Selasa, 20 Januari 2015

Psikoedukasi Gangguan Jiwa


Hai semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan modul terapi psikologi, yaitu:
MODUL
Psikoedukasi Gangguan Jiwa



  1. Pendahuluan
Dalam pendekatan psikologi klinis, treatment diberikan kepada seseorang atau kelompok yang mengalami gangguan atau memiliki masalah. Dilihat dari pandangan sosiokultual, lingkungan sosial dan interaksinya dengan subjek atau sekelompok yang menjadi penyebab munculnya gangguan jiwa. Hal ini dikarenakan tuntutan sosial kepada subjek untuk mengikuti kondisi yang berlaku misalnya norma sosial dan lainnya.
Banyak perubahan-perubahan dalam tatanan masyarakat yang menyebabkan muncul gejala-gejala sosial seperti kemiskinan, kekumuhan, polusi udara, pengungsian penduduk bahkan bencana alam. Hal ini juga sangat memungkinkan munculnya ancaman gangguan-gangguan psikologis terutama dalam hal gangguan emosional. Kondisi ini membutuhkan suatu pendekatan yang tidak hanya menggunakan cara tradisional dari psikologi klinis, tetapi membutuhkan suatu pendekatan menyeluruh yakni pendekatan komunitas.
  Psikologi komunitas pada dasarnya terkait dengan hubungan antar sistem sosial, kesejahteraan dan kesehatan individu dalam kaitan dengan masyarakat. Psikologi komunitas didefinisikan sebagai suatu pendekatan kepada kesehatan mental yang menekankan pada peran daya lingkungan dalam menciptakan masalah atau mengurangi masalah. Psikologi komunitas berfokus pada arah permasalahan kesehatan mental dan sosial  yang  dikembangkan melalui intervensi juga riset dengan setting mencakup  masyarakat dan komunitas pribadi.
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperkirakan ada 19 juta penderita gangguan jiwa di Indonesia. Satu juta di antaranya mengalami gangguan jiwa berat atau psikosis. Keterbatasan fasilitas dan rendahnya kesadaran masyarakat mengakibatkan lebih dari 19 juta penduduk individu penderita gangguan jiwa dan tidak mendapat akses ke layanan kesehatan yang maksimal (Riskesdas, 2007).
  Pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia masih sangat terbatas, belum menyentuh tingkat pelayanan kesehetan primer, baik sarana prasarana maupun sumber daya manusianya. Jumlah psikiater di Indonesia masih sangat terbatas dan baru menangani sebatas pasien yang berpusat di RSJ. Salah satu pelayanan kesehatan jiwa yang dapat diberikan kepada masyarakat adalah memberikan penyuluhan langsung kepada masyarakat, seperti psikoedukasi mengenai gangguan jiwa. Hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar dan keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa untuk lebih dapat memahami gangguan jiwa itu sendiri dan memberikan penanganan yang tepat.
Kepedulian masyarakat akan kesehatan khususnya kesehatan jiwa akan meningkatkan peran serta untuk bertanggung jawab terhadap program pelayanan kesehatan jiwa masyarakat. Keberhasilan pelayanan pada pasien skizofrenia tergantung dari kerjasama tim kesehatan jiwa di masyarakat dengan pasien dan keluarga. Anggota keluarga perlu memberikan perawatan di rumah khususnya pencegahan tersier pada penderita skizofrenia (Leff, dkk dalam Keliat, dkk, 2007).

  1. Pengertian
  1. Psikologi Komunitas
Komunitas adalah kumpulan orang-orang yang membentuk jaringan kompleks, dimana ada hubungan, saling kebergantungan, memiliki kepentingan atau satu sama lain dan terdapat pola interaksi yang timbal balik (Behtinger & Richard, 1996). Psikologi komunitas pada dasarnya terkait dengan hubungan antara sistem sosial, kesejahteraan dan kesehatan individu dalam kaitan dengan masyarakat. Psikologi komunitas didefinisikan sebagai suatu pendekatan kepada kesehatan mental yang menekankan pada peran daya lingkungan dalam menciptakan ataupun mengurangi masalah.

  1. Tritmen Komunitas
Tritmen komunitas adalah tritmen yang diberikan kepada suatu komunitas guna membentuk kemitraan atau meningkatkan kemitraan yang sudah ada agar dapat memecahkan masalah komunitas (Behringer & Richarf, 1996). Psikologi komunitas mungkin dapat memberikan tritmen terhadap individu dengan cara :
  1. Menciptakan dan mengevaluasi arah kebijakan dan program yang membantu masyarakat mengontrol tekanan yang muncul dari aspek dan lingkungan yang memunculkan permasalahan
  2. Menilai kebutuhan suatu masyarakat dan memberi arahan anggotanya bagaimana cara mengenali suatu masalah yang masih permulaan dan menghadapi permasalah yang sudah muncul dan benar
  3. Belajar dan menerapkan jalan yang lebih efektif dan menyesuaikan dengan populasi untuk hidup secara lebih produktif dalam tedensi masyarakat.

  1. Psikoedukasi
Psikoedukasi atau sering disebut dengan personal and social education atau pendidikan pribadi dan sosial merupakan gerakan yang relatif baru namun penting di lingkungan psikologi konseling. Psikoedukasi juga merupakan terapi yang bertujuan untuk memberikan informasi terhadap keluarga dan masyarakat yang mengalami distress, memberikan pendidikan kepada mereka untuk meningkatkan keterampilan, meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotor, untuk dapat memahami dan meningkatkan koping akibat gangguan jiwa yang dapat mengakibatkan masalah pada keluarga dan masyarakat (Wijayanti, Wahyuningsih & Widiyanti, 2010). Menurut Nelson (Supratiknya, 2011), ada setidaknya enam pengertian tentang psikoedukasi, masing-masing mewakili gerakan tertentu, yaitu:
  1. melatih orang untuk mempelajari aneka life skills
  2. Pendekatan akademik-ekspresiensial dalam mengajarkan psikologi
  3. Pendidikan Humanistik
  4. Melatih tenaga pada profesional di bidang keterampilan psikologi
  5. Serangkaian kegiatan pelayanan kepada masyarakat
(f) Memberikan pelayanan informasi tentang psikologi kepada publik

Dari enam pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa psikoedukasi adalah upaya pemberian bantuan kepada kelompok-kelompok klien dalam rangka menguasai berbagai life skills, tentu saja sekaligus dengan memperhatikan aspek-aspek yang relevan dari berbagai pengertian lainnya.

  1. Tujuan
  • Agar kader dapat memahami permasalahan gangguan jiwa dan cara mengatasinya serta memberikan pendampingan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
  • Agar keluarga dengan penderita gangguan jiwa dapat memberikan penanganan yang sesuai. Keluarga sebagai orang terdekat penderita gangguan jiwa mampu memberikan penanganan pertama terhadap gangguan jiwa.
  • Masyarakat mampu memahami gangguan jiwa dan dapat memberikan dukungan sosial bagi keluarga penderita gangguan jiwa maupun bagi penderitanya.

  1. Hasil yang diharapkan
Peserta dapat mengambil manfaat dari psikoedukasi dan selanjutnya dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Kelompok sasaran program
Sasaran subyek dari kegiatan psikoedukasi ini adalah kader, keluarga dengan penderita gangguan jiwa dan masyarakat sekitar yang ada di desa Banyuroto

  1. Rancangan intervensi
Tabel Rancangan Intervensi Psikoedukasi
Tritmen
Target perilaku
Rancangan pertemuan
Psikoedukasi Masyarakat
  • Kader dapat segera menyikapi adanya gangguan jiwa di masyarakat dan memberi pendampingan yang sesuai.
  • Keluarga dengan penderita gangguan jiwa dapat memberikan penanganan yang sesuai.
  • Masyarakat memberikan dukungan sosial bagi keluarga penderita gangguan jiwa maupun bagi penderitanya.
1 kali Pertemuan

  1. Tata ruang
  • Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
  • Meja dan kursi
  1. Media
  • Alat tulis, meja, kursi
  1. Materi
Dalam psikoedukasi, masyakarat diberikan pemahaman mengenai gejala gangguan jiwa dan cara penanganan orang dengan gangguan jiwa. Terapis juga memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mengajukan beberapa pertanyaan mengenai gangguan jiwa dan berbagi pengalaman mengenai gangguan jiwa yang pernah diketahuinya.

  1. Metode
  • Ceramah dan sharing

  1. Waktu : ± 180 menit
  1. Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat, 13 Juni 2014. Kegiatan dilaksanakan mulai pukul 13.30-16.30 WIB. Susunan acara dalam tabel berikut :
Waktu
Kegiatan
Teknis
Penanggung Jawab
13.30-14.15
Pembukaan
  • Doa pembukaan
  • Kata sambutan
  • Pretest
  • MC mengajak semua peserta untuk berdoa bersama.
  • Kata sambutan dari Kepala Desa
  • Kata sambutan dari Pembina Kesehatan Jiwa
14.15-14.30
Perkenalan
Ice breaking (memecah kebekuan sekaligus saling mengenal antara satu dengan lainnya)

14.30-16.00
Materi penyuluhan
Ceramah mengenai gangguan jiwa dan diskusi tanya jawab

16.00-16.30
Penutupan
  • Kesimpulan penyuluhan
  • Doa penutup


DAFTAR PUSTAKA
Behringer, D., & Richards, R. W. (1996). The nature of communities. In R. W. Richarcds (ed). Building Partnerships. Educating health professionals for the communities they serve.San Francisco : Jossey-Boss.
Keliat, B. A., Akemat., Helena, N. C.D., & Nurhaeni, H. (2007). Keperawatan kesehatan jiwa komunitas: CMHN (Basic Course). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Supratikya, A. (2011). Merancang program dan modul psikoedukasi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Riskesdas. (2007). Riset kesehatan dasar Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Dasar Republik Indonesia. Jakarta.
Wiyati, R., Wahyuningsih, D., Widayati, E.D. (2010). Pengaruh Psikoedukasi Keluarga Terhadap Kemampuan Keluarga Dalam Merawat Klien Isolasi Sosial. Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal Of nursing), Volume 5, No.2. Prodi keperawatan Purwokerto, Poltekkes, Semarang.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda