Hai
semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan
modul terapi psikologi, yaitu:
MODUL
Terapi
Keterampilan Sosial Pada
Penderita Skizofrenia Residual
- Pendahuluan
Skizofrenia
adalah gangguan yang kompleks dan multiaspek yang mempunyai beberapa
bentuk. Hal yang penting dalam mendiagnosis
skizofrenia adalah gangguan tertentu yang berlangsung minimal selama
6 bulan. Selama periode 6 bulan tersebut, terdapat fase aktif
(active phase) dari simtom-simtom, seperti
delusi, halusinasi, ucapan yang tidak teratur, perilaku terganggu,
dan simtom negatif (misalnya ketidakmampuan bicara atau kurangnya
inisiatif). Fase aktif tidak selalu muncul tanpa tandanya peringatan
terlebih dahulu. Pada sebagian besar kasus, tidak seluruhnya,
memiliki fase prodromal (prodomal phase), yaitu suatu periode yang
mendahului fase aktif selama individu menunjukkan
deteriorasi/penurunan progresif dalam fungsi sosial dan
interpersonal. Fase tersebut dicirikan dengan beberapa perilaku
maladaptif, seperti penarikan diri dari lingkungan sosial,
ketidakmampuan untuk bekerja secara produktif, keeksentrikan, tidak
terawat, emosi yang tidak tepat, pikiran dan ucapan yang aneh,
kepercayaan yang tidak biasa, pengalaman persepsi yang aneh, serta
energi dan inisiatif yang menurun. Bagi kebanyakan orang, fase aktif
diikuti dengan fase residu (residual phase), ketika mendapat indikasi
gangguan berkelanjutan yang sama dengan perilaku fase prodormal.
Disepanjang durasi gangguan, orang dengan skizofrenia mengalami
masalah serius di tempat kerja, dalam hubungan, dan perawatan diri.
Perubahan deteriorasi yang berlangsung selama
usianya memberi pencerahan dalam memandang
skizofrenia sebagai kondisi neudevelopmental. Dengan kata lain,
perubahannya terjadi di otak individu yang kemudian meningkatkan
kemungkinan individu mengembangkan skizofrenia
(Sarason, 1989).
Seorang
penderita skizoprenia harus didorong untuk bergaul dengan orang lain
dengan maksud agar ia tidak mengasingkan diri lagi, karena bila
menarik diri penderita dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik.
Dalam penelitian menghasilkan bahwa
pelaksanaan social skills therapy menunjukkan adanya
respon subyek yang memiliki kemampuan
sosialisasi rendah berupa uluran tangan untuk berjabat tangan
dan subyek mampu mengadakan interaksi balik berupa senyuman ketika
diberi pertanyaan. Terapi keterampilan sosial
(Social Skills Therapy) berguna
untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri,
latihan praktis dan komunikasi
interpersonal (Hadiyati, 2014).
- Pengertian
Terapi
lingkungan (sosial) merupakan salah satu teknik-teknik pelengkap
dalam psikoterapi (Semiun, 2006). Keterampilan sosial berasal dari
kata terampil dan sosial. Kata keterampilan berasal dari terampil
karena di dalamnya terkandung suatu proses belajar, dari tidak
terampil menjadi terampil. Kata sosial digunakan untuk mengajarkan
satu kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian
pelatihan keterampilan sosial merupakan pelatihan yang bertujuan
untuk mengajarkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain kepada
individu-individu yang tidak terampil menjadi terampil berinteraksi
dengan orang-orang di sekitarnya, baik dalam hubungan formal maupun
informal (Kelly, 1982).
Keterampilan
sosial adalah sebuah alat yang terdiri dari kemampuan berinteraksi,
berkomunikasi secara efektif baik secara verbal maupun nonverbal,
kemampuan untuk dapat menunjukkan perilaku yang baik, serta kemampuan
menjalin hubungan baik dengan orang lain digunakan seseorang untuk
dapat berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sosial.
Pelatihan
keterampilan sosial merupakan salah satu teknik modifikasi perilaku
yang mulai banyak digunakan, terutama untuk membantu penderita
kesulitan bergaul. Teknik ini dapat digunakan sebagai teknik tunggal
maupun teknik pelengkap yang digunakan sebagai teknik tunggal maupun
teknik pelengkap yang digunakan bersama-sama dengan teknik
psikoterapi lainnya. Tujuan
dari terapi Keterampilan sosial (social
skill therapy) untuk pasien skizofrenia
adalah untuk meningkatkan interaksi sosial, mengajarkan kebutuhun
keterampilan yang spesifik agar berfungsi dalam masyarakat, untuk
mengurangi stress dengan mempelajari pasien untuk mengatasi situasi
sosial tak menentu yang timbul dalam kehidupan sehari-hari mereka
(Spigler & Guevremont, 2003).
Pada
penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani (1994), pelatihan
keterampilan sosial digunakan untuk meningkatkan kemampuan bergaul
subyek. Inti dari pelatihan keterampilan sosial adalah meningkatkan
kemampuan atau keterampilan berinteraksi sosial individu dalam
berhubungan dengan orang lain agar menjadi lebih baik. Perubahan ini
akan membantu individu mampu untuk menyelesaikan diri dan bergabung
dengan orang lain, melalui pembicaraan dan merasakan penerimaan dari
orang lain sehingga akan muncul perasaan berharga.
Keterampilan
sosial meliputi keterampilan-keterampilan memberikan pujian, mengeluh
karena tidak setuju terhadap sesuatu hal, menolak permintaan orang
lain, tukar pengalaman, menuntut hak pribadi, memberi saran kepada
orang lain, pemecahan konflik atau masalah, berhubungan atau bekerja
sama dengan orang lain yang berlainan jenis kelamin, berhubungan
dengan orang yang lebih tua dan lebih tinggi statusnya dan beberapa
tingkah laku lain sesuai dengan keterampilan yang tidak dimiliki oleh
klien (Kelly, 1982).
Kelly
(1982) menjelaskan bahwa pada prinsipnya keterampilan sosial
dilaksanakan melalui 4 tahap, yaitu:
- Modelling, yaitu tahap penyajian model yang dibutuhkan peserta pelatihan secara spesifik, detil dan sering. Yang dilakukan dengan cara memperlihatkan contoh tentang keterampilan berperilaku yang spesifik, yang diharapkan dapat dipelajari oleh pelatih. Model ini dapat langsung disajikan oleh terapis, pemeran atau aktor-artis, model melalui video, ataupun gabungan dari model yang sesungguhnya dan model video.
- Role playing, yaitu tahap bermain peran di mana peserta pelatihan mendapat kesempatan untuk memerankan suatu interaksi sosial yang sering dialami sesuai dengan topic interaksi yang diperankan model. Dilakukan dengan cara mendengarkan petunjuk yang disajikan model atau melalui video. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan diskusi mengenai aktivitas yang dimodelkan. Setelah selesai, latihan bermain peran dilakukan.
- Performance feedback ,yaitu tahap pemberian umpan balik. Umpan balik ini harus diberikan segera setelah peserta pelatihan mencoba agar mereka yang memerankan tahu seberapa baik ia menjalankan langkah-langkah pelatihan ini. Yang dilakukan dengan cara memberi pengukuh terhadap peserta yang menunjukkan kinerja yang tepat, apabila peserta berhasil melakukan yang dilatihkan maupun apabila peserta mengemukanan target perilaku yang ingin dilakukan.
- Transfer training, yaitu tahap pemindahan keterampilan yang diperoleh individu selama pelatihan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Terapi
keterampilan sosial yang disusun oleh peneliti mengacu pada aspek
keterampilan sosial Cartledge dan Milburn dalam penelitan yang
dilakukan oleh Ratna (2008) dan digunakan dalam modul penelitiannya
untuk diujicobakan. Aspek tersebut adalah sebagai berikut:
- Keterampilan sosial dasar
Keterampilan
sosial dasar, yaitu perilaku yang menyangkut keterampilan yang
digunakan selama melakukan interaksi untuk menjalin hubungan dengan
baik. Contoh bentuk-bentuk perilaku yang menunjukkan adanya
dasar-dasar keterampilan sosial meliputi mendengarkan, memulai
percakapan, menikmati suatu percakapan, meminta ijin mengucapkan
terima kasih, memperkenalkan diri sendiri dan memperkenalkan orang
lain.
- Keterampilan tingkat lanjut
Tingkat
lanjut dalam keterampilan sosial disebut juga sebagai keterampilan
kombinasi yaitu kemampuan pengembangan dasar-dasar dalam keterampilan
sosial dan memuat kemampuan mengaplikasikan keterampilan-keterampilan
dasar untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan nyata. Contoh
bentuk-bentuk perilaku yang menunjukkan keterampilan kombinasi
meliputi meminta bantuan, ikut serta, memberi instruksi, mengikuti
instruksi,meminta maaf, menyakinkan orang lain.
- Keterampilan yang berhubungan dengan perasaan
Keterampilan
yang berhubungan dengan perasaan, merupakan keterampilan untuk
memahami perasaan diri sendiri, memahami perasaan orang lain dan
mampu menyatakan perasaan positif atau negatid terhadap orang lain.
Individu yang mempunyai keterampilan ini dikatakan individu yang
asertif. Contoh perilaku yang menunjukkan keterampilan yang
berhubungan dengan perasaan meliputi mengetahui perasaan diri
sendiri, kemampuan menyatakan perasaan, memahami perasaan orang lain,
menghadapi orang lain yang sedang marah, pernyataan kasih sayang,
menghadapi ketakutan dan penghargaan kepada diri sendiri
- Keterampilan menghadapi agresi
Keterampilan
alternatif dalam menghadapi agresi yaitu kemampuan mengolah dan
mengembangkan serta mengatasi konflik interpersonal. Konflik akan ada
dalam setiap hubungan antara manusia yang disebabkan oelh berbagai
hal. Contoh perilaku yang menunjukkan keterampilan alternatif
menghadapi agresi meliputi membantu orang lain, meminta ijin,
negosiasi, pengendalian diri, menjawab pertanyaan, berpihak dalam
kebenaran, menghindari perkelahian.
- Keterampilan mengatasi tekanan/ stres
Keterampila
dalam mengatasi tekanan atau stres, merupakan kemampuan untuk
mengatur diri sendiri dalam situasi sosial. Bentuk perilaku ini
adalah keterampilan untuk menghadapi stres, mengontrol kemarahan,
menyampaikan suatu keluhan, menjawab keluhan, melakukan olah raga
setelah bermain, berpihak kepada teman, menghadai perbedaan pendapat,
menghadapi suatu tuduhan, siap menghadapi percakapan yang sulit dan
berhadapan dengan kelompok penguasa.
- Keterampilah dalam perencanaan
Keterampilan
dalam perencanaan merupakan kemampuan mengatur rencana untuk mencapai
tujuan yang diinginkan, stelah individu melalui tingaktan
keterampilan sosial yang berhubungan dengan interaksi sosial. Contoh
perilaku yang menunjukkan keterampilan dalam perencanaan meliputi
mencari penyebab masalah, perencanaan tujuan, mengetahui kemampuan
diri, mengumpulkan informasi, mendahulukan permasalahan yang penting,
membagi suatu keputusan dan konsentrasi pada tugas.
- Tujuan Intervensi
- untuk mengajarkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain kepada individu-individu yang tidak terampil menjadi terampil berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, baik dalam hubungan formal maupun informal.
- Untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi efektif dengan orang lain, baik verbal maupun nonverbal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
- untuk dapat menyesuaikan diri dengan standar harapan masyarakat dalam norma-norma yang berlaku di sekelilingnya.
- Membantu klien dalam menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain serta mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku dan lain sebagainya.
- Rancangan intervensi
Tabel
Rancangan Intervensi
Tritmen
|
Tujuan
|
Target
perilaku
|
Rancangan
pertemuan
|
Keterampilan
Sosial
|
|
|
6
kali pertemuan
|
- Tata ruang
- Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
- Satu set kursi tamu
- Tempat kegiatan untuk berinteraksi dengan orang lain
- Media
Alat
tulis, meja dan kursi
- Materi
Dalam
pelatihan keterampilan sosial akan dibahas bagaimana
caranya supaya klien mampu berinteraksi dengan lebih baik saat berada
di lingkungannya.
Hal ini disajikan dengan beberapa model atau contoh tingkah
laku. Subyek atau klien diminta untuk mengobservasi, kemudian
menirukan tingkah laku tersebut. Klien melihat, mengobservasi
kemudian menirukan tingkah laku yang diajarkan. Apabila individu
berhasil menirukan tingkah laku tersebut, pelatih akan memberikan
pengukuh. Terapis membantu klien untuk
bagaimana bersikap saat berada di lingkungan sosialnya. Pemberian
sanjungan kepada klien untuk lebih banyak melakukan interaksi dengan
lingkungan seosialnya serta memberikan pemahaman tentang pentingnya
melakukan interaksi dengan lingkungan sosialnya sebagai kegiatan
positif yang dapat dilakukan oleh klien.
- Prosedur
- Intake raport
- Terapis membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan klien dengan cara melakukan pembincaraan ringan seputar kabar klien dan kesibukan klien selama beberapa hari terakhir agar klien merasa nyaman.
- Modelling
- Terapis memperlihatkan contoh tentang keterampilan berperilaku yang spesifik
- Role playing
- Klien diberi kesempatan untuk memerankan suatu interaksi sosial yang sering dialami sesuai dengan topic interaksi yang diperankan model.
- Terapis berdiskusi mengenai aktivitas yang dimodelkan dan meminta klien untuk melakukannya pada lingkungan sosialnya.
- Performance feedback
- Terapis memberi umpan balik setelah klien mencoba bermain peran agar klien tahu seberapa baik ia menjalankan langkah-langkah keterampilan sosial.
- Terapis memberi pengukuh terhadap klien yang menunjukkan kinerja yang tepat, apabila klien berhasil melakukan yang dilatihkan maupun apabila klien mengemukanan target perilaku yang ingin dilakukan.
- Transfer training
- Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengaplikasikan keterampilan yang sudah ia dapatkan pada lingkungan sosial.
- Metode
- Ceramah, modeling,pratek
- Waktu :
- ± 130 menit
DAFTAR
PUSTAKA
Hadiyati,
D.S. (2014). Peningkatan Relasi Sosial melalui social skill
therapy pada penderita schizophrenia katatonik . Jurnal Online
Psikologi, vol 2 No.1. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah
Malang.
Kelly,
J. A. (1982).
Social skill training,
A Prectical guide for Interventions. New
York: Springer Publishing.
Ratna,
Indra. (2008). Efektivitas keterampilan sosial terhadap penurunan
agresitivas pada remaja. Laporan Penelitian. Fakultas Psikologi
Universitas Mercu Buana. Yogyakarta
Ramadhani,
Neila. (1994). Pelatihan
keterampilan sosial
untuk terapi kesulitan bergaul. Tesis
(tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah
Mada.
Semium,
Yustinus. (2006). Kesehatan mental
1. Yogyakarta: Kanisius
Sarason,
I. G. (1989).
Abnormal
psychology.
6th Ed. New Jersey: Pentice Hall.
Semiun,
Yustinus. (2006). Kesehatan
mental 3.
Yogyakarta: Kanisiun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda