Jumat, 28 Februari 2014

KEPEMIMPINAN


      Hai semua.. apa kabar? Kali ini saya ingin membicarakan tentang kepemimpinan. Melihat keadaan negara kita yang akhir-akhir ini mengalami kemunduran dalam kepemimpinan dimana banyak para pejabat yang menyalahgunakan kepemimpinannya. Banyak kasus korupsi dimana-mana, tidak amanah dalam menjalankan tugas, sering meinggalkan rapat dengan segala macam alasan dan masih banyak lagi yang pemimpin lakukan tidak sesuai dengan jiwa seorang pemimpin. Nah oleh dari ini alangkah baiknya kita mempelajari makna kepemimpinan itu dulu dengan harapan agar para calon pemimpin nanti dapat menjadi pemimpin yang terbaik dari pemimpin sebelumnya. 
           Secara etimologi pemimpin berasal dari kata pimpin yang berarti kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi dan menggerakan orang-orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek dan kerjasama secara loyal untuk menyelesaikan suatu tugas. Menurut Sarros dan Butchatsky (1996),  Menurut definisi tersebut kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.
     Kepemimpinan adalah proses ketika seorang atasan mendorong bawahannya untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya. Karena kepemimpinan adalah fenomena kompleks yang melibatkan pemimpin para pengikut, dan situasi. Di dalam kepemimpinan memusatkan perhatiannya pada kepribadian, karakter fisik, atau perilaku si pemimpin, sementara yang lain mempelajari hubungan antara para pemimpin dan pengikutnya, dan mempelajari cara aspek situasi dapat mempengaruhi para pemimpin tersebut bertindak.
     Kepemimpinan melibatkan sisi rasional dan emosional dalam pengalaman hidup manusia. Kepemimpinan meliputi sejumlah tindakan dan pengaruh yang didasari oleh alasan dan logika serta inspirasi dan panggilan jiwa. Setiap orang memiliki pikiran, perasaan, harapan, mimpi, kebutuhan, ketakutan, tujuan, ambisi, kekuatan, dan kelemahan yang berbeda-beda., sehingga situasi kepemimpinan bisa menjadi sangat kompleks. Jadi para pemimpin dapat menggunakan teknik rasional dan daya tarik emosional untuk memengaruhi pengikut-pengikutnya, tetapi mereka harus menimbang konsekuensi logis dan emosional yang dapat timbul dari tindakan-tindakan mereka.
     Pemimpin yang memiliki beberapa karakter, nilai, atau perilaku tertentu akan lebih mudah melakukan beberapa perilaku kepemimpinan dibanding yang lainnya. Karena perilaku berada dibawah kendali sadar, kita selalu bisa mengubah perilaku kita sebagai pemimpin bila kita mau. Pengikut dan situasi merupakan dua faktor besar lain yang perlu dipertimbangkan saat mengevaluasi perilaku kepemimpinan. Maka demikian pengikut dan faktor situasional dapat membantu menentukan perilaku kepemimpinan “buruk” atau “baik”. misalnya seorang pemimpin memberikan instruksi yang sangat terperinci dalam cara menyelesaikan sebuat tugas kepada kelompok pengikutnya. Bila pengikutnya adalah orang baru dalam organisasi atau tidak pernah melakukan tugas ini sebelumnya, instruksi yang terperinci mungkin akan membantu pemimpin mendapatkan hasil yang lebih baik dari semuanya. Tetapi, bila pengikutnya adalah orang yang sudah berpengalama, prilaku kepemimpinan yang sama kemungkinan akan berefek negatif.

 Macam-macam Teori Kepemimpinan
1.   Teori Kepemimpinan Sifat (Trait Theory)
     Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukannya diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan “the greatma theory”.
     Sesuai dengan namanya, maka teori ini mengemukakan bahwa efektivitas kepemimpinan sangat tergantung pada kehebatan karakter pemimpin. “Trait” atau sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik dan kemampuan social. Penganut teori ini yakin dengan memiliki keunggulan karakter di atas, maka seseorang akan memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan dapat menjadi pemimpin yang efektif. Karakter yang harus dimiliki oleh seseorang menurut Judith R. Gordon mencakup kemampuan yang istimewa dalam (1) Kemampuan Intelektual (2) Kematangan Pribadi (3) Pendidikan (4) Status Sosial dan Ekonomi (5) “Human Relations” (6) Motivasi Intrinsik dan (7) Dorongan untuk maju (achievement drive).

2.   Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi
     Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecenderungan kearah dua hal :
     Pertama Konsiderasi yaitu kecenderungan pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti: membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.
     Kedua struktur inisiasi yaitu kecenderungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat, bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil apa yang akan dicapai.
     Jadi berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi juga.
     Kemudian juga timbul teori kepemimpinan situasi dimana seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.

3. Teori kontingensi
      Mulai berkembang tahun 1962, teori ini menyatakan bahwa tidak ada satu sistem manajemen yang optimum, sistem tergantung pada tingkat perubahan lingkungannya. Sistem ini disebut sistem organik (sebagai lawan sistem mekanistik), pada sistem ini mempunyai beberapa ciri:
§  Substansinya adalah manusia bukan tugas.
§  Kurang menekankan hirarki
§  Struktur saling berhubungan, fleksibel, dalam bentuk kelompok
§  Kebersamaan dalam nilai, kepercayaan dan norma
§  Pengendalian diri sendiri, penyesuaian bersama

4. Teori Behavioristik
       Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa manajemen yang efektif bila ada pemahaman tentang pekerja – lebih berorientasi pada manusia sebagai pelaku.
     Mengacu pada keterbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui teori “trait”, para peneliti pada era Perang Dunia ke II sampai era di awal tahun 1950-an mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti “behavior” atau perilaku seorang pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Fokus pembahasan teori kepemimpinan pada periode ini beralih dari siapa yang memiliki kemampuan memimpin ke bagaimana perilaku seseorang untuk memimpin secara efektif (Yukl, 2005).

5. Teori Humanistik
     Teori ini lebih menekankan pada prinsip kemanusiaan. Teori humanistik biasanya dicirikan dengan adanya suasana saling menghargai dan adanya kebebasan.
     Teori Humanistik dengan para pelopor Argryris, Blake dan Mouton, Rensis Likert, dan Douglas McGregor. Teori ini secara umum berpendapat, secara alamiah manusia merupakan “motivated organism”. Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Apabila dicermati, di dalam Teori Humanistik, terdapat tiga variabel pokok, yaitu:
     (1) kepemimpinan yang sesuai dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan, kebutuhan, dan kemampuan-nya
     (2) organisasi yang disusun dengan baik agar tetap relevan dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan.
     (3) interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersama-sama. Blanchard, Zigarmi, dan Drea bahkan menyatakan, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap orang lain, melainkan sesuatu yang Anda lakukan bersama dengan orang lain (Blanchard & Zigarmi, 2001).
  
  GAYA KEPEMIMPINAN
     Ada beberapa gaya kepemimpinan dari masing-masing pemimpin yaitu terdiri atas :
a.   Tipe instruktif
     tipe ini ditandai dengan adanya komunikasi satu arah. Pemimpin membatasi peran bawahan dan menunjukkan kepada bawahan apa, kapan, di mana, bagaimana sesuatu tugas harus dilaksanakan. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata menjadi wewenang pemimpin, yang kemudian diumumkan kepada para bawahan. Pelaksanaan pekerjaan diawasi secara ketat oleh pemimpin.
Ciri-cirinya :
1.    Pemimpin memberikan pengarahan tinggi dan rendah dukungan.
2.    Pemimpin memberikan batasan peranan bawahan.
3.    Pemimpin memberitahukan bawahan tentang apa, bilamana, dimana, dan bagaimana bawahan melaksanakan tugasnya.
4.    Inisiatif pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata dilakuakn oleh pemimpin.
5.    Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan diumumkan oleh pemimpin, dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh pemimpin

b.     Tipe konsultatif
     Kepemimpinan tipe ini masih memberikan instruksi yang cukup besar serta penetapan keputusan-keputusan dilakukan oleh pemimpin. Bedanya adalah bahwa tipe konsultatif ini menggunakan komunikasi dua arah dan memberikan suportif terhadap bawahan mendengar keluhan dan perasaan bawahan tentang keputusan yang diambil. Sementara bantuan ditingkatkan, pengawasan atas pelaksanaan keputusan tetap pada pemimpin.
     Ciri-cirinya :
1.    Pemimpin memberikan baik pengarahan maupun dukungan tinggi.
2.    Pemimpin mengadakan komunikasi dua arah dan berusaha mendengarkan perasaan, gagasan, dan saran bawahan.
3.    Pengawasan dan pengambilan keputusan tetap pada pemimpin.

c. Tipe partisipatif
     sebab kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan seimbang antara pemimpin dan bawahan, pemimpin dan bawahan sama-sama terlibat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Komunikasi dua arah makin bertambah frekuensinya, pemimpin makin mendengarkan secara intensif terhadap bawahannya. Keikutsertaan bawahan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan makin banyak, sebab pemimpin berpendapat bahwa bawahan telah memiliki kecakapan dan pengetahuan yang cukup luas untuk menyelesaikan tugas.
Ciri-cirinya :
1.    Pemimpin memberikan dukungan tinggi dan sedikit/rendah pengarahan.
2.    Posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dipegang secara berganti antara pemimpin dan bawahan.
3.    Komunikasi dua arah ditingkatkan.
4.    Pemimpin mendengarkan bawahan secara aktif.
5.    Tanggung jawab pemecahan masalah dan pengambilan keputusan sebagian besar pada bawahan.

d. Tipe delegatif
     sebab pemimpin mendiskusikan masalah-masalah yrng dihadapi dengan para bawahan dan selanjutnya mendelegasikan pengambilan keputusan seluruhnya kepada bawahan. Selanjutnya menjadi hak bawahan untuk menentuykan bagaimana pekerjaan harus diselesaikan. Dengan demikian bawahan diperkenankan untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan keputusannya sendiri sebab mereka telah dianggap memiliki kecakapan dan dapat dipercaya untuk memikul tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengelola dirinya sendiri.
Ciri-cirinya :
1.    Pemimpin memberikan maupun pengarahan sedikit/rendah.
2.    Peminpin mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan sehingga tercapai kesepakatan tentang definisi masalah yang dihadapi.
3.    Pengambilan keputusan didelegasikan sepenuhnya kepada bawahan.
4.    Bawahan memiliki kontrol untuk memutuskan tentang cara melaksanaan tugas.

  
Itu tadi sedikit penjelasan tentang kepemimpinan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih...



DAFTAR PUSTAKA
Ambarita Domu D. 2013. Jokowi Spirit Bantaran Kali Anyar. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo

Feist, Jess. Gregory J. Feist. 2008. Theories of Personality (edisi keenam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.
Hill. Mc Graw. 2012. Leadership. Jakarta : Salemba Humanika.
Ivancevich, John, M, Konopaske, & Matteson. 2008. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta : Erlangga.

Yukl, Gary. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi. Edisi ke 5. Jakarta : Indeks



http://entertainment.kompas.com.

                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda