Senin, 26 Januari 2015

MODUL Self Help Group Therapy pada Anak Dengan Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Multipel Dan Penggunaan Zat Psikoaktif Lainnya


Hai semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan modul terapi psikologi, yaitu:
MODUL
Self Help Group Therapy pada Anak Dengan Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Multipel Dan Penggunaan Zat Psikoaktif Lainnya

  1. Pendahuluan

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain narkoba, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika  dan Zat Adiktif. Semua istilah ini, baik narkoba atau napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioparasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini presepsi itu disalahgunakan akibat pemakaian yang telah di luar batas dosis. Narkotika dan obat terlarang serta zat adiktif/psikotropika dapat menyebabkan efek dan dampak negatif bagi pemakainya. Dampak yang negatif itu sudah pasti merugikan dan sangat buruk efeknya bagi kesehatan mental dan fisik.
         Meskipun demikian terkadang beberapa jenis obat masih dipakai dalam dunia kedokteran, namun hanya diberikan bagi pasien-pasien tertentu, bukan untuk dikonsumsi secara umum dan bebas oleh masyarakat. Oleh karena itu, obat dan narkotik yang disalahgunakan dapat menimbulkan berbagai akibat yang beraneka ragam. Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya saja dari bandar narkoba yang senang mencari mangsa di daerah sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat perkumpulan genk. Tentu saja hal ini bisa membuat para orang tua, ormas, pemerintah khawatir akan penyebaran narkoba yang begitu merajalela.
Upaya pemberantas narkoba pun sudah sering dilakukan namun masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun banyak yang terjerumus narkoba. Hingga saat ini upaya yang paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba pada anak-anak yaitu dari pendidikan keluarga. Orang tua diharapkan dapat mengawasi dan mendidik anaknya untuk selalu menjauhi Narkoba. Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar, sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Dalam hal ini semua pihak termasuk orang tua, guru, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak.
Selain itu, melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba juga sangat penting, atau mungkin mengadakan razia mendadak secara rutin untuk menekan penggunaan narkoba. Kemudian pendampingan dari orang tua siswa itu sendiri dengan memberikan perhatian dan kasih sayang. Pihak sekolah juga harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik anak didiknya, karena biasanya penyebaran (transaksi) narkoba sering terjadi di sekitar lingkungan sekolah.  Yang tak kalah penting adalah pendidikan moral dan keagamaan harus lebih ditekankan kepada siswa.
        Hal yang juga dapat dilakukan untuk menanggulangi penyebaran narkoba adalah menjadi contoh dan pendengar yang baik bagi anak, menjaga keharmonisan keluarga, melakukan konseling, memberikan perawatan yang sesuai bagi orang yang kecanduan dan melakukan penyebaran informasi melalui peers education dan self help groups. Self help groups  digunakan dalam bentuk pertemuan kelompok khusus untuk  ketergantungan obat Narkoba tingkat satu. Dengan sharing secara personal permasalahan yang terjadi dapat meningkatkan harga diri dari si pasien, sehingga dapat mencegah dari kecanduan Narkoba. Self help group dapat meningkatkan kemampuan koping maladaptif (Sutini, 2009)
  1. Pengertian

Self Help Group therapy atau sering disebut juga kelompok yang saling menolong, saling membantu, atau kelompok dukungan didefinisikan sebagai suatu kelompok yang menyediakan dukungan bagi setiap anggota kelompok. Anggota kelompok ini berpegangan pada pandangan bahwa orang-orang yang mengalami masalah dapat saling membantu satu sama lain dengan empati yang lebih besar dan lebih membuka diri. Di dalam Self Help Group therapy, kelompok bantuan timbal balik didasarkan pada premis bahwa kelompok berbagi masalah umum secara kolektif dapat saling mendukung dan mengurangi atau menghilangkan masalah dan konsekuensi pribadi dan sosial. Anggota belajar tentang masalah mereka dan berbagi pengalaman mereka, kekuatan dan harapan untuk pemulihan, kesempatan untuk menjadi model peran (Magura, S. 2007). Self Help Group therapy merupakan terapi kelompok termasuk orang dengan ikatan bersama yang secara sukarela datang bersama-sama untuk berbagi, menjangkau dan belajar satu sama lain dalam lingkungan yang terpercaya, mendukung dan terbuka (Knight, 2007).
Terapi ini mempunyai kelebihan dan efektif untuk mengurangi masalah-masalah psikologis. Pertama, Self Help Group therapy merupakan suatu terapi dimana setiap anggota saling berbagi pengalaman tentang kesulitan dan cara mengatasinya, hal ini dilakukan untuk memberikan dukungan dan motivasi kepada individu bahwa mereka tidak sendiri dan banyak dari mereka yang bertahan dengan kondisi seperti ini (Townsend, 2005). Self Help Group therapy ini merupakan suatu bentuk terapi kelompok yang dapat dilakukan pada berbagai situasi dan kondisi.
Kedua, Self Help Group therapy lebih santai dan ramah dalam menjalankan aktivitasnya sehingga terlihat seperti klub sosial. Walaupun demikian, sebenarnya tidak hanya fungsi dukungan sosial yang disediakan oleh Self Help Group therapy. Self Help Group therapy memberikan timbal balik kesetaraan, kerjasama, kepedulian, meningkatkan pemberdayaan pribadi, harapan, pemulihan kepercayaan dan kualitas hidup. Self Help Group therapy efektif dalam meningkatkan fungsi, dukungan sosial, dan kualitas hidup, serta menurunkan rehospitalisasi dan efektif juga bagi orang dengan masalah gangguan emosional (Humphreys, 1999). Bagi orang yang memiliki masalah kesehatan psikososial, Self Help Group therapy tidak hanya memberikan dukungan sosial bagi individu tersebut tetapi juga keluarganya, saling berbagi permasalahan untuk saling membantu memecahkan masalah yang dihadapi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
Timothy J.Trull (2005), dalam Clinical Psychology mengemukakan delapan fungsi utama Self Help Group therapy, sebagai berikut:
  1. Mereka memberikan dukungan emosional kepada anggota
  2. Mereka memberikan contoh peranan individu-individu yang telah menghadapi dan mengatasi masalah yang ditangani oleh anggota kelompoknya.
  3. Mereka memberikan cara-cara untuk memahami masalah-masalah yang
    dihadapi anggotanya.
  4. Mereka memberikan informasi yang penting dan relevan.
  5. Mereka memberikan ide-ide tentang bagaimana mengatasi masalah-masalah yang ada.
  6. Mereka memberikan kesempatan pada anggota agar bisa menolong anggota lainnya.
  7. Mereka memberikan hubungan sosial yang erat.
  8. Mereka memberikan motivasi pada anggota untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam menguasai dan mengendalikan masalah. 

  1. Tujuan Intervensi

Pada akhir kegiatan diharapkan klien dapat merubah perilakunya dan dapat memutuskan hal yang terbaik untuk masa depannya. Terapi diarahkan untuk membantu dalam memberikan dukungan, model yang positif, motivasi, kerukunan bagi sesama anggota.

  1. Rancangan intervensi

Tabel Rancangan Intervensi Self Help Group Therapy
Intervensi
Tujuan
Target perilaku
Rancangan pertemuan
Self Help Group Therapy
Pada akhir kegiatan diharapkan klien dapat merubah perilakunya dan dapat memutuskan hal yang terbaik untuk masa depannya. Terapi diarahkan untuk membantu dalam memberikan dukungan, model yang positif, motivasi, kerukunan bagi sesama anggota.
  • Subyek dapat memiliki pandangan masa depan secara optimis.
  • Subyek mempunyai pemahaman lain mengenai permasalahan yang ada dan mengetahui cara mengatasinya.
  • Subyek mempunyai harapan untuk masa depan yang lebih baik
  • Subyek mendapat role model yang baik
  • Subyek merasa mendapatkan lingkungan yang dapat dipercayanya dan selalu memberikan dukungan kepadanya.
  • Subyek mempunyai motivasi untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam menguasai dan mengendalikan masalah. 

2 kali Pertemuan
  1. Tata ruang
  • Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup.
  1. Media
  • Alat tulis
  1. Materi
Dalam Self Help Group Therapy, terapis berusaha mengarahkan subyek dan kelompok agar bersedia berbagi pengalaman masalahnya dan mau berusaha melepaskan dari permasalahannya melalui program bantu diri atau self-help. Proses konseling tidak semua bantuan datang dari terapis. Kelompok-kelompok atau pun para penolong non-formal juga dapat memberikan bantuan berharga yang mungkin bisa mencegah campur tangan terapis. Selain itu, kelompok-kelompok self-help diajak bekerja sama sebagai bagian efektif dari perlakuan oleh suatu pengarahan dari terapis. setiap anggota saling berbagi pengalaman tentang kesulitan dan cara mengatasinya. Hal ini dilakukan untuk memberikan dukungan dan motivasi kepada individu bahwa mereka tidak sendiri dan banyak dari mereka yang bertahan dengan kondisi seperti ini. Selain itu, Self Help Group therapy diharapkan dapat memberikan timbal balik kesetaraan, kerjasama, kepedulian, meningkatkan pemberdayaan pribadi, harapan, pemulihan kepercayaan dan kualitas hidup.

  1. Prosedur
  • Terapis membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan kelompok dengan cara melakukan pembicaraan ringan seputar kabar dan kegiatan subyek dan anggota kelompok dalam sehari-hari.
  • Dalam Self Help Group therapy, terapis berperan sebagai Fasilitator untuk membantu dalam memfasilitasi kelompok dalam memberikan kemudahan pelaksanaan pertemuan Self Help Group therapyserta memfasilitasi berbagai sumber-sumber yang sangat diperlukan subyek untuk memelihara penyembuhannya. Untuk itu konseling yang diberikan harus diarahkan pada membantu dalam hubungannya dengan program Self Help Group therapydengan memberikan pemusatan pada permasalahan otonomi, kebebasan dan pengendalian diri.

  1. Metode
  • Ceramah dan sharing
  1. Waktu : ± 120 menit



DAFTAR PUSTAKA
Humphreys, K & Ribisl, K.M. (1999). The case partnership with self-help-group.

Knight, E.L. (2006). Self help and serious mental illnes.

Magura, S., Knight, E.L., Vogel, H.S. Mahmood, D.,Laudt, A.B., (2007). Mediator of effectiveness in dual-focus self-help groups.

Sutini, Titin. (2009). Pengaruh Terapi self Help Group Terhadap Koping Keluarga Dengan Anak Retardasi Mental Di SLB-C Kabupaten Sumedang. Tesis (Tidak diterbitkan) Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawan, Kekhususan Keperawatan Jiwa. Universitas Indonesia Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda