Rabu, 14 Januari 2015

MODUL PSIKOEDUKASI PADA PENDERITA EPISODE DEPRESIF


Hai semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan modul terapi psikologi, yaitu:
MODUL
PSIKOEDUKASI PADA PENDERITA EPISODE DEPRESIF SEDANG DENGAN GEJALA SOMATIK

  1. Pendahuluan
Beck (dalam McDowell & Newel, 1996) mendefinisikan depresi sebagai keadaan abnormal organisme yang dimanifestasikan dengan tanda simptom- symptom seperti: menurunya mood subjektif, rasa pesimis dan sikap nihilistic, kehilangan kespontanan dan gejala vegetatif (seperti kehilangan berat badan dan gangguan tidur). Depresi juga merupakan kompleks gangguan yang meliputi gangguan afeksi, kognisi, motivasi dan komponen perilaku.
Menurut Hadi (2004), untuk menemukan penyebab depresi kadang menemui kesulitan karena ada sejumlah penyebab dan mungkin beberapa diantaranya bekerja pada saat yang sama. Namun dari sekian banyak penyebab depresi dapat disebabkan karena rasa kehilangan, reaksi terhadap stres, kondisi tubuh yang terlalu lelah atau capek, atau dapat disebabkan karena reaksi terhadap obat. Klien dapat diberikan pemahaman melalui psikoedukasi.
Penelitian Family Psyhcoeducation (psikoedukasi keluarga) oleh Wardaningsih (2007) mengemukakan bahwa terdapat pengaruh Family psikoedukasi terhadap beban dan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan halusinasi. Psikoedukasi keluarga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga serta menurunkan beban subjektif keluarga. Penelitian Soep (2009) menyatakan bahwa ada perbedaan tingkat perbedaan depresi postpartum pada ibu yang mendapatkan intervensi psikoedukasi dan yang tidak mendapatkan intervensi psikoedukasi. Berdasarkan kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa psikoedukasi keluarga sangat dibutuhkan dan berpengaruh bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan jiwa maupun masalah psikososial.

  1. Pengertian
Psikoedukasi merupakan salah satu bentuk dari intervensi, baik untuk keluarga maupun klien yang merupakan bagian dari terapi psikososial. Tujuan dari program psikoedukasi adalah menambah pengetahuan tentang gangguan jiwa sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kambuh dan meningkatkan fungsi keluarga. Tujuan ini akan dicapai melalui serangkaian kegiatan edukasi tentang penyakit, cara mengatasi gejala, dan kemampuan yang dimiliki keluarga (Stuart & Laraia, 2001).
Psikoedukasi atau sering disebut dengan personal and social education atau pendidikan pribadi dan sosial merupakan gerakan yang relatif baru namun penting di lingkungan psikologi konseling. Psikoedukasi juga merupakan terapi yang bertujuan untuk memberikan informasi terhadap keluarga dan masyarakat yang mengalami distress, memberikan pendidikan kepada mereka untuk meningkatkan keterampilan, meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotor, untuk dapat memahami dan meningkatkan koping akibat gangguan jiwa yang dapat mengakibatkan masalah pada keluarga dan masyarakat (Wijayanti, Wahyuningsih & Widiyanti, 2010).
Stuart & Laraia (2001) menjelaskan bahwa secara umum, program komprehensif dari psikoedukasi adalah sebagai berikut:
a. Komponen didaktik, berupa pendidikan kesehatan, yang menyediakan informasi tentang penyakit dan sistem kesehatan jiwa.
b. Komponen ketrampilan, yang menyediakan pelatihan tentang komunikasi, penyelesaian konflik, pemecahan masalah, asertif, manajemen perilaku dan manajemen stres.
c. Komponen emosional, memberi kesempatan ventilasi dan berbagi perasaan disertai dukungan emosional. Mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan, khusus pada keadaan krisis.
d. Komponen sosial, peningkatan penggunaan jejaring formal dan non formal. Peningkatan kontak dengan jejaring sumber daya dan sistem pendukung yang ada di masyarakat akan menguntungkan keluarga dan klien.
Hal-hal yang dilakukan pada saat melakukan psikoedukasi keluarga antara lain:
Mengidentifikasi bagaimana reaksi anggota keluarga terhadap keadaan pasien yang menderita gangguan jiwa.
Mengidentifikasi faktor penyebab gangguan jiwa yang diderita oleh pasien.
Mengidentifikasi tanda dan gejala prodormal gangguan jiwa yang terjadi pada pasien.
Mengajarkan kepada keluarga bagaimana strategi koping yang dapat diterapkan.
Menjelaskan kepada keluarga tentang psikobiologi gangguan jiwa, diagnosis dan pengobatannya, reaksi keluarga, trauma keluarga, pencegahan kambuh, guideline keluarga.
Melakukan pemecahan masalah secara terstruktur.

  1. Tujuan Intervensi
Pada akhir kegiatan diharapkan klien dapat mengurangi gangguan yang ia alami dan dapat mengendalikan perilakunya.

  1. Rancangan intervensi
Tabel Rancangan Intervensi Psikoedukasi
Tritmen
Tujuan
Target perilaku
Rancangan pertemuan
Psikoedukasi Klien
  • Memberikan pemahaman mengenai gangguan yang klien alami.
  • Memberikan informasi mengenai perkembangan anak sebagai upaya untuk membantu pemahaman subyek dan keluarga mengenai perkembangan anak. Hal ini diharapkan dapat meringankan pikiran negatif subyek yang menyebabkan klien depresi.
-Klien dapat memahami permasalahan yang sedang dihadapinya terutama gangguan perkembangan yang dialami anaknya.

-Klien dapat memahami bahwa gejala gangguan yang dideritanya disebabkan karena kecemasan yang ia alami dan dapat mempengaruhi perilakunya.

-Klien dapat mengenali dan mengekspresikan emosi secara tepat dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

-Klien dapat memiliki pandangan masa depan yang lebih optimis.
2 kali Pertemuan

  1. Tata ruang
  • Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
  • Satu set kursi tamu
  • Klien dan terapis dalam posisi berhadapan
  1. Media
  • Alat tulis, meja, kursi
  1. Materi
Dalam psikoedukasi, klien diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengungkapkan perasaannya, apa yang dipikirkan mengenai masalah yang bersumber stresor utama klien. Dengan demikian diharapkan klien merasakan kelegaan dan kecemasan terhadap masalah yang dihadapinya akan berkurang. Terapis membantu klien untuk melihat proporsi masalah yang sebenarnya. Kemudian terapis mengajarkan kepada klien bagaimana strategi koping yang dapat diterapkan dengan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh klien.
  1. Prosedur
  • Terapis membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan klien dengan cara melakukan pembincaraan ringan seputar kabar klien dan kesibukan klien selama beberapa hari terakhir agar klien merasa nyaman.
  • Klien diedukasi mengenai permasalahan yang sedang dihadapinya dan memberikan informasi mengenai gangguan perkembangan yang dialami oleh anaknya agar klien dapat mencari jalan keluar dari permasalahannya.
  • Terapis memberikan saran untuk dapat mempertimbangkan rekomendasi tetangga yang menyarankan anak pertama klien untuk dipindahkan ke sekolah yang memiliki guru pendamping atau memindahkan anak klien ke sekolah anak berkebutuhan khusus agar dapat penanganan khusus dari keterlambatan perkembangannya. Klien juga memahami permasalahan pada anak keduanya dan tetap memberikan terapi yang sesuai. Suami klien diharapkan dapat memberikan dukungan dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh klien.
  1. Metode
  • Ceramah dan sharing
  1. Waktu : ± 75 menit









DAFTAR PUSTAKA
Hadi, P. 2004. Depresi dan solusinya. Yogyakarta: Penerbit Tugu.

Mc. Dowel, I & Newell, C. (1996). Measuring health: A guide to rating scales and questionnaire (2nd ed). New York; Oxford University Press.

Stuart. G.W and Laraia. (2001). Principle and practice of psychiatric nursing (7th ed). St Louis: Mosby Year Book.

Wardaningsih, S. (2007). Pengaruh psikoedukasi pada kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tesis (Tidak diterbitkan). Jakarta: Universitas Indonesia.

Wiyati, R., Wahyuningsih, D., Widayati, E.D. (2010). Pengaruh Psikoedukasi Keluarga Terhadap Kemampuan Keluarga Dalam Merawat Klien Isolasi Sosial. Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal Of nursing), Volume 5, No.2. Prodi keperawatan Purwokerto, Poltekkes, Semarang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda