Hai
semua.. Kali ini saya ingin memberikan sebuah contoh mengenai
pembuatan modul dalam terapi psikologi, yaitu:
- Pendahuluan
Modul
Pelatihan Kepercayaan Diri Anak Panti Asuhan
Terbentuknya
kepercayaan diri diawali oleh adanya konsep
diri. Anak asuh bisa memiliki konsep diri
yang cenderung negatif karena keberadaannya
di panti asuhan dapat menjadi penghambat terbesar dalam perkembangan
konsep diri anak asuh dan juga bisa menjadikan anak asuh cenderung
untuk berkonsep diri negatif adalah karena anak asuh panti asuhan
telah mendapatkan label anak-anak yang perlu dikasihani. Artinya
label yang muncul secara internal dan juga didukung oleh pandangan
lingkungan sosialnya menjadikan anak asuh harus tarik ulur dalam
menilai dirinya (Lukman,
2000). Hal ini menimbulkan kepercayaan diri
yang rendah pada anak panti asuhan.
Rasa
percaya diri sangat menunjang individu untuk memaksimalkan kemampuan
yang dimiliki sehingga terhindar dari rasa ragu-ragu yang sering
mengganggu. Dilihat dari sudut pandang perkembangan, pada usia pra
remaja sangat rentan dengan rasa percaya diri yang dia miliki.
Remaja yang
memiliki rasa kurang percaya diri akan menghambat tumbuh kembang anak
tersebut dalam beraktifitas di
lingkungan sekitar yang dia tempati, baik
di sekolah,
keluarga maupun masyarakat.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa rasa
percaya diri sangat berpengaruh dalam perkembangan individu untuk
mengaktulisasikan diri dengan lingkungan sekitar.
Percaya diri
adalah sesuatu yang membuat manusia menjadi memahami akan kondisi
dirinya karena adanya kekuatan didalam jiwa kita. Rasa percaya diri
sangat penting dalam hal mengembangkan sikap sosialisasi didalam
lingkungan yang baru. Seseorang yang percaya diri akan merasa nyaman
pada lingkungan yang bagaimanapun dan kondisi yang seperti apapun
karena ia dapat dengan mudah beradaptasi. Akan tetapi tidak semua
anak mempunyai rasa percaya diri yang
tinggi bahkan cenderung kurang percaya diri. Rasa
kurang percaya diri adalah suatu keyakinan yang negatif terhadap
suatu kekurangannya yang ada diberbagai aspek kepribadiannya,
sehingga ia tidak mampu untuk mencapai berbagai tujuan di
dalam kehidupannya.
Sikap seseorang yang
menunjukkan rasa kurang percaya diri antara lain, selalu dihinggapi
dengan rasa keragu-raguan, mudah cemas, tidak yakin, cenderung
menghindar, tidak punya inisiatif, mudah patah semangat, tidak berani
tampil didepan banyak orang dan gejala kejiwaan lainnya yang nantinya
akan menghambat seseorang tersebut untuk berbuat sesuatu.
Salah satu cara yang bisa mengatasi rasa kurang percaya diri
tersebut adalah dengan pelatihan kepercayaan diri
dalam kelompok, dikarenakan disamping bersifat efisien juga
secara tidak langsung anak tersebut akan
belajar untuk bersosialisasi dalam lingkup yang mungkin bisa
dikatakan kecil.
Terbentuknya kelompok
karena adanya persamaan dalam kebutuhan akan berkelompok, dimana
individu memiliki potensi dalam memenuhi kebutuhan dan setiap
individu memiliki keterbatasan, sehingga individu akan meminta atau
membutuhkan bantuan individu yang lain untuk mengatasinya.
- Pengertian
- Kepercayaan Diri
Menurut Rahmat (1994)
kepercayaan diri dapat diartikan sebagai keyakinan intividu untuk
melakukan sesuai dengan keinginannya dan didasarkan pada cara pandang
individu mengetahui kemampuan dan kelemahannya serta cara individu
menyelesaikan permasalahan berdasarkan pada kemampuannya. Angelis
(1997), menyatakan kepercayaan diri berasal dari tekad pada diri
sendiri dan terbina dari keyakinan diri sendiri untuk melakukan
sesuatu dalam hidup sesuai dengan batas-batas keinginan dan kemampuan
pribadi.
Lindenfield (1997)
mengatakan bahwa orang yang mempunyai kepercayaan diri mampu bekerja
secara efektif, dapat melakukan tugas dengan baik serta mempunyai
rencana tentang masa depannya. Orang percaya diri akan merasa puas
dengan dirinya sendiri.
Kepercayaan
diri adalah salah satu ciri kepribadian yang mengandung arti
keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Rasa
percaya diri merupakan sikap pada diri seseorang yang dapat menerima
kenyataan, dapat mengembangkan kesadaran diri, berpikir positif,
memiliki kemandirian dan mempunyai kemampuan untuk memiliki serta
mencapai segala sesuatu yang diinginkan. Orang
yang mempunyai kepercayaan diri cenderung bersifat optimis dan akan
menghadapi persoalan yang ada dengan hati yang tenang, sehingga
analisisnya terhadap persoalan tersebut dapat rasional dan obyektif
(Anthony, 1996).
Widjaja (2008)
menjelaskan bahwa kepercayaan diri adalah suatu
sikap positif dan keyakinan terhadap diri sendiri bahwa ia memiliki
kelebihan dan kelemahan, mau mencoba hal baru, optimis dalam
menghadapi masalah, berani menyatakan pendapat di depan orang lain
dan bertanggung jawab atas segala perbuatan yang telah dilakukan.
Berdasarkan
definisi-definisi tersebut, maka yang dimaksud dengan kepercayaan
diri adalah suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya
mampu berperilaku seperti yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil
seperti yang diharapkan, mampu berpikir positif,
kreatif, memiliki kemandirian serta memiliki keyakinan
terhadap kemampuan diri sendiri.
- Ciri-ciri orang yang percaya diri
Kumara (1988)
menyatakan bahwa orang dengan kepercayaan diri adalah individu yang
memiliki:
- Keyakinan akan kemampuan diri
- Optimis
- Menerima diri apa adanya
- Mempunyai konsep atau gambaran diri yang positif
3.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri
Antony (1996),
mengemukakan bahwa untuk mengembangkan kepribadian yang sehat adalah
belajar dari pengalaman masa lalu serta mengakui kesalahan-kesalahan
yang dilakukan dan memutuskan dengan segala kemampuan dan kesadaran
untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Dari pengalaman dan
kesalahan yang mengecewakan itu dapat membuat seseorang merasa
menyesal, malu dan bersalah. Emosi negatif tersebut, jika terlalu
dominan atau tidak diperhatikan dapat menimbulkan rasa kurang percaya
diri.
Pembentukan
kepercayaan diri seseorang diawali dengan pengenalan diri secara
fisik, bagaimana seseorang menilai, menerima atau menolak gambaran
dirinya, yang selanjutnya akan menimbulkan rasa puas atau tidak puas.
Individu yang puas dengan kondisi dan
penampilan fisiknya, pada umumnya memiliki kepercayaan diri yang
lebih tinggi dari pada orang yang tidak merasa puas, dengan demikian
kondisi fisik sangat mempengaruhi kepercayaan diri seseorang
(Centi, 1993).
4.Pelatihan
kepercayaan diri
Pelatihan
kepercayaan diri adalah seperangkat pengalaman belajar yang
terencana, terstruktur dan didesain dengan teratur dimulai dari
pengukuran kebutuhan, pelaksanaan dan diakhiri dengan evaluasi yang
bertujuan meningkatkan sikap positif dan keyakinan terhadap diri
sendiri bahwa ia memiliki kelebihan dan kelemahan, mau mencoba
hal-hal baru, optimis dalam menghadapi masalah, berani menyatakan
pendapat di depan orang lain dan bertanggung jawab atas segala
perbuatan yang telah dilakukan (Widjaja, 2008).
Modul yang
digunakan oleh terapis berdasarkan ciri-ciri kepercayaan diri pada
penelitian Widjaja yang sudah diujikan.
- Kelompok sasaran program
Anak Panti Asuhan
Bimomartani yang pemiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah.
- Pelaksanaan Intervensi
Judul Intervensi
”Pelatihan
Peningkatan Kepercayaan Diri Anak Panti Asuhan Bimomartani”
Tujuan Intervensi
- Meningkatkan kepercayaan diri kelompok
- Meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan dirinya sendiri menjadi lebih baik, lebih matang dan lebih mantap.
- Membentuk sikap dan perilaku percaya diri serta prinsip hidup menuju kehidupan yang sejahtera
- Menumbuhkan pola pikir dan kebiasaan yang percaya diri
- Menciptakan hubungan baik dengan sesama teman dan penuh percaya diri.
- Membangun kepercayaan diri atas dasar self-efficacy dan self-esteem
Prosedur dan Pelaksanaan Intervensi
Intervensi
dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan. Intervensi ini di Ruang Kelas
Panti Sosial Asuhan Anak, dengan total waktu 430
menit. Prosedur pelaksanaan sebagai
berikut:
Pertemuan 1
SESI I: BINA RAPORT
Tujuan
|
Peserta
memahami rangkaian pelatihan yang akan dilakukan.
|
|||||||||||
Materi
|
|
|||||||||||
Metode
|
Diskusi
|
|||||||||||
Waktu
|
30
menit
|
|||||||||||
ICE
BREAKING
|
||||||||||||
Tujuan
kegiatan
|
|
|||||||||||
Prosedur
|
Ketika
peserta salah menyebutkan makanan kesukaan peserta yang
ditunjuknya, seluruh peserta memberikan sorakan “Huu...”:
Katakan:
“Pada kesempatan ini, agar kita semakin mengenal satu-sama
lain, kita akan mengadakan permainan sederhana. Saya minta kalian
semua mengingat nama panggilan kecil, makanan favorit dan ukuran
sepatu diri masing-masing peserta, kemudian beritahukan kepada
peserta lainnya. Peserta lain harap mengingat hal yang disebutkan
tadi. Saya akan memberi waktu 5 menit untuk mengingatnya,
kemudian saya akan menunjuk salah seorang peserta.
Peserta yang saya tunjuk segera berdiri menunjuk
peserta lain sambil menyebutkan nama
kecil, makanan kesukaan
dan ukuran sepatu teman yang ada disampingnya,
demikian seterusnya secara berantai. Apabila
peserta salah menyebutkan, seluruh peserta
memberikan sorakan “Huu...”.”
|
|||||||||||
Material
|
Tidak
ada
|
|||||||||||
Diskusi
|
Perasaan
peserta setelah pengalaman
|
|||||||||||
Waktu
|
20
menit
|
|||||||||||
KONTRAK
BELAJAR
|
||||||||||||
Tujuan
kegiatan
|
|
|||||||||||
Prosedur
|
Katakan: “Baik..tadi
kita sudah sedikit bermain dan sekarang kita lanjutkan pada
kegiatan berikutnya. Sebelumnya saya akan memperkenalkan lebih
detil tentang diri saya dan tujuan dari pelatihan ini untuk
menyelesaikan permasalahan yang sama yaitu percaya diri yang
masih perlu ditingkatkan. Untuk kelancaran kegiatan, saya minta
semua peserta dapat mengikuti pelatihan dengan baik dan mengikuti
prosedur yang sudah ditentukan.”
|
|||||||||||
Material
|
|
|||||||||||
Diskusi
|
-
|
|||||||||||
Waktu
|
10
menit
|
|||||||||||
SESI
II: PEMAHAMAN DIRI
|
||||||||||||
Tujuan
Kegiatan
|
Para
peserta mampu menyebutkan aspek positif (kelebihan) dan aspek
negatif (kekurangan) yang ada pada dirinya dengan harapan peserta
mampu mengembangkan kepribadian diri
secara optimal, sehingga dapat menunjang pelaksanaan tugas.
|
|||||||||||
Materi
|
|
|||||||||||
Metode
|
|
|||||||||||
Waktu
|
280
menit
|
|||||||||||
|
||||||||||||
Tujuan
kegiatan
|
Peserta
dapat mengerti kebaikan (kelebihan) serta
keburukan
(kekurangan) dirinya masing-masing
dan dapat bercermin diri.
|
|||||||||||
Prosedur
|
Katakan: “Sekarang
saya ingin kalian semua menuliskan kelebihan dan kekurangan
masing-masing di kertas yang sudah saya berikan. Setelah semua
menuliskan kelebihan dan kekurangannya, saya minta kalian semua
mengumpulkan kertas tersebut kepada saya dan saya akan membacakan
satu persatu dan meminta kalian memberi penjelasan mengenai hal
yang kalian tuliskan.”
|
|||||||||||
Diskusi
|
Fasilitator
memfasilitasi peserta untuk mengurai rencana
sampai detail
|
|||||||||||
Material
|
|
|||||||||||
Waktu
|
|
|||||||||||
2.MENERIMA
KEADAAN DIRI SENDIRI DARI FEEDBACK ORANG
LAIN
|
||||||||||||
Tujuan
kegiatan
|
Para
peserta dapat intropeksi diri dan mampu melakukan usaha
memperbaiki diri.
|
|||||||||||
Prosedur
|
1. Fasilitator
meminta semua peserta menuliskan kelebihan dan kekurangan dari
peserta lain.
2.Setiap
perilaku yang dijelaskan dievaluasi bersama dan diberikan
feedback
Katakan:
“Setelah kita mengenal diri kita sendiri sesuai dengan
pandangan diri sendiri, sekarang saya minta kalian menuliskan
kelebihan dan kekurangan teman-teman kalian yang ada disini.
Setelah ditulis, saya minta kalian menyebutkan hal tersebut
didepan masing-masing teman yang sudah ditulis. Hal ini dapat
membantu kita untuk dapat intropeksi diri dan pada akhirnya dapat
meningkatkan kemampuan yang dimiliki dan dapat memperbaiki diri
menjadi lebih baik lagi”.
|
|||||||||||
Material
|
Kertas
dan alat tulis
|
|||||||||||
Diskusi
|
Sesuai
pertanyaan yang muncul
|
|||||||||||
Waktu
|
60
menit
|
|||||||||||
|
||||||||||||
Tujuan
kegiatan
|
Peserta
termotivasi dalam meraih tujuan dengan pertimbangan yang matang
dan peserta dapat belajar lebih optimis dalam menghadapi masalah
untuk mencapai mimpi yang diinginkan
|
|||||||||||
Prosedur
|
|
|||||||||||
Material
|
|
|||||||||||
Diskusi
|
|
|||||||||||
Waktu
|
150
menit
|
|||||||||||
Pertemuan
2
SESI
I: STRATEGI COPING DAN ROLE PLAY
SESI
II: HARAPAN
|
||||||||||||
Tujuan
|
Para
peserta mampu menyebutkan keinginan seperti apakah dirinya
setelah selesai melakukan pelatihan ini.
|
|||||||||||
Materi
|
Pohon Harapan
|
|||||||||||
Metode
|
Presentasi dan
diskusi
|
|||||||||||
Waktu
|
60
menit
|
|||||||||||
POHON HARAPAN
|
||||||||||||
Tujuan
kegiatan
|
Peserta termotivasi
dalam meraih tujuan yang diinginkannya
|
|||||||||||
Prosedur
|
Katakan: “Di
depan kalian saat ini ada sebuah pohon yang terbuat dari karton,
saya akan memberikan kalian selembar kertas kecil dan meminta
kalian untuk menuliskan harapannya. Setelah menulis harapan, saya
ingin kalian menempelkannya di pohon karton tersebut. Setelah
itu, kita akan mendiskusikan harapan-harapan kalian tadi dan
bagaimana cara kalian agar kalian dapat mencapai harapan
tersebut.”
|
|||||||||||
Material
|
Karton dan alat tulis
|
|||||||||||
Diskusi
|
Fasilitator
mendiskusikan mengenai hal-hal yang sudah
dilakukan peserta untuk mencapai harapannya dan memberikan
dukungan kepada peserta.
|
|||||||||||
Waktu
|
60
menit
|
|||||||||||
SESI III:
CLOSSING SESSION
|
||||||||||||
Tujuan
|
Peserta mampu
mengaktualisasikan diri dan menerima umpan balik
|
|||||||||||
Metode
|
|
|||||||||||
Waktu
|
60
menit
|
|||||||||||
DISKUSI
|
||||||||||||
Tujuan
kegiatan
|
Peserta
dan fasilitator memberikan kesimpulan mengenai pelatihan yang
telah dilakukan
|
|||||||||||
Prosedur
|
|
|||||||||||
Material
|
-
|
|||||||||||
Diskusi
|
Fasilitator
memfasilitasi peserta dalam memberikan kesimpulan atas pelatihan
yang dilakukan
|
|||||||||||
Waktu
|
30
menit
|
|||||||||||
KESAN
& PESAN
|
||||||||||||
Tujuan
kegiatan
|
Fasilitator
mengetahui masukan dari peserta mengenai evaluasi mengenai proses
pelatihan.
|
|||||||||||
Prosedur
|
|
|||||||||||
Diskusi
|
Perwakilan
peserta mengemukakan evaluasi
|
|||||||||||
Material
|
-
|
|||||||||||
Waktu
|
|
DAFTAR PUSTAKA
Antony, (1996).
Rahasia Membangun Kepercayaan Diri (alih bahasa Rita Wiryadi).
Jakarta; Bina Rupa Aksara.
Andayani, B dan Afiatin,
T. (1996). Konsep
diri, Harga Diri dan Kepercayaan Diri Remaja. Laporan Penelitian
(tidak diterbitkan). Fakultas Psikologi. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada.
Centi, J Paul. (1993).
Mengapa rendah diri?. Yogyakarta :Kansius
Kumara, A. (1988).
Studi Pendahuluan Tentang Validitas dan Reabilitas The Test Self
Confidence. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan).
Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Lindenfield, G. (1997).
Mendidik Anak Agar Percaya Diri. Jakarta: Arcan
Lukman, Muhammad. (2000).
Kemandirian Anak Asuh
Di Panti Asuhan
Yatim Islam
Ditinjau Dari
Konsep Diri dan
Kompetensi Interpersonal.
Jurnal Psikologika. No
(10,V.57-73).
Papalia,
D.E.,Olds, S.W & Feldman, R. D. (2009). Human
Development (11th
ed.). New York: McGraw-Hill.
Rahmat,
J. (1994). Psikologi Komunikasi.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Santrock,
J.W. (2009). Adolescence
(12th
ed.). New York: McGraw-Hill.
Widjaja,
S.W. (2008). Efektivitas pelatihan
kepercayaan diri terhadap peningkatan kepercayaan diri remaja di
komisi remaja GKI Sorogenen Solo.
Skirpsi (tidak diterbitkan). Fakultas Psikologi Universitas Katolik
Soegijapranata, Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda