Sabtu, 17 Januari 2015

MODUL TERAPI REALITAS PADA PENDERITA EPISODE DEPRESIF SEDANG DENGAN GEJALA SOMATIK


Hai semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan modul terapi psikologi, yaitu:

MODUL
TERAPI REALITAS PADA PENDERITA EPISODE DEPRESIF SEDANG DENGAN GEJALA SOMATIK

  1. Pendahuluan
Manusia dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari berbagai permasalahan, baik yang tergolong sederhana sampai kompleks. Semua membutuhkan kesiapan mental untuk menghadapinya. Pada kenyataannya terdapat gangguan mental yang sangat mengganggu dalam hidup manusia, yang salah satunya adalah depresi. Gangguan mental emosional ini bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dari kelompok mana saja, dan pada segala rentang usia. Bagi penderita depresi akan selalu dibayangi ketakutan, kengerian, ketidakbahagiaan serta kebencian pada mereka sendiri.
Beck (dalam McDowell & Newel, 1996) mendefinisikan depresi sebagai keadaan abnormal organisme yang dimanifestasikan dengan tanda simptom- symptom seperti: menurunya mood subjektif, rasa pesimis dan sikap nihilistic, kehilangan kespontanan dan gejala vegetatif (seperti kehilangan berat badan dan gangguan tidur). Depresi juga merupakan kompleks gangguan yang meliputi gangguan afeksi, kognisi, motivasi dan komponen perilaku.
Hadi (2004) menyatakan bahwa depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan depresi yang dialami berkorelasi dengan kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpa seseorang. Penyebab depresi bisa dilihat dari faktor biologis (seperti misalnya karena sakit, pengaruh hormonal, depresi pasca-melahirkan, penurunan berat yang drastis) dan faktor psikososial (misalnya konflik individual atau interpersonal, masalah eksistensi, masalah kepribadian, masalah keluarga).
Atkinson (Lumongga, 2009) juga memaparkan bahwa depresi sebagai suatu gangguan suasana hati yang dicirikan dengan tak ada harapan dan patah hati, ketidakberdayaan berlebihan, tak mampu mengambil keputusan untuk memulai suatu kegiatan, tidak mampu konsentrasi, tidak punya semangat hidup, tidak mampu menerima kenyataan, selalu tegang, dan mencoba bunuh diri. Menolak realita dengan cara yang salah dan dapat membuat depresi makin parah. Namun bila diterima dengan pasrah juga tidak menyembuhkan. Hal yang mestinya dilakukan adalah menerima untuk memperbaiki karena penderitaan yang tidak diikuti dengan perbaikan dapat menjadi trauma yang abadi.
Semua motivasi dan perilaku seseorang adalah dalam rangka memuaskan salah satu atau lebih kebutuhan universal manusia. Seseorang bertanggung jawab atas perilaku yang seseorang lakukan atau pilih. Individu harus berani menghadapi realitas dan bersedia untuk tidak mengulangi masa lalu. Terapi realitas dibutuhkan oleh individu dengan depresi agar dapat membantunya mengurangi pikiran-pikiran negatif, lebih berani dan lebih bertanggung jawab pada kehidupannya saat ini. Terapi realita dapat mengurangi gejala depresi seperti melamun, kebingungan dan menarik diri dari lingkungan (Ismanto, 2014).


  1. Pengertian
Corey (2009) menjelaskan bahwa terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan kepada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi, yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Terapi realitas yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan” dapat diterapkan pada psikoterapi, konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga dan perkembangan masyarakat.
William Glasser (dalam Corey, 2009) menekankan bahwa pendekatan reality therapy adalah aktif, membimbing, mendidik dan terapi yang berorientasi pada cognitive behavioral. Terapi realitas merupakan kelompok terapi kognitif-behavioral yang bersifat multikultural, menjelaskan “bagaimana manusia berfungsi secara individu dan sosial”. Fokus terapi konseling realitas adalah problema kehidupan yang dirasakan oleh klien saat ini, dan dilaksanakan melalui interaksi aktif antara konselor dan klien.
Sedangkan menurut Meier, dkk. (1988) menjelaskan bahwa terapi realitas yang diperkenalkan oleh William Glasser memusatkan perhatiannya terhadap kelakuan yang bertanggung jawab, dengan memperhatikan tiga hal (3-R): realitas (reality), melakukan hal yang baik (do right), dan tanggungjawab (responsiblility).
Di samping itu, terapi realitas menekankan agar orang bertanggungjawab atas perilakunya, melihatnya secara kritis, bertanggungjawab atas perbuatannya, serta berjanji untuk mengubahnya. Klien harus berani menghadapi situasi saat ini daripada berupaya menghindarinya dengan cara yang destruktif. Dimensi penerimaan diri fisik, tingkah laku diri fisik, identitas diri moral etik, penerimaan diri moral etik, tingkah laku diri moral etik, penerimaan diri personal, penerimaan diri keluarga, tingkah laku diri keluarga, penerimaan diri sosial, tingkah laku diri sosial dan kritik diri responden yang memperoleh terapi realitas secara kelompok meningkat menjadi positif (Sutatminingsih, 2002).


  1. Tujuan Intervensi


  • Membantu klien untuk mencapai kematangan yang diperlukan bagi kemampuan klien untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal.
  • Membantu klien untuk bertanggung jawab atas kehidupannya saat ini.
  • Membantu klien untuk menentukan dan memperjelas tujuan-tujuan mereka.
  • Membantu klien menemukan alternatif-alternatif dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
  • Mengurangi depresi akibat masalah yang dihadapi klien serta ketiadaan orang yang mendukung klien.
  1. Rancangan intervensi
Tabel Rancangan Intervensi
Tritmen
Tujuan
Target perilaku
Rancangan pertemuan
Terapi Realita
  • Mengevaluasi situasi kehidupan klien saat ini.
  • Membantu klien untuk mencapai kematangan yang diperlukan bagi kemampuan klien untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal.
  • Membantu klien untuk bertanggung jawab atas kehidupannya saat ini.
  • Membantu klien untuk menentukan dan memperjelas tujuan-tujuan mereka.
  • Membantu klien menemukan alternatif-alternatif dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
  • Mengurangi depresi akibat masalah yang dihadapi klien serta ketiadaan orang yang mendukung klien.
  • Klien dapat mengeluarkan keluh kesahnya tanpa ganjalan.
  • Klien dapat memahami bahwa perasaan yang dirasakanya dapat berdampak buruk pada perilakunya
  • Klien dapat mencari jalan keluar dari permasalannya.
  • Klien dapat memunculkan dukungan pada dirinya sendiri
  • Klien dapat lebih optimis terhadap masa depannya.
  • Klien dapat menerima kenyataan dari kehidupannya dan lebih bertanggung jawab.
2 kali pertemuan


  1. Tata ruang
  • Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
  • Satu set kursi tamu
  • Klien dan terapis dalam posisi berhadapan

  1. Media
Alat tulis, meja dan kursi
  1. Materi
Terapis memberikan kesempatan kepada klien dalam kesempatan seluas-luasnya untuk mengungkapkan perasaannya, apa yang dipikirkan mengenai masalahnya dan emosi apa yang mengganggu klien. Terapis bertindak sebagai pembimbing yang membantu klien agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realitas. Terapis juga memberikan pujian apabila klien bertindak dengan cara yang bertanggung jawab dan menunjukkan ketidaksetujuan apabila mereka tidak bertindak demikian.
  1. Prosedur
  1. Intake raport
Terapis membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan klien dengan cara melakukan pembincaraan ringan seputar kabar klien dan kesibukan klien selama beberapa hari terakhir agar klien merasa nyaman. Selain itu terapis membangun keterlibatan klien dalam proses konseling : konselor membina hubungan dan keterlibatan emosi serta kerjasama klien, dengan cara penyambutan klien, penciptaan hubungan baik, strukturing, mendengarkan keluhan klien, dan mempersetujukan tujuan.
  1. Identifikasi perilaku/tindakan kekinian dan ke-disini-an klien : pengungkapan perilaku/tindakan klien pada saat akhir-akhir ini, dengan cara mengungkapkan perilaku saat ini, keinginan, kebutuhan, dan persepsinya—apa yang dilakukan, bagaimana, waktu/kapan melakukannya dan perasaan terkait dengan perilakunya tsb.
  2. Evaluasi : konselor mendorong klien menilai kerealistikan perilaku/tindakan dengan prinsip reality, right, responsibility dengan cara klarifikasi perilaku sekarang, konfrontasi dengan tujuan hidup dalam hubungannya dengan standar etika, hukum, peraturan sekolah , adat, norma sosial, keluarga, agama.
  3. Pengembangan perencanaan perilaku yang realistik : Konselor mendorong klien untuk menyusun rencana perilaku/tindakan yang realistik sesuai dengan tuntutan lingkungan dan kebutuhan/keinginan, terinci, keterkelolaan, dan konsekuensinya.
  4. Komitmen : membangun motivasi dan kesanggupan klien, dengan cara pemberian harapan keberhasilan, wawasan manfaat, membangun motivasi dan dorongan internal dan kontrak tingkah laku.
  5. Pengakhiran tindakan : melakukan evaluasi dan konsekuensinya bilamana klien gagal melakukan tindakan/perilaku yang direncanakan, dengan cara mendorong klien untuk tidak menolak kegagalan, menyalahkan diri, kecewa, putusasa, dan memikirkan cara baru yang lebih realistis.
  1. Metode
  • Ceramah dan katarsis
  1. Waktu :
  • ± 120 menit

DAFTAR PUSTAKA
Corey ,Gerald. (2009). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.

Hadi, P. 2004. Depresi dan solusinya. Yogyakarta: Penerbit Tugu.

Ismanto, Y. A. (2014). Penerapan Konseling Realita Untuk Mengatasi Siswa Yang Mengalami Depresi di SDN Maitan 03 Tambakromopati. Skripsi (Tidak diterbitkan). Kudus: Program Sttudi Bimbingan dan Konseling, Universitas Muria Kudus.

Mc. Dowel, I & Newell, C. (1996). Measuring health: A guide to rating scales and questionnaire (2nd ed). New York; Oxford University Press.

Meier, Paul et.al. (1988).  Introduction to Psychology & Counseling (Grand Rapids-Michigan: Baker Book House.

Sutatminingsih, R. (2002). Pengaruh terapi realitas secara kelompok terhadap peningkatan konsep diri pada penyandang cacat fisik usia dewasa awal .Tesis (Tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Studi Pasca Sarjana Psikologi Universitas Gajah Mada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda