Minggu, 25 Januari 2015

MODUL Psikoedukasi (Kepatuhan Minum Obat) Pada Penderita Skizofrenia Residual


Hai semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan modul terapi psikologi, yaitu:
MODUL
Psikoedukasi (Kepatuhan Minum Obat) Pada Penderita Skizofrenia Residual
  1. Pendahuluan

Skizofrenia adalah kondisi psikologis dengan gangguan disintegrasi, depersonalisasi dan kebelahan atau kepecahan struktur kepribadian, serta regresi akut yang parah. Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Gangguan ini di tandai dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi, gangguan kognitf dan persepsi. Sedangkan gejala negatifnya antara lain seperti avolition (menurunnya minat dan dorongan), berkurangnya keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan, afek yang datar, serta terganggunya relasi personal. Tampak bahwa gejala-gejala skizofrenia menimbulkan hendaya berat dalam kemampuan individu berfikir dan memecahkan masalah, kehidupan afek dan menggangu relasi personal. Kesemuanya mengakibatkan pasien skizofrenia mengalami penurunan fungsi ataupun ketidakmampuan dalam menjalani hidupnya, sangat terhambat produktivitasnya dan nyaris terputus relasinya dengan orang lain.
Pasien skizofrenia memerlukan tritmen yang komprehensif, artinya memberikan tritmen medis untuk menghilangkan gejala, terapi (psikologis) untuk membantu mereka beradaptasi dengan konsekuensi atau akibat dari gangguan tsb, dan layanan sosial untuk membantu mereka dapat kembali hidup di masyarakat dan menjamin mereka dapat memperoleh akses untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu tritment yang biasa diberikan kepada pasien skizofrenia adalah terapi biologis seperti terapi obat Pemberian obat-obatan anti psikotik dan minyak ikan. Hal ini perlu diketahui oleh pasien dan keluarganya dengan memberikan pemahaman tritment melalui psikoedukasi.
Penelitian Family Psyhcoeducation (psikoedukasi keluarga) oleh Wardaningsih (2007) mengemukakan bahwa terdapat pengaruh Family psikoedukasi terhadap beban dan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan halusinasi. Psikoedukasi keluarga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga serta menurunkan beban subjektif keluarga. Penelitian Soep (2009) menyatakan bahwa ada perbedaan tingkat perbedaan depresi postpartum pada ibu yang mendapatkan intervensi psikoedukasi dan yang tidak mendapatkan intervensi psikoedukasi. Berdasarkan kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa psikoedukasi keluarga sangat dibutuhkan dan berrpengaruh terhadap keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa maupun masalah psikososial.

  1. Pengertian
Psikoedukasi merupakan salah satu bentuk dari intervensi, baik untuk keluarga maupun klien yang merupakan bagian dari terapi psikososial. Tujuan dari program psikoedukasi adalah menambah pengetahuan tentang gangguan jiwa sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kambuh dan meningkatkan fungsi keluarga. Tujuan ini akan dicapai melalui serangkaian kegiatan edukasi tentang penyakit, cara mengatasi gejala, dan kemampuan yang dimiliki keluarga (Stuart & Laraia, 2001).
Secara umum, program komprehensif dari psikoedukasi adalah sebagai berikut:
a. Komponen didaktik, berupa pendidikan kesehatan, yang menyediakan informasi tentang penyakit dan sistem kesehatan jiwa.
b. Komponen ketrampilan, yang menyediakan pelatihan tentang komunikasi, penyelesaian konflik, pemecahan masalah, asertif, manajemen perilaku dan manajemen stres.
c. Komponen emosional, memberi kesempatan ventilasi dan berbagi perasaan disertai dukungan emosional. Mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan, khusus pada keadaan krisis.
d. Komponen sosial, peningkatan penggunaan jejaring formal dan non formal. Peningkatan kontak dengan jejaring sumber daya dan sistem pendukung yang ada di masyarakat akan menguntungkan keluarga dan klien.


  1. Tujuan Intervensi
Pada akhir kegiatan diharapkan klien dapat memahami bahwa dengan mengkonsumsi obat dapat membantu klien dalam mengurangi simtom-simtom gangguan yang dialaminya.


  1. Rancangan intervensi
Tabel Rancangan Intervensi Psikoedukaasi
Tritmen
Tujuan
Target perilaku
Rancangan pertemuan
Psikoedukasi Klien dan keluarga (Edukasi Kepatuhan minum obat)
Memberikan informasi bahwa dengan patuh mengkonsumsi obat dapat membantu mengurangi simtom-simtom gangguan yang sedang dialami oleh klien dan membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis/ psikososial klien.
  • Klien dapat memahami pentingnya kepatuhan minum obat
  • Klien dapat memahami bahwa gejala gangguan yang dideritanya dapat dikendalikan dengan mengkonsumsi obat selain melakukan kegiatan.
  • Klien dapat lebih patuh dengan mengkonsumsi obat
2 kali Pertemuan

  1. Target perilaku Psikoedukasi
  • Klien dapat memahami pentingnya kepatuhan minum obat
  • Klien dapat memahami bahwa gejala gangguan yang dideritanya dapat dikendalikan dengan mengkonsumsi obat selain melakukan kegiatan.
  • Klien dapat lebih baik dengan mengkonsumsi obat
  1. Tata ruang
  • Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
  • Satu set kursi tamu
  • Klien dan terapis dalam posisi berhadapan
  1. Media
  • Alat tulis, meja, kursi
  1. Materi
Dalam psikoedukasi, klien diberikan informasi mengenai pentingnya mengkonsumsi obat secara teratur. Hal ini dapat membantu klien dalam mengurangi simtom-simtom gangguang yang dialami oleh klien.
  1. Prosedur
  • Terapis membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan klien dengan cara melakukan pembincaraan ringan seputar kabar klien dan kesibukan klien selama beberapa hari terakhir agar klien merasa nyaman.
  • Terapis kemudian bertanya mengenai jadwal klien dalam mengkonsumsi obat
  • Terapis melanjutkan dengan memberikan informasi mengenai pentingnya mengkonsumsi obat


  1. Metode
  • Ceramah
  1. Waktu : ± 60 menit



DAFTAR PUSTAKA
Stuart. G.W and Laraia. (2001). Principle and practice of psychiatric nursing (7thed). St Louis. Mosby Year Book.


Soep. (2009). Pengaruh intervensi psikoedukasi dalam mengatasi depresi postpartum di RSU Dr. Pringadi Medan. Tesis (tidak diterbitkan). Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Wardaningsih, S. (2007). Pengaruh psikoedukasi pada kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tesis (Tidak diterbitkan). Jakarta: Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda