Hai
semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan
modul terapi psikologi, yaitu:
MODUL
Psikoedukasi
orang tua pada anak dengan Problems with primary support group
- Pendahuluan
Sebagai
orang tua seharusnya dapat membantu dan
mendukung terhadap segala usaha yang dilakukan oleh anaknya serta
dapat memberikan pendidikan informal guna membantu pertumbuhan dan
perkembangan anak tersebut serta untuk mengikuti atau melanjutkan
pendidikan pada program pendidikan formal di sekolah.
Bentuk
dan isi serta cara-cara pendidikan di dalam
keluarga akan selalu mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan watak,
budi pekerti dan kepribadian tiap-tiap manusia. Pendidikan yang
diterima dalam keluarga inilah yang akan di contoh oleh anak sebagai
dasar yang digunakan untuk mengikuti pendidikan selanjutnya
disekolah. Pada dasarnya dukungan orang tua terhadap pendidikan
anaknya menyangkut empat hal pokok yaitu 1) dukungan sosial ekonomi,
2) mental/ agama, 3) moral, dan 4) pendidikan.
Mengingat
tanggung jawab pendidikan anak ditanggung oleh keluarga dalam
pendidikan informalnya dan ditanggung oleh sekolah dalam pendidikan
formal, maka orang tua harus berperan dalam menanamkan sikap dan
nilai hidup, pengembangan bakat dan minat serta pembinaan bakat dan
kepribadian. Selain itu, orang tua juga harus memperhatikan
pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya serta harus
dapat menunjukkan kerja samanya dalam mengarahkan cara anak belajar
di rumah, membuat pekerjaan rumahnya, tidak menyita waktu anak
dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, orang tua harus
berusaha memotivasi dan membimbing anak dalam belajar. Dengan
memberikan perhatian pada semua hal yang berkaitan dengan anak, orang
tua dapat menanggulangi segala permasalahan yang dihadapi oleh
anaknya. Hal ini menunjukkan pentingnya pengetahuan orang tua akan
perkembangan dan sebab akibat dari permasalah anak.
Penelitian Family
Psyhcoeducation (psikoedukasi
keluarga) oleh Wardaningsih (2007) mengemukakan bahwa terdapat
pengaruh Family psikoedukasi
terhadap beban dan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan
halusinasi. Psikoedukasi keluarga dapat meningkatkan kesejahteraan
keluarga serta menurunkan beban subjektif keluarga.
Penelitian Soep (2009) menyatakan bahwa ada perbedaan tingkat
perbedaan depresi postpartum pada ibu yang mendapatkan intervensi
psikoedukasi dan yang tidak mendapatkan intervensi psikoedukasi.
Berdasarkan
kedua
penelitian tersebut menunjukkan bahwa psikoedukasi keluarga sangat
dibutuhkan dan berrpengaruh terhadap
keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan
gangguan jiwa maupun masalah psikososial.
- Pengertian
Psikoedukasi
merupakan salah satu bentuk dari intervensi, baik untuk keluarga
maupun klien yang merupakan bagian dari terapi psikososial. Tujuan
dari program psikoedukasi adalah menambah pengetahuan tentang
permasalahan yang sedang dihadapi oleh klien dan
meningkatan fungsinya dalam lingkungannya. Tujuan ini akan
dicapai melalui serangkaian kegiatan edukasi tentang
gangguan, cara mengatasi gejala, dan kemampuan yang dimiliki
keluarga (Stuart & Laraia, 2001).
Stuart
& Laraia (2001)
menjelaskan bahwa secara umum, program komprehensif dari
psikoedukasi adalah sebagai berikut:
a.
Komponen didaktik, berupa pendidikan kesehatan, yang menyediakan
informasi tentang penyakit dan sistem kesehatan jiwa.
b.
Komponen ketrampilan, yang menyediakan pelatihan tentang komunikasi,
penyelesaian konflik, pemecahan masalah, asertif, manajemen perilaku
dan manajemen stres.
c.
Komponen emosional, memberi kesempatan ventilasi dan berbagi perasaan
disertai dukungan emosional. Mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan,
khusus pada keadaan krisis.
d.
Komponen sosial, peningkatan penggunaan jejaring formal dan non
formal. Peningkatan kontak dengan jejaring sumber daya dan sistem
pendukung yang ada di masyarakat akan menguntungkan keluarga dan
klien.
Hal-hal
yang dilakukan pada saat melakukan psikoedukasi keluarga antara lain:
•
Mengidentifikasi
bagaimana reaksi anggota keluarga terhadap keadaan klien.
•
Mengidentifikasi
faktor penyebab gangguan yang dialami. .
•
Mengidentifikasi
tanda dan gejala prodormal gangguan pada klien.
•
Mengajarkan
kepada keluarga bagaimana strategi koping yang dapat diterapkan.
•
Melakukan
pemecahan masalah secara terstruktur.
- Tujuan intervensi
Pada
akhir kegiatan diharapkan orang tua dan AN dapat
memahami permasalahan yang sedang dihadapi dan mampu menyelesaikan
permasalahannya dengan baik
- Target perilaku Psikoedukasi :
- Orang tua dapat memahami permasalahan yang dialami anaknya
- Orang tua dapat memahami bahwa gejala gangguan yang dikeluhkan disebabkan karena adanya fase perkembangan klien yang tidak sesuai dengan perkembangan secara umum dimana ada masa anak tidak bersama dengan kedua orang tuanya sehingga berpengaruh pada perkembangan penyesuaian dirinya.
- Orang tua dapat memberikan pendidikan dan keterampilan yang sesuai dengan kondisi subyek.
- Orang tua dapat membentuk pola asuh yang sesuai dengan kondisi anak.
- Orang tua dapat memiliki pandangan masa depan secara optimis untuk anaknya.
- AN dapat memahami permasalahannya saat ini.
- AN dapat mengembangkan pendidikan dan keterampilannya dengan lebih baik.
- AN dapat memiliki pandangan masa depan secara optimis untuk dirinya.
- Rancangan intervensi
Tabel
Rancangan Intervensi Psikoedukasi
-
TritmenTarget perilakuRancangan pertemuan
Psikoedukasi ibu klien- Ibu klien dapat memahami gangguan yang dialami anaknya
- Ibu klien memahami pola asuh yang diberikan dan perkembangan yang sudah dialami oleh anaknya.
- Ibu klien memiliki pandangan masa depan secara optimis.
1 kali Pertemuan
Psikoedukasii Subyek- Subyek dapat memahami gangguan perilaku yang dialaminya.
- Subyek dapat mengembangkan dirinya lebih baik.
- Subyek memiliki pandangan masa depan secara optimis.
1 kali Pertemuan
- Tata ruang
- Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
- Satu set kursi tamu
- Klien dan terapis dalam posisi berhadapan
- Media
- Alat tulis, meja, kursi
- Materi
Dalam
psikoedukasi, orang tua dan
Subyek diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengungkapkan
perasaannya, apa yang dipikirkan mengenai masalah yang bersumber
stresor utama orang tua dan anak. Dengan
demikian diharapkan orang tua merasakan
kelegaan dan kecemasan terhadap masalah yang dihadapinya akan
berkurang. Terapis membantu orang tua dan
Subyek untuk melihat proporsi masalah yang sebenarnya.
Kemudian terapis mengajarkan kepada orang tua
bagaimana strategi koping yang dapat diterapkan.
- Prosedur
- Terapis membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan orang tua dan AN dengan cara melakukan pembicaraan ringan seputar kabar orang tua dan kesibukan Subyek selama beberapa hari terakhir agar orang tua merasa nyaman.
- Orang tua diedukasi mengenai gangguan yang dialami oleh anaknya dan Subyek diberikan pemahaman mengenai permasalahan yang sedang dihadapinya.
- Orang tua diberi pemahaman untuk dapat menerapkan pola asuh yang sesuai dengan keadaan anak.
- Orang tua diberi pemahaman mengenai tingkat kognitif anaknya yang rendah sehingga dapat memberikan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan anaknya.
- Metode
- Ceramah dan sharing
- Waktu : ± 90 menit
DAFTAR
PUSTAKA
Stuart.
G.W and Laraia. (2001). Principle and practice of psychiatric
nursing.7thed. St Louis: Mosby Year Book.
Soep.
(2009). Pengaruh intervensi psikoedukasi dalam mengatasi depresi
postpartum di RSU Dr. Pringadi Medan. Tesis (tidak diterbitkan).
Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Wardaningsih,
S. (2007). Pengaruh psikoedukasi pada kemampuan keluarga dalam
merawat pasien dengan halusinasi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Tesis (Tidak diterbitkan). Jakarta: Universitas Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda