Hai
semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan
modul terapi psikologi, yaitu:
MODUL
TERAPI
REALITAS PADA PENDERITA EPISODE
DEPRESIF SEDANG DENGAN GEJALA SOMATIK
- Pendahuluan
Manusia
dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari berbagai permasalahan,
baik yang tergolong sederhana sampai kompleks. Semua membutuhkan
kesiapan mental untuk menghadapinya. Pada kenyataannya terdapat
gangguan mental yang sangat mengganggu dalam hidup manusia, yang
salah satunya adalah depresi. Gangguan mental emosional ini bisa
terjadi pada siapa saja, kapan saja, dari kelompok mana saja, dan
pada segala rentang usia. Bagi penderita depresi
akan selalu dibayangi ketakutan, kengerian, ketidakbahagiaan
serta kebencian pada mereka sendiri.
Beck
(dalam McDowell & Newel, 1996) mendefinisikan depresi sebagai
keadaan abnormal organisme yang dimanifestasikan dengan tanda
simptom- symptom seperti: menurunya mood subjektif, rasa pesimis dan
sikap nihilistic, kehilangan kespontanan dan gejala vegetatif
(seperti kehilangan berat badan dan gangguan tidur). Depresi juga
merupakan kompleks gangguan yang meliputi gangguan afeksi, kognisi,
motivasi dan komponen perilaku.
Hadi
(2004) menyatakan bahwa depresi biasanya terjadi saat stress
yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan depresi yang
dialami berkorelasi dengan kejadian dramatis yang baru saja terjadi
atau menimpa seseorang. Penyebab depresi bisa dilihat dari faktor
biologis (seperti misalnya karena sakit, pengaruh hormonal, depresi
pasca-melahirkan, penurunan berat yang drastis) dan faktor
psikososial (misalnya konflik individual atau interpersonal, masalah
eksistensi, masalah kepribadian, masalah keluarga).
Atkinson
(Lumongga, 2009) juga memaparkan bahwa depresi sebagai suatu gangguan
suasana hati yang dicirikan dengan tak ada harapan dan patah hati,
ketidakberdayaan berlebihan, tak mampu mengambil keputusan untuk
memulai suatu kegiatan, tidak mampu konsentrasi, tidak punya semangat
hidup, tidak mampu
menerima kenyataan, selalu
tegang, dan mencoba bunuh diri. Menolak
realita dengan cara yang salah dan dapat membuat depresi makin parah.
Namun bila diterima dengan pasrah juga tidak menyembuhkan. Hal yang
mestinya dilakukan adalah menerima untuk memperbaiki karena
penderitaan yang tidak diikuti dengan perbaikan dapat menjadi trauma
yang abadi.
Semua
motivasi dan perilaku seseorang adalah
dalam rangka memuaskan salah satu atau lebih kebutuhan universal
manusia. Seseorang bertanggung jawab atas
perilaku yang seseorang lakukan atau
pilih. Individu harus berani menghadapi realitas dan bersedia
untuk tidak mengulangi masa lalu. Terapi realitas
dibutuhkan oleh individu dengan depresi agar dapat membantunya
mengurangi pikiran-pikiran negatif, lebih berani dan lebih
bertanggung jawab pada kehidupannya saat ini. Terapi realita dapat
mengurangi gejala depresi seperti melamun, kebingungan dan menarik
diri dari lingkungan (Ismanto, 2014).
- Pengertian
Corey
(2009) menjelaskan bahwa terapi realitas adalah suatu sistem yang
difokuskan kepada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai
guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang
bisa membantu menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi
realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi, yang dipersamakan
dengan kesehatan mental. Terapi realitas yang menguraikan
prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu
orang-orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan” dapat
diterapkan pada psikoterapi, konseling, pengajaran, kerja kelompok,
konseling perkawinan, pengelolaan lembaga dan perkembangan
masyarakat.
William
Glasser (dalam Corey, 2009) menekankan bahwa pendekatan reality
therapy adalah aktif, membimbing, mendidik dan terapi yang
berorientasi pada cognitive behavioral. Terapi realitas merupakan
kelompok terapi kognitif-behavioral yang
bersifat multikultural, menjelaskan “bagaimana manusia berfungsi
secara individu dan sosial”. Fokus terapi konseling realitas adalah
problema kehidupan yang dirasakan oleh klien saat ini, dan
dilaksanakan melalui interaksi aktif antara konselor dan klien.
Sedangkan
menurut Meier, dkk. (1988) menjelaskan bahwa terapi realitas yang
diperkenalkan oleh William Glasser memusatkan perhatiannya terhadap
kelakuan yang bertanggung jawab, dengan memperhatikan tiga hal (3-R):
realitas (reality), melakukan hal yang baik (do right),
dan tanggungjawab (responsiblility).
Di
samping itu,
terapi realitas menekankan agar orang bertanggungjawab atas
perilakunya, melihatnya secara kritis, bertanggungjawab atas
perbuatannya, serta berjanji untuk mengubahnya. Klien harus berani
menghadapi situasi saat ini daripada berupaya menghindarinya dengan
cara yang destruktif.
Dimensi penerimaan diri fisik, tingkah laku diri fisik,
identitas diri moral etik, penerimaan diri moral etik, tingkah laku
diri moral etik, penerimaan diri personal, penerimaan diri keluarga,
tingkah laku diri keluarga, penerimaan diri sosial, tingkah laku diri
sosial dan kritik diri responden yang memperoleh terapi realitas
secara kelompok meningkat menjadi positif
(Sutatminingsih, 2002).
- Tujuan Intervensi
- Membantu klien untuk mencapai kematangan yang diperlukan bagi kemampuan klien untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal.
- Membantu klien untuk bertanggung jawab atas kehidupannya saat ini.
- Membantu klien untuk menentukan dan memperjelas tujuan-tujuan mereka.
- Membantu klien menemukan alternatif-alternatif dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
- Mengurangi depresi akibat masalah yang dihadapi klien serta ketiadaan orang yang mendukung klien.
- Rancangan intervensi
Tabel
Rancangan Intervensi
Tritmen
|
Tujuan
|
Target
perilaku
|
Rancangan
pertemuan
|
Terapi
Realita
|
|
|
2
kali pertemuan
|
- Tata ruang
- Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
- Satu set kursi tamu
- Klien dan terapis dalam posisi berhadapan
- Media
Alat
tulis, meja dan kursi
- Materi
Terapis
memberikan kesempatan kepada klien dalam kesempatan seluas-luasnya
untuk mengungkapkan perasaannya, apa yang dipikirkan mengenai
masalahnya dan emosi apa yang mengganggu klien. Terapis bertindak
sebagai pembimbing yang membantu klien agar bisa menilai tingkah
lakunya sendiri secara realitas. Terapis juga memberikan pujian
apabila klien bertindak dengan cara yang bertanggung jawab dan
menunjukkan ketidaksetujuan apabila mereka tidak bertindak demikian.
- Prosedur
- Intake raport
Terapis
membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan
klien dengan cara melakukan pembincaraan ringan seputar kabar klien
dan kesibukan klien selama beberapa hari terakhir agar klien merasa
nyaman. Selain itu terapis membangun
keterlibatan klien dalam proses konseling :
konselor membina hubungan dan keterlibatan emosi serta kerjasama
klien, dengan cara penyambutan klien, penciptaan hubungan baik,
strukturing, mendengarkan keluhan klien, dan mempersetujukan tujuan.
- Identifikasi perilaku/tindakan kekinian dan ke-disini-an klien : pengungkapan perilaku/tindakan klien pada saat akhir-akhir ini, dengan cara mengungkapkan perilaku saat ini, keinginan, kebutuhan, dan persepsinya—apa yang dilakukan, bagaimana, waktu/kapan melakukannya dan perasaan terkait dengan perilakunya tsb.
- Evaluasi : konselor mendorong klien menilai kerealistikan perilaku/tindakan dengan prinsip reality, right, responsibility dengan cara klarifikasi perilaku sekarang, konfrontasi dengan tujuan hidup dalam hubungannya dengan standar etika, hukum, peraturan sekolah , adat, norma sosial, keluarga, agama.
- Pengembangan perencanaan perilaku yang realistik : Konselor mendorong klien untuk menyusun rencana perilaku/tindakan yang realistik sesuai dengan tuntutan lingkungan dan kebutuhan/keinginan, terinci, keterkelolaan, dan konsekuensinya.
- Komitmen : membangun motivasi dan kesanggupan klien, dengan cara pemberian harapan keberhasilan, wawasan manfaat, membangun motivasi dan dorongan internal dan kontrak tingkah laku.
- Pengakhiran tindakan : melakukan evaluasi dan konsekuensinya bilamana klien gagal melakukan tindakan/perilaku yang direncanakan, dengan cara mendorong klien untuk tidak menolak kegagalan, menyalahkan diri, kecewa, putusasa, dan memikirkan cara baru yang lebih realistis.
- Metode
- Ceramah dan katarsis
- Waktu :
- ± 120 menit
DAFTAR
PUSTAKA
Corey
,Gerald. (2009). Teori dan praktek
konseling dan psikoterapi.
Bandung: PT Refika Aditama.
Hadi,
P. 2004. Depresi
dan solusinya.
Yogyakarta: Penerbit Tugu.
Ismanto,
Y. A. (2014). Penerapan Konseling Realita Untuk Mengatasi Siswa Yang
Mengalami Depresi di SDN Maitan 03 Tambakromopati. Skripsi (Tidak
diterbitkan). Kudus: Program Sttudi Bimbingan dan Konseling,
Universitas Muria Kudus.
Mc.
Dowel, I & Newell, C. (1996). Measuring
health:
A guide
to
rating
scales
and questionnaire
(2nd ed).
New York; Oxford University Press.
Meier,
Paul et.al. (1988). Introduction to Psychology &
Counseling (Grand Rapids-Michigan: Baker Book House.
Sutatminingsih,
R. (2002). Pengaruh terapi
realitas secara kelompok terhadap peningkatan konsep diri pada
penyandang cacat fisik usia dewasa awal
.Tesis
(Tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Studi Pasca Sarjana
Psikologi Universitas Gajah Mada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda