil penyesuaian keseluruhan diri mereka sendiri dan bayi mereka; bagaimanapun, mereka juga lebih bertahan. Usaha skala besar yang mengagumkan pada remaja diluncurkan di Australia oleh Shochet, Dadds, dan kolega mereka (2001). Peneliti mengembangkan intervensi 11 sesi disebut RAP (Resourceful Adolescent Program) yang menggabungkan banyak elemen dari bukti terapis kognitif-behavioral (misalnya, restrukturisasi kognitif positif, penguatan dari kekuatan yang ada) sebaik penargetan faktor interpersonal dan resiko kelaurga dan pencegahan. Kondisi perawatan yang kedua menggabungkan RAP dengan tiga sesi keluarga dimaksudkan untuk mengurangi konflik keluarga dan meningkatkan kehangatan dan mau mendengarkan dengan orang tua.


DAFTAR PUSTAKA

Kerig, P. K., & Wenar, C. (2006). DEVELOPMENTAL PSYCHOPATHOLOGY. From Infancy through Adolescence. New York: McGraw-Hill.
Mash, E. J., & Wolfe, D. A. (2010). Abnormal Child Psychology. Canada: Wadsworth.
WILMSHURST, L. (2009). ABNORMALCHILD PSYCHOLOGY. A Developmental Perspective. New York: Taylor & Francis Group, LLC.
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian (ed rev.).  Malang: UMM Press.
American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and statistical manual of mental disorder (DSM)-IV-TR (text revision). Washington, DC: APA.
Corey ,Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama.
Davidson, G dan Neale, J. M. 1997. Abnormal Psychology. 7th Ed. New York: John Wiley dan Sons.
Hadi, P. 2004. Depresi dan Solusinya. Yogyakarta: Penerbit Tugu.
Kerig, P. K., & Wenar, C. (2006). DEVELOPMENTAL PSYCHOPATHOLOGY. From Infancy through Adolescence. New York: McGraw-Hill.
Kring, A. M., Davidson, G. C., Neale, J. M., & Johnson, S. L. (2007). Abnormal psychology (10th ed.). USA: Wiley.
Lestari, E. W. 2003. Depresi Akibat Trauma Masa Kanak-Kanak. Skripsi. (Tidak Diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Lely ,Mariyati., &  Habibah,Nur. (2011).  Terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) untuk mengurangi kecenderungan merokok pada remaja awal. Psikologi Jurnal Ilmiah Psikologi, Fak. Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Mash, E. J., & Wolfe, D. A. (2005). Abnormal child psychology (3rd ed.). Southbank, Victoria: Wadsworth.

Mash, E. J., & Wolfe, D. A. (2010). Abnormal Child Psychology. Canada: Wadsworth.
Mash, E. J., & Wolfe, D. A. (2005). Abnormal child psychology (3rd ed.). Southbank, Victoria: Wadsworth.
Mc. Dowel, I & Newell, C. (1996). Measuring Health: A Guide To Rating Scales and Questionnaire (2nd ed). New York; Oxford University Press.
Meier, Paul et.al. (1988).  Introduction to Psychology & Counseling (Grand Rapids-Michigan: Baker Book House.
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. (2009).  Human Development (11th edition). USA : McGraw Hill.
Semium, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius.
Semium, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.
Santrock, J. W. (2007). Child development (11th ed.). New York: McGraw-Hill.
Sarason, I. G. 1989. Abnormal Psychology. 6th Ed. New Jersey: Pentice Hall.
Stuart. G.W and Laraia. (2001). Principle and practice of psychiatric nursing.7thed. St Louis: Mosby Year Book.
Zainuddin, Faiz. (2009). Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT ).  Jakarta: AFZAN Publishing.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda