Hai
semua... kali ini saya ingin memberikan contoh mengenai pembuatan
modul terapi psikologi, yaitu:
MODUL
Psikoedukasi
keluarga anak dengan Gangguan Desintegratif Masa Kanak
I.
Pendahuluan
Pada
kebanyakan anak, perkembangan fisik dan jiwa terjadi dengan cepat
namun ada juga anak yang mengalami kemunduran dalam perkembangannya.
Hal ini disebut sebagai gangguan masa disintegratif dimana terjadi
kekacauan serius yang langka pada seorang anak dengan usia lebih dari
3 tahun. Ciri anak dengan gangguan disintegratif masa kanak-kanak
berkembang secara normal sampai usia 3 atau 4 tahun, mempelajari
ketrampilan wicara, buang air dengan benar, dan memperlihatkan
prilaku sosial yangs sesuai. Pada tahap perkembangan berikutnya, anak
akan kehilangan kemampuan berbahasa yang diperoleh dulunya, gerakan,
atau ketrampilan sosial, dan anak mungkin tidak lagi mempunyai
kontrol pada kandung kemih atau usus besarnya. Selain itu, anak
mengalami kesukaran dengan interaksi sosial dan mulai melakukan
kelakuan berulang mirip yang terjadi pada anak dengan penyakit
autisme. Gangguan disintegratif masa kanak-kanak tidak bisa
diobati secara khusus atau disembuhkan, dan kebanyakan anak,
khususnya dengan keterbelakangan yang parah, memerlukan perawatan
seumur hidup.
Hampir
sebagian besar ayah-ibu seorang anak baru menyadari bahwa anaknya
mengalami kemunduran dalam perkembangan setelah datang berobat ke
dokter. Kesemuanya itu terjadi akibat kurangnya pengetahuan orang tua
dan kurang teliti pengamatan orang tua pada anaknya. Oleh karena itu
pentingnya memberikan pengetahuan dan pendidikan pada orang tua yang
memiliki anak dengan kemunduran perkembangan.
- Pengertian
Psikoedukasi
merupakan salah satu bentuk dari intervensi, baik untuk keluarga
maupun klien yang merupakan bagian dari terapi psikososial. Tujuan
dari program psikoedukasi adalah menambah pengetahuan mengenai
gangguan yang dialami, sehingga diharapkan
dapat menurunkan angka kambuh dan meningkatkan fungsi keluarga.
Tujuan ini akan dicapai melalui serangkaian kegiatan edukasi tentang
penyakit, cara mengatasi gejala, dan kemampuan yang dimiliki keluarga
(Stuart & Laraia, 2001).
Penelitian Family
Psyhcoeducation (psikoedukasi
keluarga) oleh Wardaningsih (2007) mengemukakan bahwa terdapat
pengaruh Family psikoedukasi
terhadap beban dan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan
halusinasi. Psikoedukasi keluarga dapat meningkatkan kesejahteraan
keluarga serta menurunkan beban subjektif keluarga.
Penelitian Rachmaniah (2012) menyatakan bahwa psikoedukasi memberikan
pengaruh terhadap kecemasan dan koping orang tua dalam merawat anak
dengan thalasemia mayor, dimana orang tua menjadi mampu beradaptasi
dan menyesuaikan dengan menerima keadaan dan mampu melakukan tindakan
yang tepat dalam menghadapi permasalahannya. Berdasarkan
kedua
penelitian tersebut menunjukkan bahwa psikoedukasi keluarga sangat
dibutuhkan dan berrpengaruh terhadap
keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan
gangguan perkembangan,
gangguan jiwa
maupun masalah psikososial.
- RANCANGAN INTERVENSI
- Tujuan psikoedukasi
Psikoedukasi
diharapkan dapat membantu orang tua untuk lebih memahami mengenai
perkembangan anaknya dan dapat memberikan penanganan yang tepat.
- Tata ruang
- Sebuah ruangan dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup
- Satu set kursi tamu
- Klien dan terapis dalam posisi berhadapan
- Media
- Alat tulis, meja, kursi
- Materi
Dalam
psikoedukasi, klien diberikan informasi mengenai
gangguan yang dialami anaknya dan terapi yang dapat diberikan.
- Prosedur
- Terapis membuka sesi pertemuan dengan membangun rapport yang baik dengan klien dengan cara melakukan pembincaraan ringan seputar kabar klien dan kesibukan klien selama beberapa hari terakhir agar klien merasa nyaman.
- Terapis kemudian bertanya mengenai perkembangan anak klien
- Terapis melanjutkan dengan memberikan informasi mengenai gangguan yang dialami anak klien
- Metode
- Ceramah
- Waktu : ± 90 menit
- Rancangan Intervensi Psikoedukasi
Tabel
Rancangan Intervensi Psikoedukasi
-
TritmenTujuanTarget perilakuRancangan pertemuanPsikoedukasi keluargaAgar orang tua untuk lebih memahami mengenai perkembangan anaknya dan dapat memberikan penanganan yang tepat.
- Klien dapat memahami gangguan yang dialami anaknya
- Klien dapat memahami perkembangan anaknya
- Klien dapat memberikan terapi yang tepat pada anaknya
1 kali Pertemuan
DAFTAR
PUSTAKA
Stuart.
G.W and Laraia. (2001). Principle and practice of psychiatric
nursing.7thed. St Louis: Mosby Year Book.
Rachmaniah,
Dini. (2012). Pengaruh psikoedukasi terhadap kecemasan dan koping
orang tua dalam merawat anak dengan thalasemia mayor di RSU Kabupaten
Tanggerang Banten. Tesis (tidak diterbitkan). Jakarta:
Universitas Indonesia.
Wardaningsih,
S. (2007). Pengaruh psikoedukasi pada kemampuan keluarga dalam
merawat pasien dengan halusinasi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Tesis (Tidak diterbitkan). Jakarta: Universitas Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda