Minggu, 04 Januari 2015

MODUL Psikoedukasi orang tua pada anak dengan Problems with primary support group


Hai semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan modul terapi psikologi, yaitu:

MODUL
Psikoedukasi orang tua pada anak dengan Problems with primary support group


  1. Pendahuluan
Sebagai orang tua seharusnya dapat membantu dan mendukung terhadap segala usaha yang dilakukan oleh anaknya serta dapat memberikan pendidikan informal guna membantu pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut serta untuk mengikuti atau melanjutkan pendidikan pada program pendidikan formal di sekolah.
Bentuk dan isi serta cara-cara pendidikan di dalam keluarga akan selalu mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan watak, budi pekerti dan kepribadian tiap-tiap manusia. Pendidikan yang diterima dalam keluarga inilah yang akan di contoh oleh anak sebagai dasar yang digunakan untuk mengikuti pendidikan selanjutnya disekolah. Pada dasarnya dukungan orang tua terhadap pendidikan anaknya menyangkut empat hal pokok yaitu 1) dukungan sosial ekonomi, 2) mental/ agama, 3) moral, dan 4) pendidikan.
Mengingat tanggung jawab pendidikan anak ditanggung oleh keluarga dalam pendidikan informalnya dan ditanggung oleh sekolah dalam pendidikan formal, maka orang tua harus berperan dalam menanamkan sikap dan nilai hidup, pengembangan bakat dan minat serta pembinaan bakat dan kepribadian. Selain itu, orang tua juga harus memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya serta harus dapat menunjukkan kerja samanya dalam mengarahkan cara anak belajar di rumah, membuat pekerjaan rumahnya, tidak menyita waktu anak dengan  mengerjakan pekerjaan rumah tangga, orang tua harus berusaha memotivasi dan membimbing anak dalam belajar. Dengan memberikan perhatian pada semua hal yang berkaitan dengan anak, orang tua dapat menanggulangi segala permasalahan yang dihadapi oleh anaknya. Hal ini menunjukkan pentingnya pengetahuan orang tua akan perkembangan dan sebab akibat dari permasalah anak.
Penelitian Family Psyhcoeducation (psikoedukasi keluarga) oleh Wardaningsih (2007) mengemukakan bahwa terdapat pengaruh Family psikoedukasi terhadap beban dan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan halusinasi. Psikoedukasi keluarga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga serta menurunkan beban subjektif keluarga. Penelitian Soep (2009) menyatakan bahwa ada perbedaan tingkat perbedaan depresi postpartum pada ibu yang mendapatkan intervensi psikoedukasi dan yang tidak mendapatkan intervensi psikoedukasi. Berdasarkan kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa psikoedukasi keluarga sangat dibutuhkan dan berrpengaruh terhadap keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa maupun masalah psikososial.




  1. Pengertian
Psikoedukasi merupakan salah satu bentuk dari intervensi, baik untuk keluarga maupun klien yang merupakan bagian dari terapi psikososial. Tujuan dari program psikoedukasi adalah menambah pengetahuan tentang permasalahan yang sedang dihadapi oleh klien dan meningkatan fungsinya dalam lingkungannya. Tujuan ini akan dicapai melalui serangkaian kegiatan edukasi tentang gangguan, cara mengatasi gejala, dan kemampuan yang dimiliki keluarga (Stuart & Laraia, 2001).
Stuart & Laraia (2001) menjelaskan bahwa secara umum, program komprehensif dari psikoedukasi adalah sebagai berikut:
a. Komponen didaktik, berupa pendidikan kesehatan, yang menyediakan informasi tentang penyakit dan sistem kesehatan jiwa.
b. Komponen ketrampilan, yang menyediakan pelatihan tentang komunikasi, penyelesaian konflik, pemecahan masalah, asertif, manajemen perilaku dan manajemen stres.
c. Komponen emosional, memberi kesempatan ventilasi dan berbagi perasaan disertai dukungan emosional. Mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan, khusus pada keadaan krisis.
d. Komponen sosial, peningkatan penggunaan jejaring formal dan non formal. Peningkatan kontak dengan jejaring sumber daya dan sistem pendukung yang ada di masyarakat akan menguntungkan keluarga dan klien.
Hal-hal yang dilakukan pada saat melakukan psikoedukasi keluarga antara lain:
Mengidentifikasi bagaimana reaksi anggota keluarga terhadap keadaan klien.
Mengidentifikasi faktor penyebab gangguan yang dialami. .
Mengidentifikasi tanda dan gejala prodormal gangguan pada klien.
Mengajarkan kepada keluarga bagaimana strategi koping yang dapat diterapkan.
Melakukan pemecahan masalah secara terstruktur.


  1. Tujuan intervensi
Pada akhir kegiatan diharapkan orang tua dan AN dapat memahami permasalahan yang sedang dihadapi dan mampu menyelesaikan permasalahannya dengan baik


  1. Target perilaku Psikoedukasi :
  • Orang tua dapat memahami permasalahan yang dialami anaknya
  • Orang tua dapat memahami bahwa gejala gangguan yang dikeluhkan disebabkan karena adanya fase perkembangan klien yang tidak sesuai dengan perkembangan secara umum dimana ada masa anak tidak bersama dengan kedua orang tuanya sehingga berpengaruh pada perkembangan penyesuaian dirinya.
  • Orang tua dapat memberikan pendidikan dan keterampilan yang sesuai dengan kondisi subyek.
  • Orang tua dapat membentuk pola asuh yang sesuai dengan kondisi anak.
  • Orang tua dapat memiliki pandangan masa depan secara optimis untuk anaknya.
  • AN dapat memahami permasalahannya saat ini.
  • AN dapat mengembangkan pendidikan dan keterampilannya dengan lebih baik.
  • AN dapat memiliki pandangan masa depan secara optimis untuk dirinya.




  1. Rancangan intervensi


Tabel Rancangan Intervensi Psikoedukasi
Tritmen
Target perilaku
Rancangan pertemuan

Psikoedukasi ibu klien
  • Ibu klien dapat memahami gangguan yang dialami anaknya
  • Ibu klien memahami pola asuh yang diberikan dan perkembangan yang sudah dialami oleh anaknya.
  • Ibu klien memiliki pandangan masa depan secara optimis.
1 kali Pertemuan

Psikoedukasii Subyek
  • Subyek dapat memahami gangguan perilaku yang dialaminya.
  • Subyek dapat mengembangkan dirinya lebih baik.
  • Subyek memiliki pandangan masa depan secara optimis.
1 kali Pertemuan


  1. Tata ruang
  • Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
  • Satu set kursi tamu
  • Klien dan terapis dalam posisi berhadapan
  1. Media
  • Alat tulis, meja, kursi
  1. Materi
Dalam psikoedukasi, orang tua dan Subyek diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengungkapkan perasaannya, apa yang dipikirkan mengenai masalah yang bersumber stresor utama orang tua dan anak. Dengan demikian diharapkan orang tua merasakan kelegaan dan kecemasan terhadap masalah yang dihadapinya akan berkurang. Terapis membantu orang tua dan Subyek untuk melihat proporsi masalah yang sebenarnya. Kemudian terapis mengajarkan kepada orang tua bagaimana strategi koping yang dapat diterapkan.
  1. Prosedur
  • Terapis membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan orang tua dan AN dengan cara melakukan pembicaraan ringan seputar kabar orang tua dan kesibukan Subyek selama beberapa hari terakhir agar orang tua merasa nyaman.
  • Orang tua diedukasi mengenai gangguan yang dialami oleh anaknya dan Subyek diberikan pemahaman mengenai permasalahan yang sedang dihadapinya.
  • Orang tua diberi pemahaman untuk dapat menerapkan pola asuh yang sesuai dengan keadaan anak.
  • Orang tua diberi pemahaman mengenai tingkat kognitif anaknya yang rendah sehingga dapat memberikan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan anaknya.


  1. Metode
  • Ceramah dan sharing
  1. Waktu : ± 90 menit


DAFTAR PUSTAKA

Stuart. G.W and Laraia. (2001). Principle and practice of psychiatric nursing.7thed. St Louis: Mosby Year Book.

Soep. (2009). Pengaruh intervensi psikoedukasi dalam mengatasi depresi postpartum di RSU Dr. Pringadi Medan. Tesis (tidak diterbitkan). Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Wardaningsih, S. (2007). Pengaruh psikoedukasi pada kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tesis (Tidak diterbitkan). Jakarta: Universitas Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda