Minggu, 25 Januari 2015

MODUL Terapi Keterampilan Sosial


Hai semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan modul terapi psikologi, yaitu:
MODUL
Terapi Keterampilan Sosial Pada Penderita Skizofrenia Residual


  1. Pendahuluan
Skizofrenia adalah gangguan yang kompleks dan multiaspek yang mempunyai beberapa bentuk. Hal yang penting dalam mendiagnosis skizofrenia adalah gangguan tertentu yang berlangsung minimal selama 6 bulan. Selama periode 6 bulan tersebut, terdapat fase aktif (active phase) dari simtom-simtom, seperti delusi, halusinasi, ucapan yang tidak teratur, perilaku terganggu, dan simtom negatif (misalnya ketidakmampuan bicara atau kurangnya inisiatif). Fase aktif tidak selalu muncul tanpa tandanya peringatan terlebih dahulu. Pada sebagian besar kasus, tidak seluruhnya, memiliki fase prodromal (prodomal phase), yaitu suatu periode yang mendahului fase aktif selama individu menunjukkan deteriorasi/penurunan progresif dalam fungsi sosial dan interpersonal. Fase tersebut dicirikan dengan beberapa perilaku maladaptif, seperti penarikan diri dari lingkungan sosial, ketidakmampuan untuk bekerja secara produktif, keeksentrikan, tidak terawat, emosi yang tidak tepat, pikiran dan ucapan yang aneh, kepercayaan yang tidak biasa, pengalaman persepsi yang aneh, serta energi dan inisiatif yang menurun. Bagi kebanyakan orang, fase aktif diikuti dengan fase residu (residual phase), ketika mendapat indikasi gangguan berkelanjutan yang sama dengan perilaku fase prodormal. Disepanjang durasi gangguan, orang dengan skizofrenia mengalami masalah serius di tempat kerja, dalam hubungan, dan perawatan diri. Perubahan deteriorasi yang berlangsung selama usianya memberi pencerahan dalam memandang skizofrenia sebagai kondisi neudevelopmental. Dengan kata lain, perubahannya terjadi di otak individu yang kemudian meningkatkan kemungkinan individu mengembangkan skizofrenia (Sarason, 1989).
Seorang penderita skizoprenia harus didorong untuk bergaul dengan orang lain dengan maksud agar ia tidak mengasingkan diri lagi, karena bila menarik diri penderita dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik. Dalam penelitian menghasilkan bahwa pelaksanaan social skills therapy menunjukkan adanya respon subyek yang memiliki kemampuan sosialisasi rendah berupa uluran tangan untuk berjabat tangan dan subyek mampu mengadakan interaksi balik berupa senyuman ketika diberi pertanyaan. Terapi keterampilan sosial (Social Skills Therapy) berguna untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis dan komunikasi interpersonal (Hadiyati, 2014).


  1. Pengertian
Terapi lingkungan (sosial) merupakan salah satu teknik-teknik pelengkap dalam psikoterapi (Semiun, 2006). Keterampilan sosial berasal dari kata terampil dan sosial. Kata keterampilan berasal dari terampil karena di dalamnya terkandung suatu proses belajar, dari tidak terampil menjadi terampil. Kata sosial digunakan untuk mengajarkan satu kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian pelatihan keterampilan sosial merupakan pelatihan yang bertujuan untuk mengajarkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain kepada individu-individu yang tidak terampil menjadi terampil berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, baik dalam hubungan formal maupun informal (Kelly, 1982).
Keterampilan sosial adalah sebuah alat yang terdiri dari kemampuan berinteraksi, berkomunikasi secara efektif baik secara verbal maupun nonverbal, kemampuan untuk dapat menunjukkan perilaku yang baik, serta kemampuan menjalin hubungan baik dengan orang lain digunakan seseorang untuk dapat berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sosial.
Pelatihan keterampilan sosial merupakan salah satu teknik modifikasi perilaku yang mulai banyak digunakan, terutama untuk membantu penderita kesulitan bergaul. Teknik ini dapat digunakan sebagai teknik tunggal maupun teknik pelengkap yang digunakan sebagai teknik tunggal maupun teknik pelengkap yang digunakan bersama-sama dengan teknik psikoterapi lainnya. Tujuan dari terapi Keterampilan sosial (social skill therapy) untuk pasien skizofrenia adalah untuk meningkatkan interaksi sosial, mengajarkan kebutuhun keterampilan yang spesifik agar berfungsi dalam masyarakat, untuk mengurangi stress dengan mempelajari pasien untuk mengatasi situasi sosial tak menentu yang timbul dalam kehidupan sehari-hari mereka (Spigler & Guevremont, 2003).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani (1994), pelatihan keterampilan sosial digunakan untuk meningkatkan kemampuan bergaul subyek. Inti dari pelatihan keterampilan sosial adalah meningkatkan kemampuan atau keterampilan berinteraksi sosial individu dalam berhubungan dengan orang lain agar menjadi lebih baik. Perubahan ini akan membantu individu mampu untuk menyelesaikan diri dan bergabung dengan orang lain, melalui pembicaraan dan merasakan penerimaan dari orang lain sehingga akan muncul perasaan berharga.
Keterampilan sosial meliputi keterampilan-keterampilan memberikan pujian, mengeluh karena tidak setuju terhadap sesuatu hal, menolak permintaan orang lain, tukar pengalaman, menuntut hak pribadi, memberi saran kepada orang lain, pemecahan konflik atau masalah, berhubungan atau bekerja sama dengan orang lain yang berlainan jenis kelamin, berhubungan dengan orang yang lebih tua dan lebih tinggi statusnya dan beberapa tingkah laku lain sesuai dengan keterampilan yang tidak dimiliki oleh klien (Kelly, 1982).
Kelly (1982) menjelaskan bahwa pada prinsipnya keterampilan sosial dilaksanakan melalui 4 tahap, yaitu:
  1. Modelling, yaitu tahap penyajian model yang dibutuhkan peserta pelatihan secara spesifik, detil dan sering. Yang dilakukan dengan cara memperlihatkan contoh tentang keterampilan berperilaku yang spesifik, yang diharapkan dapat dipelajari oleh pelatih. Model ini dapat langsung disajikan oleh terapis, pemeran atau aktor-artis, model melalui video, ataupun gabungan dari model yang sesungguhnya dan model video.
  2. Role playing, yaitu tahap bermain peran di mana peserta pelatihan mendapat kesempatan untuk memerankan suatu interaksi sosial yang sering dialami sesuai dengan topic interaksi yang diperankan model. Dilakukan dengan cara mendengarkan petunjuk yang disajikan model atau melalui video. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan diskusi mengenai aktivitas yang dimodelkan. Setelah selesai, latihan bermain peran dilakukan.
  3. Performance feedback ,yaitu tahap pemberian umpan balik. Umpan balik ini harus diberikan segera setelah peserta pelatihan mencoba agar mereka yang memerankan tahu seberapa baik ia menjalankan langkah-langkah pelatihan ini. Yang dilakukan dengan cara memberi pengukuh terhadap peserta yang menunjukkan kinerja yang tepat, apabila peserta berhasil melakukan yang dilatihkan maupun apabila peserta mengemukanan target perilaku yang ingin dilakukan.
  4. Transfer training, yaitu tahap pemindahan keterampilan yang diperoleh individu selama pelatihan ke dalam kehidupan sehari-hari.


Terapi keterampilan sosial yang disusun oleh peneliti mengacu pada aspek keterampilan sosial Cartledge dan Milburn dalam penelitan yang dilakukan oleh Ratna (2008) dan digunakan dalam modul penelitiannya untuk diujicobakan. Aspek tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Keterampilan sosial dasar
Keterampilan sosial dasar, yaitu perilaku yang menyangkut keterampilan yang digunakan selama melakukan interaksi untuk menjalin hubungan dengan baik. Contoh bentuk-bentuk perilaku yang menunjukkan adanya dasar-dasar keterampilan sosial meliputi mendengarkan, memulai percakapan, menikmati suatu percakapan, meminta ijin mengucapkan terima kasih, memperkenalkan diri sendiri dan memperkenalkan orang lain.
  1. Keterampilan tingkat lanjut
Tingkat lanjut dalam keterampilan sosial disebut juga sebagai keterampilan kombinasi yaitu kemampuan pengembangan dasar-dasar dalam keterampilan sosial dan memuat kemampuan mengaplikasikan keterampilan-keterampilan dasar untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan nyata. Contoh bentuk-bentuk perilaku yang menunjukkan keterampilan kombinasi meliputi meminta bantuan, ikut serta, memberi instruksi, mengikuti instruksi,meminta maaf, menyakinkan orang lain.
  1. Keterampilan yang berhubungan dengan perasaan
Keterampilan yang berhubungan dengan perasaan, merupakan keterampilan untuk memahami perasaan diri sendiri, memahami perasaan orang lain dan mampu menyatakan perasaan positif atau negatid terhadap orang lain. Individu yang mempunyai keterampilan ini dikatakan individu yang asertif. Contoh perilaku yang menunjukkan keterampilan yang berhubungan dengan perasaan meliputi mengetahui perasaan diri sendiri, kemampuan menyatakan perasaan, memahami perasaan orang lain, menghadapi orang lain yang sedang marah, pernyataan kasih sayang, menghadapi ketakutan dan penghargaan kepada diri sendiri
  1. Keterampilan menghadapi agresi
Keterampilan alternatif dalam menghadapi agresi yaitu kemampuan mengolah dan mengembangkan serta mengatasi konflik interpersonal. Konflik akan ada dalam setiap hubungan antara manusia yang disebabkan oelh berbagai hal. Contoh perilaku yang menunjukkan keterampilan alternatif menghadapi agresi meliputi membantu orang lain, meminta ijin, negosiasi, pengendalian diri, menjawab pertanyaan, berpihak dalam kebenaran, menghindari perkelahian.
  1. Keterampilan mengatasi tekanan/ stres
Keterampila dalam mengatasi tekanan atau stres, merupakan kemampuan untuk mengatur diri sendiri dalam situasi sosial. Bentuk perilaku ini adalah keterampilan untuk menghadapi stres, mengontrol kemarahan, menyampaikan suatu keluhan, menjawab keluhan, melakukan olah raga setelah bermain, berpihak kepada teman, menghadai perbedaan pendapat, menghadapi suatu tuduhan, siap menghadapi percakapan yang sulit dan berhadapan dengan kelompok penguasa.
  1. Keterampilah dalam perencanaan
Keterampilan dalam perencanaan merupakan kemampuan mengatur rencana untuk mencapai tujuan yang diinginkan, stelah individu melalui tingaktan keterampilan sosial yang berhubungan dengan interaksi sosial. Contoh perilaku yang menunjukkan keterampilan dalam perencanaan meliputi mencari penyebab masalah, perencanaan tujuan, mengetahui kemampuan diri, mengumpulkan informasi, mendahulukan permasalahan yang penting, membagi suatu keputusan dan konsentrasi pada tugas.


  1. Tujuan Intervensi
  • untuk mengajarkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain kepada individu-individu yang tidak terampil menjadi terampil berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, baik dalam hubungan formal maupun informal.
  • Untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi efektif dengan orang lain, baik verbal maupun nonverbal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
  • untuk dapat menyesuaikan diri dengan standar harapan masyarakat dalam norma-norma yang berlaku di sekelilingnya.
  • Membantu klien dalam menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain serta mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku dan lain sebagainya.


  1. Rancangan intervensi


Tabel Rancangan Intervensi
Tritmen
Tujuan
Target perilaku
Rancangan pertemuan
Keterampilan Sosial
  • untuk mengajarkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain kepada individu-individu yang tidak terampil menjadi terampil berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, baik dalam hubungan formal maupun informal.
  • Untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi efektif dengan orang lain, baik verbal maupun nonverbal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
  • untuk dapat menyesuaikan diri dengan standar harapan masyarakat dalam norma-norma yang berlaku di sekelilingnya.
  • Membantu klien dalam menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain serta mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku dan lain sebagainya
  • Klien dapat meningkatkan kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain.
  • Klien mampu berkomunikasi secara efektif baik secara verbal maupun nonverbal
  • Klien mampu menunjukkan perilaku yang sesuai di lingkungan dan dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain
  • Klien tidak tidak menarik diri dari lingkungan dan lebih percaya diri
  • Klien dapat belajar kebutuhan keterampilan yang spesifik agar berfungsi dalam masyarakat
  • Klien dapat mengurangi stress saat berada pada situasi sosial yang tak menentu dalam kehidupan sehari-hari mereka
  • Klien dapat menyesuaikan diri dengan standar harapan masyarakat dalam norma-norma yang berlaku di sekelilingnya.

6 kali pertemuan


  1. Tata ruang
  • Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
  • Satu set kursi tamu
  • Tempat kegiatan untuk berinteraksi dengan orang lain
  1. Media
Alat tulis, meja dan kursi
  1. Materi
Dalam pelatihan keterampilan sosial akan dibahas bagaimana caranya supaya klien mampu berinteraksi dengan lebih baik saat berada di lingkungannya. Hal ini disajikan dengan beberapa model atau contoh tingkah laku. Subyek atau klien diminta untuk mengobservasi, kemudian menirukan tingkah laku tersebut. Klien melihat, mengobservasi kemudian menirukan tingkah laku yang diajarkan. Apabila individu berhasil menirukan tingkah laku tersebut, pelatih akan memberikan pengukuh. Terapis membantu klien untuk bagaimana bersikap saat berada di lingkungan sosialnya. Pemberian sanjungan kepada klien untuk lebih banyak melakukan interaksi dengan lingkungan seosialnya serta memberikan pemahaman tentang pentingnya melakukan interaksi dengan lingkungan sosialnya sebagai kegiatan positif yang dapat dilakukan oleh klien.


  1. Prosedur
  1. Intake raport
  • Terapis membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan klien dengan cara melakukan pembincaraan ringan seputar kabar klien dan kesibukan klien selama beberapa hari terakhir agar klien merasa nyaman.
  1. Modelling
  • Terapis memperlihatkan contoh tentang keterampilan berperilaku yang spesifik
  1. Role playing
  • Klien diberi kesempatan untuk memerankan suatu interaksi sosial yang sering dialami sesuai dengan topic interaksi yang diperankan model.
  • Terapis berdiskusi mengenai aktivitas yang dimodelkan dan meminta klien untuk melakukannya pada lingkungan sosialnya.
  1. Performance feedback
  • Terapis memberi umpan balik setelah klien mencoba bermain peran agar klien tahu seberapa baik ia menjalankan langkah-langkah keterampilan sosial.
  • Terapis memberi pengukuh terhadap klien yang menunjukkan kinerja yang tepat, apabila klien berhasil melakukan yang dilatihkan maupun apabila klien mengemukanan target perilaku yang ingin dilakukan.
  1. Transfer training
  • Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengaplikasikan keterampilan yang sudah ia dapatkan pada lingkungan sosial.

  1. Metode
  • Ceramah, modeling,pratek
  1. Waktu :
  • ± 130 menit












DAFTAR PUSTAKA
Hadiyati, D.S. (2014). Peningkatan Relasi Sosial melalui social skill therapy pada penderita schizophrenia katatonik . Jurnal Online Psikologi, vol 2 No.1. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.


Kelly, J. A. (1982). Social skill training, A Prectical guide for Interventions. New York: Springer Publishing.


Ratna, Indra. (2008). Efektivitas keterampilan sosial terhadap penurunan agresitivas pada remaja. Laporan Penelitian. Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Yogyakarta


Ramadhani, Neila. (1994). Pelatihan keterampilan sosial untuk terapi kesulitan bergaul. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.


Semium, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 1. Yogyakarta: Kanisius


Sarason, I. G. (1989). Abnormal psychology. 6th Ed. New Jersey: Pentice Hall.


Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisiun.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda