Hai
semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan
modul terapi psikologi, yaitu:
MODUL
PSIKOEDUKASI
PADA PENDERITA EPISODE
DEPRESIF SEDANG DENGAN GEJALA SOMATIK
- Pendahuluan
Beck
(dalam McDowell & Newel, 1996) mendefinisikan depresi sebagai
keadaan abnormal organisme yang dimanifestasikan dengan tanda
simptom- symptom seperti: menurunya mood subjektif, rasa pesimis dan
sikap nihilistic, kehilangan kespontanan dan gejala vegetatif
(seperti kehilangan berat badan dan gangguan tidur). Depresi juga
merupakan kompleks gangguan yang meliputi gangguan afeksi, kognisi,
motivasi dan komponen perilaku.
Menurut
Hadi (2004), untuk menemukan penyebab depresi kadang menemui
kesulitan karena ada sejumlah penyebab dan mungkin beberapa
diantaranya bekerja pada saat yang sama. Namun dari sekian banyak
penyebab depresi
dapat disebabkan karena rasa kehilangan, reaksi terhadap stres,
kondisi tubuh yang terlalu lelah atau capek, atau dapat disebabkan
karena reaksi terhadap obat. Klien dapat diberikan pemahaman melalui
psikoedukasi.
Penelitian Family
Psyhcoeducation (psikoedukasi
keluarga) oleh Wardaningsih (2007) mengemukakan bahwa terdapat
pengaruh Family psikoedukasi
terhadap beban dan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan
halusinasi. Psikoedukasi keluarga dapat meningkatkan kesejahteraan
keluarga serta menurunkan beban subjektif keluarga.
Penelitian Soep (2009) menyatakan bahwa ada perbedaan tingkat
perbedaan depresi postpartum pada ibu yang mendapatkan intervensi
psikoedukasi dan yang tidak mendapatkan intervensi psikoedukasi.
Berdasarkan kedua
penelitian tersebut menunjukkan bahwa psikoedukasi keluarga sangat
dibutuhkan dan berpengaruh bagi keluarga yang memiliki anggota
keluarga yang memiliki gangguan jiwa maupun masalah psikososial.
- Pengertian
Psikoedukasi
merupakan salah satu bentuk dari intervensi, baik untuk keluarga
maupun klien yang merupakan bagian dari terapi psikososial. Tujuan
dari program psikoedukasi adalah menambah pengetahuan tentang
gangguan jiwa sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kambuh dan
meningkatkan fungsi keluarga. Tujuan ini akan dicapai melalui
serangkaian kegiatan edukasi tentang penyakit, cara mengatasi gejala,
dan kemampuan yang dimiliki keluarga (Stuart & Laraia, 2001).
Psikoedukasi
atau sering disebut dengan personal and social education atau
pendidikan pribadi dan sosial merupakan gerakan yang relatif baru
namun penting di lingkungan psikologi konseling. Psikoedukasi juga
merupakan terapi yang bertujuan untuk memberikan informasi terhadap
keluarga dan masyarakat yang mengalami distress, memberikan
pendidikan kepada mereka untuk meningkatkan keterampilan,
meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotor, untuk dapat memahami
dan meningkatkan koping akibat gangguan jiwa yang dapat mengakibatkan
masalah pada keluarga dan masyarakat (Wijayanti, Wahyuningsih &
Widiyanti, 2010).
Stuart
& Laraia (2001)
menjelaskan bahwa secara umum, program komprehensif dari
psikoedukasi adalah sebagai berikut:
a.
Komponen didaktik, berupa pendidikan kesehatan, yang menyediakan
informasi tentang penyakit dan sistem kesehatan jiwa.
b.
Komponen ketrampilan, yang menyediakan pelatihan tentang komunikasi,
penyelesaian konflik, pemecahan masalah, asertif, manajemen perilaku
dan manajemen stres.
c.
Komponen emosional, memberi kesempatan ventilasi dan berbagi perasaan
disertai dukungan emosional. Mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan,
khusus pada keadaan krisis.
d.
Komponen sosial, peningkatan penggunaan jejaring formal dan non
formal. Peningkatan kontak dengan jejaring sumber daya dan sistem
pendukung yang ada di masyarakat akan menguntungkan keluarga dan
klien.
Hal-hal
yang dilakukan pada saat melakukan psikoedukasi keluarga antara lain:
•
Mengidentifikasi
bagaimana reaksi anggota keluarga terhadap keadaan pasien yang
menderita gangguan jiwa.
•
Mengidentifikasi
faktor penyebab gangguan jiwa yang diderita oleh pasien.
•
Mengidentifikasi
tanda dan gejala prodormal gangguan jiwa yang terjadi pada pasien.
•
Mengajarkan
kepada keluarga bagaimana strategi koping yang dapat diterapkan.
•
Menjelaskan
kepada keluarga tentang psikobiologi gangguan jiwa, diagnosis dan
pengobatannya, reaksi keluarga, trauma keluarga, pencegahan kambuh,
guideline keluarga.
•
Melakukan
pemecahan masalah secara terstruktur.
- Tujuan Intervensi
Pada
akhir kegiatan diharapkan klien dapat mengurangi gangguan yang ia
alami dan dapat mengendalikan perilakunya.
- Rancangan intervensi
Tabel
Rancangan Intervensi Psikoedukasi
-
TritmenTujuanTarget perilakuRancangan pertemuanPsikoedukasi Klien
- Memberikan pemahaman mengenai gangguan yang klien alami.
- Memberikan informasi mengenai perkembangan anak sebagai upaya untuk membantu pemahaman subyek dan keluarga mengenai perkembangan anak. Hal ini diharapkan dapat meringankan pikiran negatif subyek yang menyebabkan klien depresi.
-Klien dapat memahami permasalahan yang sedang dihadapinya terutama gangguan perkembangan yang dialami anaknya.
-Klien dapat memahami bahwa gejala gangguan yang dideritanya disebabkan karena kecemasan yang ia alami dan dapat mempengaruhi perilakunya.
-Klien dapat mengenali dan mengekspresikan emosi secara tepat dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
-Klien dapat memiliki pandangan masa depan yang lebih optimis.2 kali Pertemuan
- Tata ruang
- Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
- Satu set kursi tamu
- Klien dan terapis dalam posisi berhadapan
- Media
- Alat tulis, meja, kursi
- Materi
Dalam
psikoedukasi, klien diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk
mengungkapkan perasaannya, apa yang dipikirkan mengenai masalah yang
bersumber stresor utama klien. Dengan demikian diharapkan klien
merasakan kelegaan dan kecemasan terhadap masalah yang dihadapinya
akan berkurang. Terapis membantu klien untuk melihat proporsi masalah
yang sebenarnya. Kemudian terapis mengajarkan kepada klien bagaimana
strategi koping yang dapat diterapkan dengan
memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh klien.
- Prosedur
- Terapis membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan klien dengan cara melakukan pembincaraan ringan seputar kabar klien dan kesibukan klien selama beberapa hari terakhir agar klien merasa nyaman.
- Klien diedukasi mengenai permasalahan yang sedang dihadapinya dan memberikan informasi mengenai gangguan perkembangan yang dialami oleh anaknya agar klien dapat mencari jalan keluar dari permasalahannya.
- Terapis memberikan saran untuk dapat mempertimbangkan rekomendasi tetangga yang menyarankan anak pertama klien untuk dipindahkan ke sekolah yang memiliki guru pendamping atau memindahkan anak klien ke sekolah anak berkebutuhan khusus agar dapat penanganan khusus dari keterlambatan perkembangannya. Klien juga memahami permasalahan pada anak keduanya dan tetap memberikan terapi yang sesuai. Suami klien diharapkan dapat memberikan dukungan dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh klien.
- Metode
- Ceramah dan sharing
- Waktu : ± 75 menit
DAFTAR
PUSTAKA
Hadi,
P. 2004. Depresi
dan solusinya.
Yogyakarta: Penerbit Tugu.
Mc.
Dowel, I & Newell, C. (1996). Measuring
health:
A guide
to
rating
scales
and questionnaire
(2nd ed).
New York; Oxford University Press.
Stuart.
G.W and Laraia. (2001). Principle
and practice of psychiatric nursing
(7th
ed).
St Louis: Mosby Year Book.
Wardaningsih,
S. (2007). Pengaruh psikoedukasi pada kemampuan keluarga dalam
merawat pasien dengan halusinasi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Tesis (Tidak diterbitkan). Jakarta: Universitas Indonesia.
Wiyati,
R., Wahyuningsih, D., Widayati, E.D. (2010). Pengaruh Psikoedukasi
Keluarga Terhadap Kemampuan Keluarga Dalam Merawat Klien Isolasi
Sosial. Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal Of
nursing), Volume 5, No.2. Prodi keperawatan Purwokerto, Poltekkes,
Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda