Hai semua.. kali ini saya akan membicarakan mengenai perkembangan
anak yang mengalami cedera otak. Hal ini sangat penting
diketahui karena cedera otak dan penyakit kronis akan sangat mempengaruhi
perkembangan seorang anak nantinya. Nah bagi para orang tua dan pendidik, semoga info yang saya
berikan ini memberi masukan penting pada anda semua.
Kerusakan otak (Brain Damage)
Definisi
Kerusakan otak diartikan dalam tiga
penjelasan. Secara khusus dijelaskan sebagai kelainan neurological itu sendiri,
berdasarkan pada faktor bawaan, lokasi kerusakan, dan ukuran dari kerusakan itu
sendiri di dalam otak. Definisi behavioral berfokus pada gangguan fungsi yang
diserang sehingga mengakibatkan gangguan pada motorik dan gangguan komunikasi,
gangguan sensori dan perceptual, hingga mengakibatkan gangguan intelektual.
Kerusakan otak juga dikonsep secara luas secara etiologi, seperti cedera otak
akibat benturan, anoxia, encephalitis, epilipsi, cerebral palsy, bahkan pada
beberapa kasus kerusakan otak terjadi akibat keracunan timbal. Keterkaitan satu
faktor dengan yang lainnya mungkin saja terjadi, tetapi tidak menutup
kemungkinan adanya faktor lain yang menyebabkan kerusakan otak. Untuk itu,
pentingnya bagi kita mencari keterangan dari penyebab terjadinya kerusakan otak
pada anak.
Assessment
Autopsy adalah teknologi yang paling
canggih dan dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kerusakan otak, tetapi
teknologi ini tidak cukup membantu baik penderita untuk hidup.
Pemeriksaan Neurological
Pemeriksaan neurological melihat tanda
umum yang terjadi pada anak dengan kerusakan otak, seperti kegagalan merefleks,
terbatasnya pada penglihatan anak, dan kehilangan fungsi dan merasakan di beberapa
bagian tubuh. Bagian terpenting dalam pemeriksaan neurologis adalah assessment terhadap fungsi sensori dan
motorik pada 12 syaraf kranial.
Teknik Neuroimaging
Menandai kemajuan yang melakukan
teknik yang akhir-akhir ini sering dilakukan yaitu alat visualisasi struktur
dan fungsi otak, Electroenchepalogram (EEG). Alat ini mengukur aktivitas
elektrikal pada otak, dapat mendeteksi kerusakan otak secara umum tetapi tidak
detil, dan cenderung salah. Kenyataannya, laporan EEG pada 10 dari 20% anak
normal tidak sesuai.
Namun, dua kemajuan yang dikontribusikan
EEG dalam mendeteksi kerusakan otak pada anak memberikan hasil peningkatan
sensitivitas. Mulanya, Event Related potential (ERP). Ketika ada stimulus
seperti cahaya atau suara, maka otak menghasilkan respon karakteristiknya yang
disebut ERP. ERP menyajikan diagnosa lengkap untuk mendeteksi ketidaknormalan
fungsi (malfunction), seperti kelainan visual dan ketulian awal atau anak
dengan keterbatasan mental yang tidak mampu dideteksi dengan teknik yang biasa.
Selanjutnya, mengembangkan komputer grafis dan analisis yang mampu merekam
secara bersamaan daripada menggunakan EEG, karenanya komputer grafik sudah
mampu melaporkan dalam bentuk gambar.
Kemajuan lain dari teknik imaging dan
visualisasi adalah teknik X-Ray. X-Ray penggunaannya hanya terbatas untuk
mendeteksi penyebab kerusakan otak secara umum. Computerized Axial Tomography (CAT) scan, yang dikenal dengan Computer Assisted Tomography (CT Scan)
menggunakan komputer dengan mesin X-Ray untuk menghasilkan gambar otak yang
sangat detail dari bagian depan hingga bagian bawah otak, juga mengetahui letak
kerusakan pada setiap bagian otak. Metode imaging
yang disebut dengan Magnetic Resonance
Imaging (MRI) menghasilkan gambaran yang lebih jelas. Menyajikan gambar
otak dengan setiap lapisannya secara berurutan dan mampu menghasilkan gambar
struktur otak secara tiga dimensi.
Functional
Magnetic Resonance Imaging (fMRI), satu-satunya metode yang secara cepat
menggambarkan ritme dan kehidupan otak. Alat ini merekam saat meningkat atau
menurunnya asupan oksigen dalam otak secara berturut-turut di setiap belahan
otak. fMRI digunakan untuk memetakan area otak sehingga mampu mendeteksi sistem
visual, kerja memori, proses belajar, dan penyelesaian masalah.
Position Emission Tomography (PET Scan)
tidak seperti teknik imaging yang menghasilkan gambaran statistik dari otak,
hanya memperlihatkan struktural otak serta dapat mendeteksi fungsi abnormalitas
pada otak secara utuh. PET scan dapat merekam sel otak dalam memetabolisme
glukosa, radioactive glukose masuk
kedalam saluran arteri otak sehingga memetabolisme kerja otak.
Pemeriksaan Neuropsychological
Pemeriksaan neuropsychological
digunakan untuk menjelaskan secara spesifik penurunan fungsi kognitif pada anak
yang mengalami kerusakan otak. Dua teknik yang sering digunakan adalah battery
tes termasuk NEPSY Developmental
Neuropsychological Assessment dan Woodcock-Jhonson-III
Test of Cognitive Ability. Meskipun didasari pada fungsi kognitif yang
berbeda, tetapi kedua alat tersebut juga mengukur proses kognitif yang
disebabkan oleh kerusakan otak, termasuk atensi, memori, kecepatan dan
ketepatan, proses melihat dan mendengar, serte mengukur fungsi eksekutif
seperti organisasi, perencanaan, self
monitoring, dan fleksibiltas kognitif.
Secara khusus, neuropsychological battery diadministrasikan beriringan dengan tes
inteligensi untuk mengukur keseluruhan tahapan kognitif pada anak, dan educational test battery untuk mengukur
penguasaan anak dalam menyelesaikan tugas sekolah. Tes dilakukan secara
berulang dengan tujuan untuk mengetahui batasan perubahan fungsi kognitif pada
anak dan untuk melakukan intervensi dengan tujuan memenuhi kebutuhan di setiap
tahapan perkembangan anak.
Psikopatologi akibat
kerusakan otak
Anak yang mengalami kerusakan otak
cenderung memiliki risiko untuk mengalami gangguan psikopatologi. Perlu digaris
bawahi bahwa pentingnya pemahaman mengenai otak, tidak sedikit yang memahami
bahwa permasalahan ini adalah masalah ringan. Saat kita telah memahami mengenai
faktor penyebab cedera otak, kita juga akan memahami bagaimana cara untuk
menangani anak yang mengalami cedera otak. Sebagai contoh, kerusakan otak
akibat cidera, stroke, dan infeksi. Cara menanganinya adalah dengan mengetahui
penyebaran cedera kemudian mengganti fungsi kerusakan nya. Pada kerusakan yang
telah menyebar, neuron yang tidak rusak membuat sinaps singkat dengan bagian
luar neuron yang rusak. Sehingga fungsi otak bagian lain itu menggantikan
fungsi otak yang telah mengalami kerusakan. Penting bagi kita untuk menandai
bahwa tidak ada bukti yang menyatakan bahwa kerisakan otak akan mengarah pada
gambaran karakteristik klinis, sehingga dapat memberikan label sebagai “anak
dengan kerusakan otak”. Pengaruh dari kerusakan otak itu sendiri cenderung
tidak spesifik dengan rentang diagnosa psikopatologi yang sangat luas.
Traumatic Brain Injury (TBI)
Traumatic Brain Injury adalah cedera
otak yang disebabkan karena faktor luar fisik (esternal force physical), sehingga mengalami gangguan fungsi otak
secara keseluruhan atau sebagian sampai mengalami masalah psikososial. TBI
disebabkan oleh dua faktor, yaitu cedera kepala dalam (penetrating head injury), terdiri dari cedera di dalam tulang
kepala, pada dura (lapisan pengaman di bawah tulang kepala), dan kerusakan pada
jaringan otak. Cedera kepala dalam dapat disebabkan oleh sesuatu yang membentur
kepala, misalnya terbentur benda tumpul. Cedera kepala tertutup (closed head injury), adalah yang paling
sering terjadi dan disebabkan oleh pukulan dikepala tetapi tidak mengalami
cedera pada dura. Misalnya, seorang anak yang mengalami kecelakaan mobil, dan
kepalanya mengenai benda padat.
Dua macam cedera otak tersebut memberikan
pengaruh yang berbeda pada otak. Penetrating
head injury mengakibatkan spesifik dan terlihat dampaknya, berbeda dengan closed head injury dapat mengakibatkan
gangguan neurologic yang lebih luas bahkan lebih serius. Pengaruh lain yang
disebabkan oleh closed head injury
adalah adanya kerusakan pada sisi yang berhadapan pada otak dari pukulan,
ketika benda tumpul bergerak langsung ke arah tulang kepala, maka disebut contra coup injury. Bagian frontal lobes
sangat rentan dengan closed head injury
karena di dalam tulang kepala dibagian depan otak terdiri dari tonjolan tulang
yang bisa rusak karena pukulan langsung.
TBI dan psikopatologi
Preinjury
functioning
TBI tidak terjadi secara acak dalam satu
populasi. Sehingga kita harus melihat karakteristik dari anak tersebut dan
riwayat keluarga yang mendahului terjadinya TB (termasuk faktor pendamping
penyebab TB).
Anak-anak dengan cedera otak memiliki
risiko akan mengalami kesulitan dalam belajar, serta stress dalam hidupnya.
Beberapa anak yang sebelumnya mengalami cedera otak, umumnya akan mengalami
ADHD. Selanjutnya, keluarga dari anak yang berisiko TBI cenderung kurang berfungsi
dengan baik, dan orang tua seringnya gagal untuk memberikan pengawasan yang
sesuai. Cedera kepala yang parah sering terjadi ketika tidak di monitor oleh
pengasuhnya, terlepas dari pengasuhnya tidak ada atau mengabaikan anak
tersebut. Hingga akhirnya, orang tua cenderung pergi ke psikiater dan mengalami
masalah perkawinan.
Psikopatologi
post injury
Penelitian selalu memaparkan tingginya
gangguan psikologis pada anak yang mengalami TBI. Diagnosa psikiatri lebih
banyak menemukan anak dengan TBI parah dibandingan dengan TBI ringan, cenderung
akan mengalami depresi dan ADHD.
Konteks Biologis
Konteks ini memuat tiga penyebab TBI
secara fisik, yaitu tension
(menegangnya jaringan), compression
(jaringan yang menekan bersamaan), dan shearing
(pengikisan jaringan). Konteks lain juga memuat penyebab dari cedera itu
sendiri, antara lain acceleration
(benturan akibat objek yang diam,misal kaca mobil bagian depan), deceleration (benturan akibat benda yang
bergerak, misalnya bat baseball), dan rotation
(benturan akibat benda yang berputar atau yang menekan). Kejadian yang paling
langka terjadi adalah tipe yang terakhir ini. Fraktur pada tulang kepala bukan
berarti akan mengalami cedera otak. Harus diperhatikan apakah kerusakan otaknya
menyebar hingga memutuskan hubungan antara sel otak, disebut dengan diffuse axonal injury. Trauma akan
memberikan perubahan biochemical, seperti berkurangnya pottasium pada
intracelluler fluid. Fatalnya akan mengakibatkan rangsang yang berlebihan
sehingga mengakibatkan gangguan pada sel metabolisme, dan dapat mengakibatkan
kematian.
Secondary brain damage, memberikan
penyebab sekunder pada cedera otak. Pengaruh secondary ini termasuk edema (pembengkakan otak), brain
hemorraghing (pendarahan otak), keduanya dapat menekan otak dengan memberikan
tekanan pada daerah sekitar tulang kepala. Hypoxia (kurangnya asupan oksigen
dalam darah), atau ischemia (terhambatnya aliran darah) juga dapat
mengakibatkan kerusakan otak karena mengambil asupan nutrisi penting dalam
otak. Cerebral atrophy dapat terjadi ketika jaringan otak tidak berfungsi, dan pereganggan
sistem vastukuler dalam otak. Sebagai tambahan, anak-anak khususnya rentan
terkena post injury yang dapat mengganggu fungsi perkembangannya.
Konteks individual
Cedera otak yang parah dapat memberikan
pengaruh yang beragam pada fungsi intarpersonal anak.
Perkembangan kognitif
Inteligensi
Secara umum, anak yang mengalami cedera
otak inteligensinya akan menurun, beriringan dengan tingkat keseriusan dari
cedera otaknya. Penurunan inteligensi ini akan membetuk pola yang spesifik,
yaitu kemampuan non verbal akan terpengaruh dibandingkan dengan kemampuan
verbal nya. Anak yang mengalami TBI cenderung mengalami keterlambatan secara
mental yang mana secara negatif akan memengaruhi kemampuan mereka dalam
menyelesaikan test IQ. Skor IQ akan meningkat seiring berjalannya waktu, dan
jarang mengalami kemunduran ke tahap preinjury level. Anak-anak akan berlanjut
mengalami penurunan sampai 5 tahun setelah cedera.
Atensi
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa
setelah mengalami cedera otak, anak akan mengalami kesulitan dalam atensi dan
konsentrasi. Penurunan ini ditemukan setelah 5 tahun setelah mengalami cedera
otak dan merupakan faktor yang menyebabkan anak mengalami kesulitan belajar di
sekolah
Bahasa
Anak dengan TBI secara umum jarang menunjukkan
keterhambatan dalam bicara dan pengetahuan berbahasa, meskipun terkadanga
faktor spesifik itu muncul. Masalahnya timbul saat anak diminta untuk memberi
nama untuk suatu objek, verbal fluency,
pengulangan kata dan kalimat, dan dalam menulis.
Memori
Masalah memori adalah salah satu pengaruh
yang paling sering ditemui akibat TBI, khususnya untuk mengingat informasi yang
baru. Sulitnya anak untuk atensi, mengakibatkan ia tidak mampu mengcoding
informasi dan di disimpan di memori.
Pengaruh motorik dan
sensoris
Pengaruh motorik dan sensoris dari TBI
yang sering terjadi adalah fatigue, menurunnya fungsi koordinasi motorik,
masalah visual dan perabaan, serta sakit kepala. Semua itu dapat menjadi
masalah dalam problem solving, mood,
dan perfomance saat di sekolah.
Emotional Development
Sifat marah dan rasa toleransi yang rendah
pada anak dapat terjadi karena cidera kepala. Cidera parah pada anak terjadi
dalam waktu yang panjang dan menunjukan emosi-emosi negatif serta masalah-masalah
perilaku dan dapat menunjukan diagnosis gangguan perilaku. Beberapa cedera
parah pada anak menunjukan dengan jelas hambatan emosi dan perilaku,
berhubungan dengan kerusakan pada frontal lobe dan perlu diperhatikan cara
penanganannya.
Anak yang menderita TBI juga biasanya
menunjukan afek depresi, penarikan diri dan apatis. Dimana mood negatif
mengakibatkan kepekaannya menurun karena cidera, ini juga dipengaruhi oleh
dimana letak cidera itu berasal. Anak dengan kerusakan hemispheric biasanya
menunjukan awal depresi (Walker, 1997).
The Self
Pengetahuan anak tentang cidera berdampak
pada konsep dirinya yang berbeda-beda sesuai dengan fungsi usia. Dimana anak
yang lebih muda menyangkal cidera dan kurang perhatian tehadap pengaruh
fungsinya, anak yang berusia 9 tahun lebih menunjukkan konsep diri dan kepekaan
dimana mereka tinggal serta kemampuannya untuk berfungsi baik setelah mengalami
cidera.
The Family Context
Keluarga
mungkin akan mengalami peningkatan stress untuk sesuatu hal yang baru dan sulit
untuk bertahan dalam menghadapi anak dengan perilaku menyimpang. Hal ini dapat
merubah gaya hidup keluarga dari sebelumnya, contohnya dengan lebih mencurahkan
sumber penghasilan untuk terapi pengobatan daripada liburan atau memperbaiki
tempat tinggal. Keluarga yang tetap menyesuaikan diri dan memberikan cinta akan
mampu melalui stress. Kekakuan dan kemarahan beresiko mengganggu penyembuhan
dan rehabilitasi anak (Taylor et al, 1995).
The Social Context
Peningkatan
impulsive pada anak, sifat lekas marah serta agresif dapat mengganggu hubungannya
dengan temannya. Teman lama mungkin akan berimpati, namun teman baru akan sulit
menerima. Dengan demikian akan meningkatkan resiko isolasi sosial (Andrews,
Rose & Johnson, 1998). Selanjutnya TBI mungkin akan mengganggu fungsi
kognitif yang merupakan kunci dari interaksi sosial, seperti komunikasi.
Contohnya, Terlihat pada cidera kepala yang ringan hingga berat, orang dewasa
akan sulit menunjukan emosi dan pemahaman sosial, hal ini merupakan kesulitan
dalam hubungan sosial (Kersel et al., 2001).
Developmental Course
Terdapat beberapa sumber dari berbagai
macam akibat cidera otak. Kita telah mendiskusikan dua diantaranya yaitu tipe
dan tingkat keparahan cidera. Terlihat tipe dari cidera, cidera mempunyai efek
yang berbeda dengan cidera kepala ringan, sama seperti yang kita lihat. Dalam
peningkatannya, perkiraan akan penemuan dari cidera kepala berhubungan tingkat
keparahan cidera. Seperti yang kita tahu, durasi seseorang saat dalam keadaan
koma adalah saat kritis, durasi singkat, dan saat penyembuhan. Bagaimanapun,
faktor sumbernya adalah bahan organik dan faktor psikologis.
Faktor penting lainnya adalah usia anak
saat mengalami cidera. Balita dan anak preschool adalah umur yang beresiko
mengalami dampak besar dan dalam waktu yang panjang. Kenapa demikan? Ingatan
TBI membawa dampak ketidakseimbangan pada pembelajaran baru, dan pembelajaran
anak pada tahap perkembangan awal menjadi baru. Anak yang lebih dewasa mungkin
mengalami pembelajaran ulang untuk mengimbangi kekurangan kognitif dan faktor adaptasi
untuk membantu mereka menyusun strategi alternatif sebagai penyesuaian diri
terhadap tantangan yang muncul karena TBI. Status perkembangan mempengaruhi
tingkat kemampuannya dengan baik. Proses dalam memperoleh kemampuan secara
keseluruhan akan lebih mudah rusak daripada hanya menekankan satu perkembangan
saja.
Faktor lain yang dipertimbangkan yang
menjadi dasar penyembuhan. Kebanyakan penyembuhan dilakukan pada saat pertama
kali terjadi cidera. oleh karena itu perlu untuk segera diperbaiki. Harapan
akan lebih dekat saat proses penyembuhan cidera. Variabel intra dan
interpersonal juga harus diperhatikan. Karakteristik individu anak dan hubungan
interpersonalnya dengan keluarga dan teman sebaya berpengaruh pada individu
sebagai dampak cidera otak. Oleh karena itu penyesuaian diri anak dan keluarga
berpengaruh signifikan pada keefektifan penyesuaian diri terhadap dampak
cidera.
Faktor-faktor resiko dan pencegah telah
teridentifikasi. Contohnya cidera dapat merugikan anak. Anak juga mendapatkan pelayanan
buruk saat mereka atau orang lain fokus pada cidera dan membuat perbandingan
yang tidak menguntungkan pada tingkat fungsi anak. Tidak mengetahui informasi
faktor kritis lain. Seringkali, anak dan keluarga tidak memahami dengan baik
tentang TBI atau proses penyembuhan secara normal. Faktanya, banyak laporan
bahwa mereka tidak mendapatkan penjelasan tentang cidera dan tidak mengetahui
apa harapan yang dapat diwujudkan selama masa penyembuhan. Tanpa informasi yang
akurat, Keluarga dapat berharap tinggi yang tidak realistic atau pesimis. Guru
dan sekolah juga sering tidak mengerti TBI dan berkontribusi pada frustrasi
anak, self image yang jelek dan perilaku menyimpang.
Selanjutnya, Dukungan sosial diperlukan
saat anak berada pada tahap krisis cidera tetapi kadang anak tidak
mendapatkannya, ditinggal sendiri oleh keluarganya atau tanpa dukungan.
Hubungan dekat dengan teman mungkin lebih dibutuhkan saat mengalami cidera
berat, dan saat mengalami perubahan pada penampilan anak, kepribadian dan
tingkat kognitif, serta mengalami perubahan menjadi individu yang berbeda.
Akhirnya, Individu yang menderita TBI
biasanya beresiko mengalami kekerasan. Hal ini dimungkinkan pada beberapa kasus
kekerasan sebelum mengalami cidera, contohnya, individu dewasa mengalami TBI
karena mabuk saat berkendaraan. Bagaimanapun, akibat TBI yang lain termasuk
kerusakan dalam judgment dan kontrol impuls, remaja yang sakit membawa pengaruh
negatif pada remaja lain. Selanjutnya, beberapa individu yang sehat setelah
mengalami TBI menggunakan bahan terlarang untuk pengobatan depresi dan untuk
menutupi harga diri yang rendah.
Intervention
Intervensi diberikan pada individu sehat
dari TBI yang sudah mengalami beragam macam dampak dari cidera. Intervensi
dimulai dengan memberikan assessment, dengan dokumen kemampuan anak, kekurangan
dan kebutuhan spesialnya. Intervensi sekolah sangat perlu untuk mempermudah
transisi anak kembali kesekolah dan membantu guru untuk merancang strategi
pembelajaran yang seimbang pada anak untuk memastikan kemajuan anak dan sikap
positif dalam proses pendidikan (Walker, 1997).
Psikologi pendidikan, konseling dan layanan sosial mendukung orang tua
dan seluruh keluarga. Individu yang bekerja dengan anak mungkin akan lebih
membantu mereka untuk mengatasi masalah emosi atau belajar strategi penyesuaian
diri terhadap tantangan yang terjadi (Hooper & Baglio, 2001). Contohnya,
dalam pemulihan proses kognitif melibatkan (1) analisis dan membangun kembali
rutinitas harian anak yang berkurang karena frustasi dan kegagalan; (2)
menyediakan petunjuk visual seperti foto-foto aktivitas yang dapat membantu
anak tetap pada aturan dan tugasnya; dan (3) melatih setiap tahap-tahap penting
dalam setiap rutinitas dan meninjau kembali penampilan anak. Dengan dukungan
lingkungan, dokter menemukan perbaikan yang signifikan pada tugas-tugas anak
dalam waktu yang sama dengan pengurangan agresi dan perilaku maladaptif lainnya
(Feeney & Ylvisaker, 1995).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda